top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

8 Juni 2011

Optimalisasi Ibadah

Belakangan ini teori al-Qur’ân tentang fitrah beragama – walaupun tidak berangkat dari isyarat al-Qur’ân- diyakini oleh ilmuan melalui penelitainnya. Carl Gustav Jung seoarang ahli Psikologi, misalnya, mengatakan bahwa agama termasuk dalam hal-hal yang sudah ada di alam bawah sadar secara fitri dan alami. Ia merupakan perasaan yang lahir secara internal dan kemudian berkembang melalui foktor-faktor eksternal. William Jemes seorang filosof Amerika dan ahli psikologi, mengemukakan naluri material menghubungkan manusia dengan alam material, demikian juga dengan naluri spritual menghubungkan manusia dengan alam lainnya. Artinya, adanya keinginan untuk beragama merupakan dorongan dari alam spiritual. Enstein juga berpendapat bahwa banyak faktor yang membuat manusia beragama, manusia pada kondisi memperhatikan alam lingkungannya yang serba terbatas akan berupaya melepaskan wujud yang terbatas ini dan mencari wujud tidak terbatas.[2] M. Quraish Shihab berkesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, mambawa potensi agama yang lurus. Fitrah ini akan melekat pada diri manusia untuk selama-lamanya, walaupun tidak diakui atau diabaikannya.[3] Firman Allah:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”(QS. al-A’râf/7: 172)

Sejarah membuktikan bahwa adanya mitologi-mitologi yang berkembang di tengah masyarakat adalah bukti nyata bahwa manusia diciptakan memiliki sifat dasar untuk mengetahui suatu kekuatan yang menguasai diri dan hidupnya. Inplementasi naluri beragama tersebut membuat manusia agresif untuk mencari wujud yang Maha Tinggi dan mencari format untuk memujanya serta mengembangkannya dalam berbagai ritual yang sakral. Artinya tidak motivasipun manusia telah percaya kepada Tuhan dan berkeinginan untuk menyembah-Nya.

Kepercayaan dalam bentuk mitos-mitos berkembang dengan beragam, demikian juga dengan ritual-ritualnya. Hal ini disebabkan oleh berbedanya kondisi alam lingkungan di mana manusia berada dan perjalanan waktu yang mengitarinya, walaupun demikian pangkal tolaknya sama, yaitu naluri beragama.[4] Karena manusia memiliki kemampuan akal, naluri ini tidak bersifat statis, ia senantiasa berkembang sehingga membentuk sistem kepercayaan yang untuh.

Dengan akal dan kreativitasnya, manusia berupaya untuk menemukan fungsi dan tata nilai yang dapat dijadikan sistem kehidupan sehingga ia tidak sebatas dipercayai dan disembah namun juga diharapkan dapat memberikan fungsi normatif sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Hal ini disebabkan oleh manusia sangat mendambakan keadilan dan keteraturan sehingga untuk memperolah itu semua dibutuhkan perangkat normatif dalam format agama.

Perlu disadari bahwa keterbatasan akal dan kemampuan manusia telah menjadikan manusia sulit menemukan hakikat yang Maha Tinggi itu sehingga temuan manusia tidak tertuju pada satu titik, yakni zat Yang Maha Esa.[5] Inilah tujuan diutusnya rasul dan diturunkannya wahyu untuk menjelaskan bahwa kekuatan yang maha tinggi yang mengusai hidup manusia itu ialah Allah dan Dialah yang berhak untuk disembah. Firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiyâ’/21:25)

Tuhan adalah Pencipta semua wujud, baik yang lahir maupun batin, Dialah Yang Maha Tinggi yang mengusai hidup dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, pemurnian dari segala kepercayaan yang tidak dilandasi oleh wahyu harus dilakukan setiap manusia guna menyempurnakan fitrah beragama tersebut. Demikian juga dengan ibadah, ia harus ditujukan hanya kepada Allah SWT. Dapat dikatakan bahwa zat yang menguasai manusia itu tidak hanya sebatas menjadikan fitrah beragama, namun juga telah memberikan pedoman untuk siapa dan bagaimana fitrah itu diinterpretasikan dan dipersembahkan. Tinggal bagaimana manusia mau menerima dan meyakini hal tersebut sebagai kebenaran yang hakiki.

Sebenarnya manusia tidak bisa berlepas dari totalitas penghambaannya kepada Allah, dalam kata lain lari dari fitrah beragama. Sebab, sikap demikian merupakan tindakan melawan fitrah dirinya sendiri. Orang-orang kafir apabila ditanya: “siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi?” ia akan menjawab: ” Allah.” Firman Allah:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Artinya: Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka menjawab:”Allah” (QS. Al-Zumar/39: 8)

Al-Qur’ân memberikan gambaran bahwa sebenarnya jawaban itu lahir dari naluri bawah sadar dan bukti nyata bahwa tidak ada kekuatan yang mampu menciptakan itu semua kecuali Yang Maha Kuasa. Jawaban yang menciptakan alam semesta adalah “Allah SWT” diungkapkan oleh orang-orang yang justeru tidak mengakui uluhiyah-nya Allah. Pengakuan terhadap rububiyah Allah dalam sajian ayat di atas, menggambarkan bahwa adanya suatu kekuatan dan kekuasaan yang tidak bisa ditandingi oleh manusia sehingga secara spontan manusia akan mengakui keberadaan Allah sebagai Pencipta alam semesta ini.

Manusia sulit membayangkan panjang, lebar, atau bahkan luas alam. Para ilmuan memperkirakan luasnya dengan ukuran jutaan tahun perjalanan cahaya. Sementara ilmuan lain menyatakan bahwa paling jauh yang diketahui manusia adalah 15 biliun tahun cahaya (satu tahun cahaya sama dengan 10 triliun Km). Pada jarak itu ditemukan super gugus galaksi yang tidak sedikit jumlahnya. Di luar jarak itu, belum dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia sehingga jumlahnya pun sulit dibayangkan. Dari jumlahnya yang banyak tersebut, bumi yang dihuni manusia adalah bagiannya sehingga bumi yang sudah dipandang luas oleh penglihatan mata manusia amat halus dan kardil adanya.[6] Lalu siapakah yang telah menciptakan ini semua? Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini kecuali Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Walaupun manusia tahu pasti bahwa Allah-lah yang menciptakan itu semua, namun belum cukup untuk menyempurnakan fitrah beragama sebab manusia harus melakukan pengabdian dan penghambaan yang murni hanya kepada-Nya. Pengabdian dan penghambaan kepada Allah dalam bentuk ibadah, tidak saja merupakan wujud pembuktian keimanan, namun juga merupakan media pendekatan diri kepada Tuhan (taqarrub).[7] Dengan adanya hubungan yang dekat dengan Allah akan melahirkan kesadaran yang tinggi bahwa Allah adalah tujuan hidup manusia sebab hanya kepada Allah-lah semua urusan dikembalikan: kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah semua urusan dikembalikan.[8]

Untuk mewujudkan hubangan baik dengan sesama manusia, amat penting mengadakan pendekatan persuasif dalam bentuk komunikasi. Demikian juga hubungan dengan Allah, ibadah merupakan media komunikasi langsung tanpa batas. Ketika Nabi Muhammad SAW di-mi’raj-kan ke hadapan Allah, terjadi dialog interaktif. Dalam dialog tersebut – tertuang dalam bacaan tahyat tatkala shalat, Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan kebarkatan kepada Nabi. Kebahagiaan apa yang lebih dari daftar pemberian langsung Allah di atas. Nabi tidak egois, ia masih ingat akan umatnya. Umatnya mesti memperoleh apa yang diperolehnya. Kiranya tidak mungkin umat Muhammad melakukan mi’râj, oleh sebab itu Allah memberikan media dalam bentuk shalat, agar umat Muhammad dapat menjalin komunikasi langsung dengan Allah melalui media itu dan memperoleh daftar kebahagiaan seperti yang diberikan-Nya kepada Nabi Muhammad.

Seorang hamba ketika sedang melakukan shalat hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk yang sedang menghadap Khaliknya, dengan penuh harapan dan kekhusyukan. Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu sedemikian rupa sehingga ia “seolah-olah melihat Khaliknya”; dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa “Khaliknya melihat dia”.[9]

Bahwa shalat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha Hadiran-Nya. Ingat kepada Allah yang dapat berarti kelestarian hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa “Sesungguhnya manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.

Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup tentu akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga ia kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh keridhaan. Oleh karena manusia mengetahui, baik secara naluri maupun logika, bahwa Allah tidak akan memberi ridha-Nya kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup menuju Allah ialah yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani, yang merupakan pusat rasa kesucian dan sumber dorongan suci manusia menuju kebahagiaan.

Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya baik namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya dengan hidup sehari-hari. Sering kebenaran itu tak nampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu yang subyektif dan egois sebagai akibat dikte dan penguasaan oleh motif-motif negatif. Karena itu dalam usaha mencari dan menemukan kebahagiaan sejati diperlukan ketulusan hati dan keikhlasannya, yaitu sikap batin yang murni, yang sanggup melepaskan diri dari kecenderungan hawa nafsu.

Sebagai kewajiban pada hampir setiap saat, shalat juga mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai proses tanpa henti. Oleh karena itu ia terkait erat dengan gerak dan dinamika. Maka dalam sistem ajaran Islam, manusia didorong untuk selalu bergerak secara dinamis. Ibadah dilaksanakan dengan dinamis, bila hari ini khusyu’, maka esok harus lebih khusyu’, sebab orang yang hari kemarennya sema dengan hari ini, adalah orang yang rugi.

Semua bentuk ibadah yang disyariatkan Islam mengandung prinsip yang satu yakni menjalin hubungan yang baik dengan Allah, atau dalam istilah sufi disebut dengan muqârabah. Oleh sebab itu, ia mesti dilakukan secara optimal, sebab jika tidak meka amat sulit mencapai jalan menuju kedekatan dengan Allah dan kebahagiaan sempurna.

Jadi, untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, manusia harus senantiasa beribadah secara optimal hanya untuk Allah SWT. sebab ibadah merupakan jalan untuk memperoleh ridha-Nya, dan dengan ridhanyalah kebahagiaan itu dapat dirangkul dengan sempurna. (FAIZIN)

[1]Secara etimologi kata fithrah terambil dari kata al-fathr yang berarti belahan, dari makna ini lahir makna lain, seperti penciptaan atau kejadian. Ibn Abbâs memahami kata ini dengan “saya yang membuatnya pertama kali (sumur). Dari sini Ibn Abbâs memahami kata ini digunakan untuk penciptaan atau kejadian sejak awal. Bila pengertian ini dihubungkan dengan penciptaan manusia maka ia diartikan dengan kejadian sejak semula atau kejadian sejak awal tanpa ada contoh sebelumnya. Kata ini di dalam al-Qur’ân terulang 28 kali; 14 dalam konteks bumi dan atau langit; sisanya dalam konteks penciptaan manusia, baik dari segi pengakuan manusia bahwa Pencipta adalah Allah, maupun dari segi uraian penciptaan manusia. Lihat: M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’ân, op. cit., h. 283-284 lihat juga: Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan al-Qur’ân, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), h. 82

[2]Lihat: Murtadha Muthahhari, Perspektif al-Qur’ân tentang Manusia dan Agama, diterjemahkan dari karya-karya Murtadha Muthahhari terbitan Free Islamic Literatures, (Bandung: Mizan, 1997), Cet. Ke-9, h. 49-50

[3]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’ân, h. 284

[4]Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan ,( Jakarta, Paramadina, 2000), Cet. Ke-4, h. xxii

[5]Murtadha Muthahhari menyebutkan bahwa salah satu faktor penyebab lahirnya agama manusia ialah kebodohan sebab manusia, sesuai dengan wataknya, cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum yang terjadi di alam ini, karena tidak berhasil mengenalnya, ia selalu menisbatkan hal itu suatu yang bersifat metavisi yang diyakini mempunyai kekuatan. Lihat: Murtadha Muthahhari, op. cit.

[6]M. Quraish Shihab, Dia di Mana-mana; “Tangan” Tuhan Dibalik setiap Fenomena, (Jakarta: Lentera Hati, 2004), h. 19

[7]Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, h. 61

[8]QS. Ali ‘Imrân/3: 109

[9]Lihat Hadis: Abi al-Hasan Muslim al-Hajjâj al-Qusairiy Al-Naisâbûriy, Shahîh Muslim, (al-Qâhirah: Dâr Ibn al-Haitsam, 2001), terbitan satu jilid, h. 15

0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer