top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

4 Juni 2011

Konsep Andragogi Dalam Al-Qur’an

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Secara historis, Sir Eric Ashby menilai bahwa dunia pendidikan mengalami setidaknya 4 kali Revolusi Pendidikan, yaitu: 1) Profesi Guru (revolusi dari pendidikan di rumah menuju pendidikan di sekolah); 2) Penggunaan Bahasa Tulis dalam Pembelajaran (melengkapi bahasa lisan); 3) Penemuan Mesin Cetak oleh Gutenberg (berimplikasi pada munculnya buku-buku yang merupakan media utama pendidikan, di samping guru); 4) Perkembangan di bidang elektronik, terutama media komunikasi (radio, televisi, komputer, dsb.).
Backgroud dari masing-masing revolusi adalah: Revolusi ke-1 terjadi karena orang tua atau keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri. Revolusi ke-2 terjadi karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara lebih cepat. Revolusi ke-3 terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi, sementara itu kemampuannya makin terbatas, sehingga perlu menggunakan pengetahuan yang telah diramukan orang lain. Revolusi ke-4 terjadi karena mustahil bagi guru untuk memberikan semua ajaran (ilmu pengetahuan) yang diperlukan, dan karena itu yang lebih penting adalah mengajar anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran (ilmu pengetahuan) selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui berbagai sumber dan saluran.


Berdasarkan historical stage di atas, berarti dunia pendidikan sedang pada fase revolusi ke-4. Implikasi besar dari revolusi ke-4 adalah pentingnya pendidikan yang berorientasi pada learning how to learn dan lifelong education. Dengan kata lain, secara kualitas, pendidikan diarahkan pada pendidikan berbasis belajar mandiri; dan secara kuantitas, pendidikan diarahkan pada Pendidikan Sepanjang Usia (PSU) yang mengandaikan pembelajaran yang bersifat terus-menerus (anytime and anywhere).
Learning how to learn dan lifelong education merupakan paradigma baru pendidikan kontemporer. UNESCO telah menyatakan bahwa ada 4 pilar utama pendidikan (the four pillars of education) masa kini, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Demikian halnya dengan longlife education yang muncul sebagai gerakan konseptual yang bersifat massal mulai tahun 70-an dengan munculnya laporan Komisi Internasional tentang perkembangan pendidikan yang dipimpin oleh Edgar Faure yang berjudul "Learning To Be, The World of Education, Today and Tomorrow", yang diterbitkan UNESCO pada tahun 1972. Dalam laporan tersebut diajukan 6 buah rekomendasi untuk mengantisipasi dunia pendidikan di masa depan yang salah satu rekomendasinya adalah konsep pendidikan seumur hidup (lifelong education) bagi warga masyarakat untuk menuju ke suatu masyarakat gemar belajar (learning society) dapat diterima sebagai master konsep dalam pembaruan pendidikan di masa mendatang.
Implikasi berikutnya dari paradigma baru pendidikan yang terpapar di atas adalah hilangnya sekat-sekat yang selama ini membatasi seseorang untuk memperoleh pendidikan. Dari sisi tempat, lingkungan pendidikan tidak hanya terbatas pada gedung-gedung pendidikan formal maupun non-formal, melainkan meluas lagi pada lingkungan masyarakat. Dari sisi waktu, kesempatan meraih pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia. Hanya saja, konsep learning how to learn dan lifelong education ini dapat terealisasi secara optimal, jika diarahkan pada pendidikan orang dewasa yang dikenal dengan istilah andragogi.
Beberapa argumentasi yang dapat peneliti ajukan adalah: 1) kedewasaan dari sisi biologi dan psikologis orang dewasa berimplikasi pada kemandirian dan kemampuannya untuk self-directed learning, sehingga mempermudah mereka untuk menjalani learning how to learn; 2) kedewasaan dari sisi hukum dan sosial berimplikasi pada tanggung-jawab terhadap peranan sosial yang diemban di masyarakat, sehingga menuntut mereka untuk terus-menerus belajar, terutama demi kepentingan menyelesaikan problematika (problem solving) yang dihadapi sepanjang waktu. Maka dari itu, belajar bagi orang dewasa merupakan ongoing process atau proses yang bersifat terus-menerus, sehingga selaras dengan konsep lifelong education.
Argumentasi peneliti di atas semakin mendapatkan pijakan yang kuat, jika dikaitkan dengan definisi pendidikan orang dewasa (andragogi) yang diajukan oleh UNESCO berikut ini:
”Keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apapun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat, mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahu-annya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap, perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi dan budaya, yang seimbang dan bebas”.
Andragogi sendiri telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang untuk menjadi sebuah teori pendidikan. Pemikiran-pemikiran yang lebih fokus dari sisi konsep, teori, filsafat maupun tahapan implementasi (metodologi) dimulai pada tahun 1950 ketika Malcolm Knowles menyusun buku ”Informal Adult Education” yang menyatakan bahwa inti pendidikan orang dewasa (andragogi) berbeda dengan pendidikan anak-anak (pedagogi). Inilah kata kunci yang dapat ditarik dari Malcolm Knowles, yaitu adanya perbedaan antara pendidikan anak-anak dengan pendidikan orang dewasa.
Beberapa perbedaan antara karakteristik andragogi dan pedagogi dapat dilihat pada tabel kreasi Knowles di bawah ini:
Assumptions
Pedagogy Andragogy
Konsep diri
(self-concept) Bergantung (pada orang lain) Meningkatkan self-directiveness
Pengalaman
(experience) Sedikit bekal (of little worth) Para pembelajar adalah sumber belajar yang kaya
Kesiapan
(readiness) Perkembangan biologis dan tekanan sosial Pengembangan tugas-tugas peran sosial
Time-perspective Penerapannya ditunda (postponed application) Segera diterapkan (immediacy of application)
Orientasi belajar Mata pelajaran
(Subject centered) Problem centered

Design Elements
Pedagogy Andragogy
Suasana
(climate) Authority oriented, formal, competitive Mutuality, respectful, collaborative, informal
Perencanaan
(planning) Oleh guru (by teacher) Mekanisme perencanaan bersama (mutual planning)
Formulasi sasaran
(objectives) Oleh guru (by teacher) Mutual self-diagnosis
Desain
(design) Logic of the subject matter; content units Sesuai dengan urutan kesiapan (sequenced in terms of readiness); problem units
Aktivitas
(activities) Teknik transmisi (transmittal techniques) Teknik eksperimen (inquiry)
Evaluasi
(evaluation) Oleh guru (by teacher) Mutual re-diagnonis of needs; penilaian bersama terhadap program (mutual measurement of program)

Jadi, dapat disepakati bahwa pendidikan anak-anak (pedagogi) berbeda dengan pendidikan orang dewasa (andragogi), sehingga konsekuensinya adalah orang dewasa seharusnya dididik melalui model pendidikan andragogi yang memang sesuai dengan karakteristik mereka.
Dalam praktik pendidikan Islam, sering kali para pembelajar dewasa (adult learners) dididik dengan pendidikan pedagogi atau pendidikan anak-anak. Misalnya: pada domain kognitif, materi pembelajaran lebih banyak diarahkan pada kemampuan hafalan, pemahaman dan aplikasi saja, namun jarang diajarkan hingga level kemampuan analisis, sintesis, apalagi evaluasi. Oleh karena itu, tidak sedikit siswa-siswi tingkat SMA maupun para mahasiswa yang belum memiliki kemampuan kognitif pada level analisis, sintesis maupun evaluasi. Padahal, mahasiswa di perguruan tinggi seyogyanya mulai berbicara pada tingkat wawasan yang bertujuan pada peningkatan penalaran yang analitis, komparatif, dan bila perlu, melahirkan keputusan-keputusan baru yang bersifat perspektif bagi tindakan kaum muslimin masa kini.
Sedangkan dalam konteks teori pendidikan Islam, sepanjang pengetahuan peneliti, belum ada suatu teori andragogi yang diderivasi dari perspektif Islam, terutama al-Qur’a>n dan al-Sunnah. Selama ini, yang muncul adalah teori-teori pendidikan anak dalam Islam yang kemudian diterapkan pada pendidikan segala usia dengan prinsip generalisir. Contohnya adalah teori pendidikan anak versi ‘Abd Allah Nas}ih ‘Ulwa>n dalam Tarbiyah al-Awla>d fi al-Isla>m dan Muh}ammad Sa‘i>d Mursi dalam Fann Tarbiyah al-Awla>d fi al-Isla>m. Dari sinilah, muncul ketertarikan peneliti untuk memberikan contribution to knowledge berupa upaya memformulasi konsep andragogi dari al-Qur’a>n.
Dalam upaya memformulasi konsep andragogi dari al-Qur’a>n tersebut, peneliti membatasi diri pada satu Surat saja, yaitu Surat al-Kahfi. Landasan peneliti memilih Surat al-Kahfi adalah: 1) Surat al-Kahfi memuat term-term kunci yang memiliki relevansi dengan pendidikan, baik berupa belajar, pembelajaran atau pengajaran; dan juga memiliki relevansi dengan usia dewasa yang merupakan objek sasaran pendidikan andragogi; 2) Telaah terhadap kitab-kitab tafsir menunjukkan bahwa As}h}a>b al-Kahfi adalah sekelompok pemuda; sehingga relevan untuk dijadikan sebagai pijakan dalam menyusun konsep pendidikan andragogi; demikian juga dengan kisah tokoh-tokoh yang diceritakan di dalam Surat al-Kahfi, seperti Nabi Musa a.s. dan pelayannya, dua laki-laki pemilik kebun, Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. serta Dhu> al-Qarnayn.
Sebagai bukti bahwa dalam Surat al-Kahfi terdapat term-term kunci yang relevan dengan pendidikan maupun usia dewasa, berikut ini hasil telaah peneliti terkait term-term tersebut disertai dengan pengklasifikasian isi kandungan Surat al-Kahfi menjadi 4 kelompok, yaitu:
1. Kelompok I: Surat al-Kahfi: 1-26. Peneliti mendapati beberapa term yang relevan dengan pendidikan atau pembelajaran dan usia dewasa (andragogi): (عِلْمٍ، الْفِتْيَةُ، لِنَعْلَمَ، نَقُصُّ، وَتَرَى، فَلْيَنْظُرْ);
2. Kelompok II: Surat al-Kahfi: 27-59. Beberapa term yang relevan dengan topik kajian pada kelompok ini adalah: (وَاتْلُ، رَجُلَيْنِ، يُحَاوِرُهُ، وَيُجَادِلُ);
3. Kelompok III: Surat al-Kahfi: 60-82. Term-term yang relevan dengan bahasan andragogi, antara lain: (عَبْدًا، وَعَلَّمْنَاهُ، تُعَلِّمَنِ، خُبْرًا);
4. Kelompok IV: Surat al-Kahfi: 83-110. Di antara term pada kelompok ini yang relevan dengan andragogi: (وَيَسْأَلُونَكَ، قَوْمًا، نُنَبِّئُكُمْ، كَلِمَاتُ رَبِّي).
Masing-masing kelompok ayat di atas memiliki titik tekan sesuai dengan topik bahasan penelitian ini, yaitu pendidikan andragogi. Kelompok I bertema sentral As}h}a>b al-Kahfi; Kelompok II: Kisah dua orang pemilik kebun; Kelompok III: Kisah Nabi Mu>sa dan muridnya, serta Nabi Mu>sa dan Nabi Khid}r; sedangkan Kelompok IV: kisah Dhu> al-Qarnay>n.
Dalam upaya menunjukkan relevansi Surat al-Kahfi dengan pendidikan andragogi, maka peneliti memberikan beberapa perlakuan pada masing-masing kelompok ayat yang sudah peneliti klasifikasikan sebelumnya: Pertama, mengidentifikasikan term-term yang berkaitan erat dengan epistemologi pendidikan Islam, khususnya aspek pembelajaran dan pengajaran; Kedua, mengidentifikasikan term-term yang berkenaan dengan usia dewasa, baik dewasa awal, menengah maupun dewasa akhir. Kedua perlakuan ini berfungsi untuk ”menjamin” adanya interaksi pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa pada masing-masing kelompok ayat, sehingga implikasinya adalah Surat al-Kahfi relevan dijadikan sebagai referensi untuk memformulasi konsep andragogi.
Dari berbagai term yang relevan dengan epistemologi pendidikan maupun usia orang dewasa, peneliti hanya memilih satu term dari 4 kelompok ayat di atas sebagai representasi dari masing-masing dimensi. Detailnya adalah:
Kelompok Representasi dari Dimensi
Pembelajaran / Pendidikan Usia Dewasa
I نَقُصُّ الْفِتْيَةُ
II يُحَاوِرُهُ رَجُلَيْنِ
III تُعَلِّمَنِ عَبْدًا
IV نُنَبِّئُكُمْ قَوْمًا
Akumulasi dari berbagai fakta yang dielaborasi dengan asumsi, analisis hingga argumentasi peneliti pada latar belakang di atas, membekas pada ketertarikan peneliti untuk mengkaji lebih mendalam terhadap Surat al-Kahfi sebagai upaya untuk memformulasi konsep andragogi demi kepentingan pendidikan Islam. Maka dari itu, peneliti mengajukan judul penelitian disertasi sebagai berikut: KONSEP ANDRAGOGI DALAM AL-QUR’AN (Kajian Surat al-Kahfi dengan Metode Mawd}u>‘i>, Metode Muqa>ran dan Hermeneutika)
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Peneliti sadar bahwa kajian tematik terhadap satu Surat membutuhkan etos ilmiah yang tinggi, hal ini disebabkan banyaknya lingkup bahasan yang tercakup di dalamnya. Berkenaan dengan Surat al-Kahfi yang dikorelasikan dengan tema andragogi, peneliti mengidentifikasi beberapa masalah berikut ini:
1) Apakah Surat al-Kahfi relevan dengan topik andragogi?
2) Apa saja isi kandungan Surat al-Kahfi yang relevan dengan andragogi?
3) Bagaimana konsepsi andragogi dalam Surat al-Kahfi jika ditinjau dari perspektif tafsir tarbawy>?
4) Bagaimana konsepsi andragogy dalam Surat al-Kahfi jika ditinjau dengan menggunakan metode Mawd}u>‘i>?
5) Bagaimana konsepsi andragogy dalam Surat al-Kahfi jika ditinjau dengan menggunakan metode Muqa>ran?
6) Bagaimana konsepsi andragogy dalam Surat al-Kahfi jika ditinjau dengan menggunakan metode Hermeneutika?
7) Apa ontologi konsep andragogy dalam Surat al-Kahfi?
8) Apa epistemologi konsep andragogy dalam Surat al-Kahfi?
9) Apa aksiologi konsep andragogy dalam Surat al-Kahfi?
10) Apa dasar atau asas andragogy dalam Surat al-Kahfi?
11) Siapa yang berposisi sebagai pendidik pada andragogy dalam Surat al-Kahfi?
12) Siapa yang berposisi sebagai anak didik pada andragogy dalam Surat al-Kahfi?
13) Apa tujuan andragogy dalam Surat al-Kahfi?
14) Apa materi (kurikulum) andragogy dalam Surat al-Kahfi?
15) Apa metode andragogy dalam Surat al-Kahfi?
Daftar identifikasi masalah di atas pada intinya menunjukkan begitu banyak permasalahan yang termasuk dalam lingkup bahasan andragogi dalam Surat al-Kahfi. Maka dari itu, peneliti hanya membatasi diri pada pengkajian konsepsi andragogi dalam Surat al-Kahfi dari perspektif epistemologi pendidikan sebagai landasan fondasional dan dari perspektif komponen pendidikan Islam sebagai landasan operasional.
C. RUMUSAN MASALAH
Selaras dengan batasan masalah yang dipaparkan sebelumnya, peneliti mengajukan 3 rumusan masalah yang cukup representative untuk dijadikan sebagai pijakan dalam upaya memformulasi konsep andragogy dalam Surat al-Kahfi. Ketiga rumusan masalah tersebut adalah:
1. Apakah isi kandungan Surat al-Kahfi memiliki relevansi dengan andragogi?
2. Bagaimana konsepsi andragogy dalam Surat al-Kahfi melalui telaah dengan metode Mawd}u>‘i>, metode Muqa>ran dan Hermeneutika?
3. Bagaimana relasi konsep andragogi yang dihasilkan penelitian ini jika dikaitkan dengan teori andragogi modern?
D. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui apakah isi kandungan Surat al-Kahfi memiliki relevansi dengan andragogi;
2. Untuk memformulasi konsep andragogy dalam Surat al-Kahfi melalui telaah dengan metode Mawd}u>‘i>, metode Muqa>ran dan Hermeneutika;
3. Untuk mengetahui relasi antara konsep andragogi yang dihasilkan penelitian ini ketika dikaitkan dengan teori andragogi modern.
E. SIGNIFIKANSI DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dinilai penting karena beberapa alasan, antara lain: Pertama, al-Qur’a>n adalah petunjuk bagi umat manusia. Petunjuk berarti memberikan arahan, jalan keluar, pedoman, baik dalam berpikir, berencana, berinisiatif, maupun bertindak. Agar al-Qur’a>n dapat menjadi petunjuk, maka manusia harus mengangkatnya ke dataran yang dapat dipahami oleh manusia. Oleh karena itu, pengkajian-pengkajian al-Qur’a>n harus senantiasa dilangsungkan. Penelitian ini termasuk bagian dari upaya pengkajian terhadap al-Qur’a>n yang bertujuan untuk kepentingan pendidikan Islam. Selain itu, penelitian ini termasuk studi pustaka (library research) yang berfungsi sebagai penyeimbang bagi penelitian lapangan (field research).
Kedua, selama ini ada kesan bahwa konsep atau teori pendidikan anak dalam Islam sudah representative untuk diterapkan dalam pendidikan orang dewasa (andragogi). Padahal, terdapat berbedaan tajam antara pendidikan anak-anak dengan pendidikan orang dewasa, semisal dari sisi psikologi belajar, gaya belajar, motivasi belajar, dan seterusnya. Oleh sebab itu, penting untuk diformulasikan konsep andragogi bagi kepentingan pendidikan Islam itu sendiri. Di sinilah peneliti tertarik untuk meformulasi konsep andragogi dalam Surat al-Kahfi melalui telaah dengan menggunakan metode Mawd}u>‘i>, metode Muqa>ran dan Hermeneutika.
Adapun manfaat penelitian ini antara lain: Pertama, Sebagai bahan pelajaran bagi peneliti untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai praktik aplikasi metode mawd}u>‘i>, metode muqa>ran, dan hermeneutika; disertai harapan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak lain yang berminat dan tertarik untuk mengimplementasikan hasil penelitian ini; Kedua, Memperkaya khazanah literatur ilmu pendidikan Islam, khususnya tentang konsep andragogi dari perspektif al-Qur’a>n yang relatif masih terbatas, untuk tidak mengatakan belum ada.
F. PENELITIAN TERDAHULU
Pada bagian ini, peneliti bersandar pada pemahaman bahwa pendekatan yang baik dalam studi kepustakaan adalah merangkai studi-studi itu berdasarkan topiknya dan menetapkan bagaimana hubungan tiap-tiap topik ini dengan penelitian yang akan dilakukan. Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti tidak akan menyajikan literatur dalam bentuk abstrak, melainkan menyajikannya dengan tujuan menjadikan studi kepustakaan ini sebagai dasar sistematik bagi penelitian yang hendak dilakukan.
Setelah menelusuri perpustakaan IAIN Sunan Ampel Surabaya –baik perpustakaan pusat maupun perpustakaan pascasarjana– melalui penelusuran search engine pada repository, peneliti tidak mendapati skripsi, tesis maupun disertasi yang meneliti tentang konsep andragogi dalam al-Qur’a>n. Demikian juga ketika peneliti melakukan browsing pada website UIN Maulana Malik Ibrahim (MALIKI) Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; peneliti tidak memperoleh data tentang penelitian andragogi yang diderivasi dari perspektif al-Qur’a>n.
Meskipun peneliti belum mendapati penelitian terdahulu yang memiliki relevansi secara spesifik dengan penelitian ini –dan peneliti masih akan terus berupaya melacak keberadaan penelitian dalam bentuk skripsi, tesis maupun disertasi yang membahas topik andragogi dalam perspektif al-Qur’a>n– , namun ada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki relevansi secara general dengan penelitian ini, yaitu:
M. Radhi Al-Hafid, Nilai Edukatif Kisah al-Qur’an. Disertasi ini paling tidak menunjukkan bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’a>n memiliki nilai edukatif atau pendidikan. Jika demikian, maka kisah-kisah yang termaktub dalam Surat al-Kahfi juga mengandung nilai edukatif. Selain itu, disertasi ini menyangkut model-model strategi belajar-mengajar nilai Islami pada lembaga pendidikan keagamaan: formal, nonformal dan informal. Hasil disertasi terkait masalah ini akan peneliti fungsikan sebagai komparasi ketika menganalisis metode pendidikan andragogi dalam Surat al-Kahfi kelak.
Syihabuddin Qalyubi, Stilistika Kisah Ibrahim AS dalam Al-Qur’an. Kajian stilistika yang dihasilkan oleh Qalyubi dalam disertasinya ini berhasil membuktikan i’ja>z al-Qur’a>n dari sisi bahasa dan sastranya. Walaupun penelitian ini tidak mengkaji stilistika dalam Surat al-Kahfi, akan tetapi telaah dari sudut pandang stilistika akan peneliti terapkan ketika analisis terhadap suatu ayat menuntut prespektif stilistika tersebut.
Sedangkan beberapa penelitian terdahulu yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku serta memiliki relevansi dengan penelitian ini adalah:
M. Suyudi, Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’a>n: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani. Fokus utama kajian epistemologi pendidikan dalam buku yang bermula dari disertasi ini, diarahkan pada dua hal, yaitu: Pertama, bagaimana proses pembelajaran yang merupakan salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan maupun nilai. Bagian ini meliputi proses pembelajaran yang bersifat empirik, logik, dan intuitif. Kedua, bagaimana proses pengajaran yang merupakan cara penyampaian cara penyampaian pengetahuan atau nilai sehingga tercipta sehingga tercipta sebuah konsep yang aplikatif, strategis, praktis, dan efektif. Beberapa hasil penelitian M. Suyudi terhadap term-term tertentu terkait dengan epistemology pendidikan, akan peneliti posisikan sebagai partner dialog untuk menentukan term-term yang merepresentasikan muatan epistemology pendidikan, baik dalam konteks pembelajaran maupun pengajaran.
Baharuddin. Paradigma Psikologi Islami: Studi tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’a@n. Literatur ini menelaah konsep manusia secara utuh berdasarkan 11 istilah kunci dalam al-Qur’a@n. Hasil penelitian Baharuddin menyebutkan bahwa manusia memiliki 3 aspek dengan 6 dimensi, yaitu 1) Aspek Jismiyyah; 2) Aspek Nafsiyyah meliputi dimensi al-nafs, al-‘aql, dan al-qalb; dan 3) Aspek Ruhiyah meliputi dimensi al-ru@h} dan al-fit}rah. Stratifikasi psikis manusia ini bermanfaat bagi penelitian ini untuk mengetahui sisi psikologis orang dewasa, sehingga dapat dijadikan arah bagi kepentingan pelaksanaan andragogi, semisal dari sisi tujuan, materi maupun pendidikan andragogi dalam Surat al-Kahfi.
G. METODE PENELITIAN
1. Sumber Penelitian
Secara metodologis, penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), sehingga termasuk dalam kategori studi teks. Jika mengacu pada pendapat Noeng Muhadjir, maka studi teks dalam penelitian ini termasuk studi pustaka yang berguna untuk membangun konsep teoretik yang pada waktunya nanti, tentu memerlukan uji kebermaknaan emperik di lapangan. Adapun konsep teoretik yang menjadi sasaran penelitian ini adalah konsep andragogi dalam al-Qur’a>n.
Sumber-sumber data penelitian ini berasal dari bahan-bahan tertulis yang terbagi menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer penelitian ini adalah al-Qur’a>n. Sumber sekundernya adalah berbagai literatur yang relevan dengan objek penelitian ini, baik berupa kitab tafsir, H{adi>th, filsafat pendidikan Islam, ilmu pendidikan Islam, psikologi pendidikan dan tentu saja, pendidikan orang dewasa (andragogi).
Kitab tafsi>r yang menjadi referensi utama penelitian ini adalah: Tafsir al-Mishbah, Tafsi>r ibn ‘Ar, Tafsi>r al-Ra>zy>, Tafsi>r al-Muni>r, Tafsir al-Biqa>‘i>, Zahrah al-Tafa>si>r, dan beberapa kitab tafsi>r lain yang berguna untuk melengkapi dan mempertajam analisis bahasan penelitian ini.
Dalam rangka memahami makna linguistic suatu term dalam al-Qur’a>n, peneliti menggunakan kitab Mufrada>t Ghari>b al-Qur’a>n karya al-As}faha>ny>, Mu‘jam Tafsi>r Mufrada>t Alfa>z} al-Qur’a>n al-Kari>m karya Sami>h} ‘Ah wa al-Naza>’ir li> Alfa>z} Kita>b Allah al-‘Azi>z karya al-Damagha>ny>; sedangkan untuk menemukan ayat-ayat al-Qur’a>n secara tematik, peneliti memanfaatkan kitab al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfa>z} al-Qur’a>n karya Muh}ammad Fu’ad ‘Abd al-Ba>qi>; sebagai pelengkap, peneliti juga menggunakan bantuan software Qur’an Digital, Qur’an in Word 2003 dan al-Maktabah al-Sha>milah edisi 2. Software al-Maktabah al-Sha@milah juga difungsikan untuk melacak H{adi>th}-h{adi>th yang relevan dengan topik bahasan, khususnya yang terdapat dalam Kutub al-Tis’ah, meskipun tetap mengkonfirmasi pada kitab aslinya.
Selain sumber-sumber primer dan sekunder di atas, peneliti juga akan menggunakan sumber-sumber data lainnya dalam upaya mewujudkan hasil penelitian yang lebih sempurna, baik dalam bentuk karya ilmiah (tesis, disertasi), jurnal ilmiah dan sumber-sumber data relevan lain yang diperoleh peneliti selama proses penelitian berlangsung.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian terhadap al-Qur’a>n mengacu pada metode tafsi>r al-Qur’a>n. Secara general, pendekatan penelitian ini adalah pendekatan tafsir tematik (mawd}u‘y>).
Menurut al-Farmawi, ada 4 metode tafsi@r yang dipakai hingga saat ini, yaitu metode tah}li>ly>, ijma>ly>, muqa>ran, dan mawd}u‘y>. Secara lebih spesifik, M. Ridlwan Nasir mengelompokkan metode tafsi@r menurut titik tekan dan sisi sudut pandangnya masing-masing. Metode tah}li@ly@ dan maudhu’i terkait dengan segi sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan. Metode ijma@ly@ berkaitan dengan segi keluasan penjelasan tafsirannya; sedangkan metode muqa@ran berhubungan dengan segi cara penjelasannya. Berikut ini visualisasinya:

Klasifikasi jenis penafsiran di atas memberikan pijakan argumentatif bagi peneliti untuk mengkaji Surat al-Kahfi dengan menggunakan metode mawd}u‘y>, metode muqa>ran dan hermeneutika . Metode mawd}u‘y> mengacu pada sasaran atau tertib ayat yang ditafsirkan dalam penelitian ini; metode muqa>ran terkait dengan cara penjelasan yang peneliti gunakan; sedangkan hermeneutika merupakan kecenderungan (naz‘ah) penafsiran yang lebih dominan pada tafsir falsafi>.
Mengingat jenis penelitian ini masuk lingkup tafsi>r mawdu>‘i>, maka peneliti merasa perlu untuk menggaungkan kembali beberapa bahasan tentang tafsi>r mawdu>‘i> ini. Mus}t}afa> Muslim membagi corak (lawn) tafsi>r mawdu>‘i> menjadi 3 macam, yaitu: a) seorang peneliti mengidentifikasi suatu term dari al-Qur’a>n, kemudian menghimpun ayat-ayat yang mengandung term tersebut maupun derivasinya. Setelah menghimpun ayat-ayat dan mempertimbangkan penafsirannya, peneliti berusaha untuk menggali (istinba>t{) petunjuk-petunjuk term tersebut berdasarkan penggunaannya dalam al-Qur’an. Contoh: Kitab Is}la>h} al-Wuju>h wa al-Naz}a>’ir karya al-Da>maghani>; al-Mufrada>t fi> Ghari>b al-Qur’an karya al-Ra>ghib al-As}faha>ny>; b) peneliti membatasi topic tertentu dalam al-Qur’an, kemudian mengkajinya dengan berbagai macam uslu>b dari sisi penyajian, analisa, kritik maupun memberikan catatan kaki. Contoh: Kitab-kitab I‘ja>z al-Qur’a>n, Ah}ka>m al-Qur’an, Amtha>l al-Qur’a>n, dsb.; c) corak ketiga ini mirip dengan corak kedua, hanya saja lingkupnya lebih sempit, yaitu terbatas pada satu surat saja. Sudah jelas, corak ketiga-lah yang berhubungan erat dengan penelitian ini.
Dengan demikian, dalam upaya menyingkap relevansi Surat al-Kahfi dengan pendidikan andragogi, peneliti mengadopsi beberapa langkah metode tafsir mawd}u>‘i> terhadap satu Surat yang dikemukakan oleh Mus}t}afa> Muslim sebagaimana pada bahasan selanjutnya.
3. Langkah-Langkah Penelitian
Secara sistematis, langkah-langkah penelitian yang akan peneliti tempuh meliputi 4 langkah, yaitu:
Langkah pertama, peneliti menyajikan perspektif teoretik tentang andragogi (khususnya andragogi modern); namun terlebih dahulu harus dibingkai dengan bahasan tentang pendidikan Islam secara general. Pembahasan pendidikan Islam diarahkan pada dua topik utama, yaitu filsafat ilmu pendidikan Islam (ontologi, epistemologi dan aksiologi); serta komponen-komponen pendidikan Islam (pendidik, peserta didik, tujuan, materi, dan metode pendidikan Islam). Tampilannya disajikan pada bab II.
Langkah kedua, peneliti akan mengidentifikasi dan menganalisis term-term kunci yang merepresentasikan relevansi Surat al-Kahfi dengan andragogi yang hasilnya akan dipaparkan pada bab III. Untuk itu, peneliti akan menerapkan metode tafsi>r mawd}u‘y> dan muqa>ran saja dengan perincian sebagai berikut:
Pertama, peneliti akan mengikuti langkah-langkah metodologis-aplikatif metode mawd}u>‘i> terhadap satu Surat yang dikemukakan oleh Mus}t}afa> Muslim sebagai berikut:
a) Menyajikan pendahuluan menyangkut seluk-beluk Surat yang hendak dikaji, misalnya dari sisi Asba>b al-Nuzu>l, keterangan dalam H{adi>th S{ah}i>h} dan keistimewaan Surat tersebut;
b) Menyajikan tujuan pokok dari Surat yang dikaji maupun bahasan-bahasan yang terkandung di dalamnya;
c) Membagi Surat tadi ke dalam beberapa kelompok yang ayat-ayatnya memiliki ”kesesuaian” bahasan; kemudian menggali petunjuk-petunjuk Qur’aniyah serta menyebutkan Muna>sabah di dalamnya;
d) Merangkai kelompok-kelompok ayat di atas dan hasil istinba>t{ yang diperoleh untuk disajikan dalam bentuk satu kesatuan yang utuh selaras dengan tujuan pokok dari Surat yang menjadi objek kajian.

Karena penelitian ini juga mengharuskan telaah terhadap term-term kunci yang merepresentasikan relevansi Surat al-Kahfi dengan pendidikan andragogi, maka peneliti juga menerapkan metode tafsir mawd}u>‘i> yang digunakan oleh Abd. Al-Hayy al-Farmawi. Adapun langkah-langkah metodologis tafsir mawd}u>‘i> yang digunakan al-Farmawi adalah:
a) Memilih atau menetapkan masalah al-Qur’a>n yang dikaji secara tematik;
b) Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang telah ditetapkan; ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah;
c) Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa turunnya, disertai pengetahuan tentang Asba>b al-Nuzu>l;
d) Mengetahui korelasi (muna>sabah) ayat-ayat tersebut di dalam masing-masing suratnya;
e) Menyusun tema bahasan di dalam outline yang pas, sistematis, sempurna dan utuh;
f) Melengkapi pembahasan dan uraian dengan h}adi>th, bila dipandang perlu, sehingga penjelasan menjadi semakin sempurna dan semakin jelas;
g) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian serupa, mengkompromikan antara ‘a>m dan khas}, mut}laq dan muqayyad, mensinkronkan ayat-ayat yang tampaknya kontradiktif, menjelaskan na>sikh-mansu>kh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindak pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat. Langkah-langkah ini akan peneliti terapkan secara fleksibel, namun tetap dalam bingkai yang dikehendaki oleh metode tafsir mawd}u>‘i> di atas.
Kedua, peneliti akan mengikuti langkah-langkah metode tafsir muqa>ran yang aplikasi metodologisnya sebagai berikut:
a) Melakukan perbandingan antar term-term kunci yang terdapat dalam al-Qur’a>n. Bentuk pertama metode muqa>ran ini sama dengan corak pertama tafsir mawdu>‘i yang dikemukakan oleh Mus}t}afa> Muslim. Dalam hal ini, peneliti akan melacak seluruh isi kandungan al-Qur’a>n – dengan merujuk pada Mu‘jam al-Mufahras karya Muh}ammad Fu’ad ‘Abd al-Ba@qy – untuk mengidentifikasi term-term kunci yang sudah ditetapkan;
b) Melakukan perbandingan antar pendapat para mufassir terkait term kunci maupun ayat-ayat yang terkandung term kunci di dalamnya. Bentuk kedua metode muqa>ran ini melibatkan kitab-kitab tafsir yang sudah peneliti tetapkan, semisal Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, Zahrah al-Tafa>sir karya Abu> Zahrah dan al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r karya Ibn ‘Ar.
Langkah ketiga, peneliti berupaya memformulasi konsep andragogi dalam Surat al-Kahfi dengan mengacu pada aspek filsafat ilmu pendidikan Islam dan komponen-komponen pendidikan Islam. Dengan demikian, bagian ini dimaksudkan untuk memberikan landasan preskriptif sekaligus deskriptif. Konsepsi pendidikan andragogi dalam Surat al-Kahfi ini akan ditampilkan pada bab IV. Di sini, peneliti juga menerapkan metode penafsiran mawd}u>‘i> dan muqa>ran sebagaimana dijelaskan pada langkah kedua di atas. Namun mengingat bagian ini merupakan core dari penelitian, maka peneliti akan menerapkan analisis hermeneutika agar hasil analisisnya lebih tajam, komprehensif sekaligus kontekstual.

Langkah keempat, peneliti akan mendialogkan hasil penelitian berupa konsep andragogi dalam Surat al-Kahfi dengan teori-teori andragogi modern. Bagian ini dimaksudkan untuk telaah kritis terhadap sisi-sisi kelebihan maupun kelemahan dari masing-masing pihak, sehingga diharapkan dapat saling mengisi. Hasilnya dapat dilihat pada bab V.
4. Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis. Dalam prakteknya, content analysis ini secara inheren sudah tercakup pada setiap langkah-langkah metodologis sebelumnya, yaitu menganalisis antar term-term kunci, ayat-ayat, kelompok ayat hingga Surat al-Kahfi secara keseluruhan dengan pisau analisis tafsir mawd}u>‘i>, muqa>ran dan hermeneutka.
Hasil penelitian akan dilaporkan secara deskriptif analitik dan kritis, yakni berupa paparan dan penjelasan dengan disertai analisis dan kritisisme dari peneliti terhadap data-data yang dihasilkan selama penelitian.
H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Hasil akhir dari penelitian ini akan dilaporkan dalam bentuk Disertasi dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama berisi pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kepentingan dan kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua memuat perspektif teoretik. Pada bab ini peneliti akan menyajikan teori-teori pendidikan andragogi (modern); filsafat ilmu pendidikan Islam dan komponen-komponen pendidikan Islam.
Bab ketiga adalah relevansi Surat al-Kahfi dengan pendidikan andragogi. Bab ini juga menyajikan bahasan tentang seluk beluk Surat al-Kahfi dan isi kandungannya; di samping memuat kajian analitik-kritis terhadap term-term kunci dengan menggunakan metode tafsi@r mawd}u‘y> dan muqa>ran.
Bab keempat memuat tentang formulasi konsep andragogi dalam Surat al-Kahfi. Bingkai bahasannya berdasarkan pada aspek filsafat ilmu pendidikan Islam dan komponen-komponen pendidikan Islam.
Bab kelima relasi konsep andragogi dalam Surat al-Kahfi dengan teori andragogi modern. Bab ini menyajikan hasil dialog antara konsep pendidikan andragogi dalam Surat al-Kahfi dengan teori-teori pendidikan andragogi modern, dilengkapi dengan kritisisme dari peneliti.
Bab keenam adalah penutup berupa kesimpulan dan saran-saran. Pada bagian akhir akan dilengkapi dengan bibliografi dan sejumlah lampiran.
Rancangan Isi
KONSEP ANDRAGOGI DALAM AL-QUR’AN
(Kajian Surat al-Kahfi dengan Metode Mawd}u>‘i>, Metode Muqa>ran dan Hermeneutika)

Bab I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. IDENTIFIKASI DAN BATASAN MASALAH
C. RUMUSAN MASALAH
D. TUJUAN PENELITIAN
E. SIGNIFIKANSI DAN MANFAAT PENELITIAN
F. PENELITIAN TERDAHULU
G. METODE PENELITIAN
H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Bab II
PERSPEKTIF TEORETIK

A. ILMU PENDIDIKAN ISLAM
1. Filsafat Ilmu Pendidikan Islam
a. Ontologi Pendidikan Islam
b. Epistemologi Pendidikan Islam
c. Aksiologi Pendidikan Islam
2. Komponen Pendidikan Islam
a. Pendidik
b. Peserta Didik
c. Tujuan Pendidikan Islam
d. Materi Pendidikan Islam
e. Metode Pendidikan Islam
B. TEORI ANDRAGOGI
1. Telaah Historis
2. Telaah Filosofis
3. Telaah Psikologis
4. Telaah Teori Belajar dan Pembelajaran







Bab III
RELEVANSI SURAT AL-KAHFI DENGAN ANDRAGOGI

A. GENERAL REVIEW SURAT AL-KAHFI
1. Seputar Surat Al-Kahfi
2. Asba>b al-Nuzu>l Surat al-Kahfi
3. Muna>sabah Surat al-Kahfi
B. PENGELOMPOKAN ISI SURAT AL-KAHFI
1. Kelompok Ayat I: 1-26
2. Kelompok Ayat II: 27-59
3. Kelompok Ayat III: 60-82
4. Kelompok Ayat IV: 83-110
C. RELEVANSI ISI SURAT AL-KAHFI DENGAN ANDRAGOGI
1. Analisis dengan Metode Mawd}u>‘i>
2. Analisis dengan Metode Muqa>ran

Bab IV
KONSEPSI ANDRAGOGI DALAM SURAT AL-KAHFI

A. TINJAUAN FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN ISLAM
1. Perspektif Ontologi
2. Perspektif Epistemologi
3. Perspektif Aksiologi
B. TINJAUAN KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM
1. Perspektif Pendidik
2. Perspektif Peserta Didik
3. Perspektif Tujuan
4. Perspektif Materi
5. Perspektif Metode
C. FORMULASI KONSEP ANDRAGOGI DALAM SURAT AL-KAHFI

Bab V
RELASI KONSEP ANDRAGOGI DALAM SURAT AL-KAHFI DENGAN TEORI ANDRAGOGI MODERN

A. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
B. CONTRIBUTION TO KNOWLEDGE

Bab VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
B. SARAN-SARAN


Rancangan Daftar Pustaka

A. ANDRAGOGI
1. Cross, K. Patricia. Adults as Learners: Increasing Participation and Facilitating Learning (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1981)
2. Danim, Sudarwan. Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi (Bandung: Alfabeta, 2010)
3. Knox, Alan B.. Adult Development and Learning (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1997)
4. Kreitlow (ed.), Burton W.. Examining Controversies in Adult Education (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1989)
5. Piskurich, George M.. Self-Directed Learning: A Practical Guide to Design, Development, and Implementation (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1993)
6. Ramsden, Peter. Learning to Teach in Higher Education (London & New York: Routledge, 2000)
7. Sharan B. Merriam & Rosemary S. Caffarella. Learning in Adulthood: a Comprehensive Guide (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1991)
8. Suprijanto. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007)
9. Sutherland (ed.), Peter. Adult Learning: a Reader (London & Stirling: Kogan Page, 2001)
10. Tight (ed.), Malcolm. Adult Learning & Education (New Hampshire: The Open University, 1987)

B. ILMU PENDIDIKAN ISLAM
1. Abdullah, Abdur Rahman Shalih. Landasan dan Tujuan Pendidikan menurut al-Qur’a@n serta Implementasinya (Penyunting Dahlan dari Educational Theory, A Quranic Outlook) (Bandung: CV. Diponegoro, 1991).
2. ‘Abd al-Ghani ‘Abbu@d dan H{asan Ibra@him ‘Abd al-‘Al. al-Tarbiyyah al-Isla@miyyah wa Tahaddiya@t al-‘As{r (Kairo: Da@r al-Fikr al-‘Araby@, 1990).
3. ‘Aly@, Sa‘i@d Isma@‘i@l. al-Qur’a@n al-Kari@m: Ru’yah Tarbawiyyah (Kairo: Da@r al-Fikr al-‘Araby@, 2000).
4. ‘Aly@, Sa‘i@d Isma@‘i@l. al-Sunnah al-Nabawiyyah: Ru’yah Tarbawiyyah (Kairo: Da@r al-Fikr al-‘Araby@, 2002).
5. Huda, Miftahul. Interaksi Pendidikan: 10 Cara Qur’an Mendidik Anak (Malang: UIN-Malang Press, 2008).
6. Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006)
7. Muhaimin. Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2009)
8. al-Naqi>b, Abd al-Rah{ma>n. al-Tarbiyyah al-Isla>miyyah al-Mu‘a>s{irah (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Aroby>, 1997).
9. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002)
10. ‘Ulwa@n, ‘Abd Allah Nas{ih. Pendidikan Anak Dalam Islam (Alih bahasa oleh Jamaludin Miri) (Jakarta: Pustaka Amani, 2002).

C. FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN ISLAM
1. ‘Aly@, Sa‘i@d Isma@‘i@l. Us}u@l al-Tarbiyyah al-Isla@miyyah (Kairo: Da@r al-Sala@m, 2007).
2. al-Kurdy@, Ra@jih} ‘Abd al-H}ami@d. Naz}ariyyah al-Ma‘rifah bayn al-Qur’a@n wa al-Falsafah (Riyad}: Maktabah al-Muayyad, 1992).
3. Langgulung, Hasan. Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992)
4. Mudyahardjo, Redja. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008)
5. Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002).
6. Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik (Jakarta: Erlangga, 2006).
7. Ramayulis dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya (Jakarta: Kalam Mulia, 2009).
8. Ridla, Muhammad Jawwad. Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (alih bahasa oleh Mahmud Arif dari buku aslinya al-Fikr al-Tarbawy al-Islamiy) (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002).
9. al-Shayba@ny@, ‘Umar al-Tu@my@. Falsafah al-Tarbiyyah al-Isla@miyyah (Tripoli: Da@r al-‘Arabiyyah li al-Kita@b, 1988).
10. Suyudi, M.. Pendidikan dalam Perspektif al-Qur’a@n: Integrasi Epistemologi Bayani, Burhani dan Irfani (Yogyakarta: Mikraj, 2005).

D. PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. Baharuddin. Paradigma Psikologi Islami: Studi tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’a@n (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
2. Ferrett, Sharon K.. Peak Performance: Success in College and Beyond (New York: McGraw-Hill, 2006)
3. Mahfuzh, M. Jamaluddin. Psikologi Anak dan Remaja Muslim (alih bahasa oleh Abdul Rosyad Shiddiq dan Ahmad Vathir Zaman) (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004).
4. Santrock, John W.. Psikologi Pendidikan (alih bahasa oleh Tri Wibowo B.S.) (Jakarta: Kencana, 2008)
5. Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005)
6. Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Press, 2004).
7. Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2009)
8. Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010)
9. Tohirin. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam: Berbasis Integrasi dan Kompetensi (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006)
10. Woolfolk, Anita. Educational Psychology (Boston: Pearson Education, Inc., 2007)

E. BELAJAR & PEMBELAJARAN
1. Baharuddin & Esa Nur Wahyuni. Teori Belajar & Pembelajaran (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010)
2. Danial Muijs & David Reynolds. Effective Teaching: Teori dan Aplikasi (alih bahasa oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto) (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008)
3. Gredler, Margaret E. Bell. Belajar dan Membelajarkan (alih bahasa oleh Munandir) (Jakarta: Rajawali, 1991)
4. James Bowen & Peter R. Hobson. Theories of Education: Studies of Significant Innovation in Western Educational Thought (New York: John Wiley & Sons, 1974)
5. McKeachie, Wilbert J.. Teaching Tips: Strategies, Research and Theory for College and University Teachers (Massachusetts: D.C. Heath and Dutton, 1994)
6. Miarso, Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2007)
7. Michael Prosser & Keith Trigwell. Understanding Learning and Teaching: the Experience in Higher Education (Philadelphia: SRHE and Open University Press, 1999)
8. Nasution, S.. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)
9. Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Jakarta: Kencana, 2010)
10. Suparno, Paul. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1997)

F. STRATEGI PEMBELAJARAN
1. Johnson, Elaine B.. Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (alih bahasa oleh Ibnu Setiawan) (Bandung: Mizan Learning Center (MLC), 2007)
2. Marzano, Robert J.. A Different Kind of Classroom: Teaching with Dimensions of Learning (Alexandria: the Association for Supervision and Curriculum Development, 1992)
3. Munanda, S.C. Utami. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002)
4. Munthe, Bermawi. Desain Pembelajaran (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009).
5. Nata, Abuddin. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2009)
6. Rusman. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010)
7. Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2010)
8. Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2010)
9. Stephen D. Brookfield & Stephen Preskill. Discussion as a Way of Teaching: Tools and Techniques for Democratic Classrooms (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1999)
10. Uno, Hamzah B. dkk.. Desain Pembelajaran: Referensi Penting untuk Para Guru, Dosen, Mahasiswa, Tutor Kursus, dan Trainer Latihan (Bandung: MQS Publishing, 2010)

G. KITAB TAFSIny>, Abi> al-Qa>sim al-H{usay>n bin Muh}ammad al-Ra>ghib. al-Mufrada>t fi> Ghari>b al-Qur’a>n (Kairo: al-Maktabah al-Taw>fi>qiyyah, tt.).
2. ‘Ar, Muhammad al-T{a>hir Ibn. Tafsi>r al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r (Jilid 17) (Tu>nis: al-Da>r al-Tu>nisiyyah li al-Nashr, 1984).
3. al-Biqa@‘y@, Burha@n al-Di@n Aby@ al-H{asan Ibra@hi@m bin ‘Umar. Naz{m al-Durar fi@ Tana@subi al-A@ya@t wa al-Suwar (Beirut: Da@r al-Fikr al-‘Ilmiyyah, 1995).
4. al-Damagha>ny>, Abi> ‘Abd Allah al-H{usay>n bin Muh}ammad. al-Wuju>h wa al-Naza>’ir li> Alfa>z} Kita>b Allah al-‘Azi>z (Jilid 1 & 2) (Kairo: Wiza>rah al-Awqa>f, 2000).
5. Muslim, Mus}t}afa>. Maba>hith fi> al-Tafsi>r al-Mawdu>‘i> (Dimshiq: Da>r al-Qalam, 1989).
6. al-Ra@zy@, Fakhr al-Di@n Muh}ammad bin ‘Umar bin al-H}asan ibn ‘Aly@ al-Tami@my@ al-Bakry@. Mafa@ti@h} al-Ghay@b (Beirut: Da@r al-Kutub al-‘Amaliyyah, 2000).
7. Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Volume 7) (Bandung: Lentera Hati, 2002).
8. Zahrah, Muh{ammad Abu>. Zahrah al-Tafa>sir (Jilid 7) (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Araby>, 1987).
9. al-Zay>n, Sami>h} ‘Ar Mufrada>t Alfa>zh al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Kutub al-Lubna>ny>, 2001).
10. al-Zuh{ailly@, Wahbah. al-Tafsi@r al-Muni@r. (Beirut: Da@r al-Fikr al-Mu‘a@s{ir, 1998).
H. ‘ULU al Quran
1. al-Ba@qy@, Muh}ammad Fu’ad ‘Abd. al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfa@z} al-Qur’a@n al-Kari@m, (Kairo: Da@r al-H}adi@th, 2007).
2. Denffer, Ahmad von. ‘Ulu>m al-Qur’a>n: An Introduction to the Sciences of the Qur’a>n (Leicester: The Islamic Foundation, 1983)
3. al-Fayya>d}, Muh}ammad Ja>bir. Al-Amtha>l fi> al-Qur’a>n al-Kari>m (al-Riya>d}: al-Da>r al-‘A li al-Kita>b al-Isla>mi>, 1995)
4. al-Qad}y>, ‘Abd al-Fatta>h} ‘Abd al-Ghany>. Asba>b al-Nuzu>l ‘an al-S}ah}a>bah wa al-Mufassiri>n (Kairo: Da>r al-Sala>m, 2007)
5. al-Qat}t}a>n, Manna‘. Maba>hith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000)
6. Sinnah, ‘Abd al-Fatta>h} Abu>. ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Shuru>q, 1995)
7. al-Suyu>t}y>, Jala>l al-Di>n ‘Abd Rah}ma>n bin Abi> Bakr. al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (al-Madi>nah al-Munawwarah: al-Mamlakah al-‘Arobiyyah al-Su‘u>diyyah, 1426 H)
8. ‘Umar, Ah}mad Mukhta>r. al-Mu‘jam al-Mawsu>‘i> li Alfa>z} al-Qur’a>n al-Kari>m wa Qira>’atih (al-Riya>d}: Muassasah Sut}u>r al-Ma‘rifah, 2000)
9. al-Zarkashi>, Badr al-Di>n Muh}ammad bin ‘Abd Allah. al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Kairo: Da>r al-Tura>th, tt.)
10. al-Zarqa>ni>, Muh}ammad \‘Abd ‘Az{i>m. Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Kita>b al-‘Aroby>, 1995)

I. ‘ULUM AL-TAFSIR
1. al-‘Alid ‘Abd al-Rah}ma>n. Us}u>l al-Tafsi>r wa Qawa>‘iduh (Damaskus: Dar al-Nafa>’is, 1986)
2. al-Dhahaby>, Muh}ammad H{usay>n. ‘Ilm al-Tafsi>r (Kairo: Da>r al-Ma‘a>rif, tt.)
3. al-Dhahaby>, Muh}ammad H{usay>n. al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000)
4. al-Faysa>n, Su‘u>d bin ‘Abd Allah. Ikhtila>f al-Mufassiri>n: Asba>buhu wa Atha>ruh (Riya>d}: Da>r Ishbi>liya>, 1997)
5. al-Qat}t}a>n, Manna‘bin Khali>l. Qawa>‘id al-Tarji>h} ‘ind al-Mufassiri>n (Riya>d}: Da>r al-Qa>sim, 1996)
6. al-Ru>my>, Fahd bin ‘Abd al-Rah}ma>n bin Sulayma>n. Buh}u>th fi> Us}u>l al-Tafsi>r wa Mana>hijuh (Riya>d}: Maktabah al-Tawbah, 1419 H)
7. al-Ru>my>, Fahd bin ‘Abd al-Rah}ma>n bin Sulayma>n. Manhaj al-Madrasah al-‘Aqliyyah al-Hadi>thah fi> al-Tafsi>r (Riya>dh: tt.. 1983)
8. al-Sabt, Kha>lid ‘Utshma>n. Qawa>‘id al-Tafsi>r: Jam‘a>n wa Dira>satan (ttp: Da>r Ibn ‘Affa>n, 1421 H)
9. Shah}a>tuh, ‘Abd Allah. Us}u>l al-Tafsi>r (Kairo: Da>r al-Shuru>q, 2001)
10. Ya‘qu>b, T{a>hir Mah}mu>d Muh}ammad. Asba>b al-Khat}a’ fi al-Tafsi>r (Riya>d}: Da>r ibn al-Jawzy>, 1425 H)


J. METODOLOGI TAFSIR
1. Abdul Mustaqim & Sahiron Syamsudin (ed.), Studi al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002)
2. al-Alma‘i>y, Za>hir bin ‘Iwa>d}. Dira>sa>t fi> al-Tafsi>r al-Mawdu>‘i> li Qur’a>n al-Kari>m (Riya>d}: tp., 1405 H),.
3. Baidan, Nashruddin. Metodologi Penafsiran al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998)
4. al-Farmawi, Abd. al-Hayy. Metode Tafsir Mawdhu’iy: Sebuah Pengantar (alih bahasa oleh Suryan A. Jamrah) (Jakarta: PT RajaGrafindo, 1996)
5. Haryono (ed.), M. Yudie. Nalar Al-Qur’an (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara, 2002)
6. Mahmud, Mani’ Abd Halim. Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir (alih bahasa oleh Faisal Saleh dan Syahdianor) (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006)
7. Muslim, Mus}t}afa>. Maba>hith fi> al-Tafsi>r al-Mawdu>‘i> (Dimshiq: Da>r al-Qalam, 1989).
8. Nasir, M. Ridlwan. Memahami al-Qur’a@n: Perspektif Baru Metodologi Tafsir Muqarin (Surabaya: Indra Media, 2003).
9. Rosadisastra, Andi. Metode Tafsir Ayat-ayat Sains dan Sosial (Jakarta: AMZAH, 2007).
10. Saeed, Abdullah. the Qur’an: An Introduction (London & New York: Routledge, 2008)

K. HERMENEUTIKA
1. Abdullah, M. Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
2. Bleicher, Josef. Hermeneutika Kontemporer: Hermeneutika sebagai Metode, Filsafat dan Kritik (alih bahasa oleh Imam Khoiri) (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2007)
3. Esack, Farid. Membebaskan yang Tertindas: Al-Qur’an, Liberasi, Pluralisme (alih bahasa oleh Watung A. Budiman) (Bandung: Mizan, 2000)
4. Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina, 1996)
5. Howard, Roy J. Hermeneutika (alih bahasa oleh Kusman & M.S. Nasrullah) (Bandung: Penerbit Nuansa, 1982)
6. Kurdi, dkk. Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: eLSAQ, 2010)
7. Saeed, Abdullah. Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach (London & New York: Routledge, 2006)
8. Sibawaihi. Hermeneutika Alquran Fazlur Rahman (Yogyakarta: Jalasutra, 2007).
9. Tholhatul Choir & Ahwan Fanani (ed.), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)
10. Zaid, Nasr Hamid Abu. Teks Otoritas Kebenaran (alih bahasa oleh Sunarwoto Dema) (Yogyakarta: LKiS, 2003)

L. METODOLOGI PENELITIAN
1. Abbas Tashakkori & Charles Teddie (ed.), Handbook of Mixed Methods in Social & Behavioral Research ( alih bahasa oleh Daryatno) (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010)
2. Abdullah, M. Amin. Antologi Studi Islam: Teori & Metodologi (Yogyakarta: DIP PTA IAIN Sunan Kalijaga, 2000)
3. Afandi, Khozin. Buku Penunjang: Berkenalan dengan Fenomenologi dan Hermeneutik (Surabaya: Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, 2007)
4. Ali, Mohammad. “Teori Penelitian Pendidikan” dalam Ali, Mohammad (et al), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Bagian II Ilmu Pendidikan Praktis (Jakarta: PT Imperial Bhakti Utama, 2007),
5. Ary dkk., Donald. Introduction to Research in Education (Belmont CA: Wadsworth, 2010)
6. Emilia, Emi. Menulis Tesis dan Disertasi (Bandung: Alfabeta, 2009)
7. Gay, L. R.. Educational Research: Competencies for Analysis & Application (Ohio: Charles E. Merrill Publishing Co., 1981)
8. Moleong, Lexi J.. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004).
9. Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif: Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik, Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996).
10. Nasir, M.. Metode Penelitian (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1998).
11. Robert C. Bogdan & Sari Knopp Biklen. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theories Methods (Boston: Pearson Education, Inc., 2007)
12. Setyosari, Punaji. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan (Jakarta: Kencana, 2010),
13. Soetriono & SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: ANDI, 2007)
14. Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006).
15. Zuriah, Nurul. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori-Aplikasi (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006).

© Malang, 14 Mei 2011

1 komentar:

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer