top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

11 Juli 2011

Konsepsi Pemetaan Peradaban Islam

A. PENDAHULUAN
Islam merupakan agama bangsa-bangsa yang tersebar di pertengahan bumi ini yang terbentang dari tepi laut Afrika sampai laut pasifik selatan, dari padang rumput siberia sampai ke pelosok asia tenggara. Bangsa berber afrika barat, sudan, afrika timur yang berbahasa swahili, bangsa arab timur tengah bangsa turki, irania,bangsa turki dan persi yang tinggal di asia tengah . Dari sisi latar etnis, bahasa, adat, organisasi politik, dan pola kebudayaan dan teknologi mereka menampilkan keragaman kemanusiaan, namun islam menyatukan meraka . Meskipun seringkali tidak menjadi totalitas kehidupan meraka, namun islam terserap dalam konsep, aturan keseharian, memberikan tata ikatan kemasyarakatan, dan memenuhi hasrat mereka meraih kebahagiaan hidup. Lantaran keragaman tersebut, islam berkembang menjadi keluarga terbesar ummat manusia.
Dalam kajian makalah kali ini kami akan membahas tentang sejarah masuknya islam di berbagai benua, serta perkembangannya dengan harapan kita dapa memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang sejarah masuknya islam di berbagai belahan dunia. Di samping itu, di bagian akhir makalah ini akan dibahas juga benturan dan dialektika peradaban timur dan barat.
Semoga apa yang kami tulis ini dapat membawa manfaat bagi teman-teman, atau bagi siapa saja yang kebetulan membaca tulisan dalam makalah ini, penulis hanyalah manusia yang lemah yang sangat jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis sangat berterima kasih apabila ada kritik, saran, atau apa saja yang berkaitan dengan makalah ini lebih-lebih kami mohon bimbingan dari dosen pembimbing mata kuliah ini, yaitu beliau Mutamakkin S. Fil., MA.
B. PEMBAHASAN
1. Islam Di Afrika
a. Awal Mula Islam Masuk Afrika
Islam masuk wilayah Afrika adalah pada saat daerah itu berada di bawah kekusaan kekaisaran Romawi. Penaklukan daerah ini pada dasarnya sudah mulai dirintis pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab. Pada tahun 640 M Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir, setelah sebelumnya mendapat izin dari Khalifah Umar untuk menaklukkan daerah itu.

Pada masa kekhalifahan Usman ibn Affan, penaklukan islam sudah meluas sampai ke Barqah dan Tripoli. Penaklukan atas kedua kota itu dimaksudkan untuk menjaga keamanan daerah Mesir. Penaklukan itu tidak berlangsung lama, karena gubernur-gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang ditinggalkan itu. Namun kekejaman dan pemerasan yang mereka lakukan telah mengusik ketenteraman penduduk asli, sehingga tidak lama kemudian penduduk asli sendiri memohon kepada orang-orang muslim supaya membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Permohonan mereka disanggupi oleh Khalifah sepeninggal Usman yang pada waktu itu sudah berpindah ke tangan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Ia bertekad memberikan pukulan terakhir kepada kekuasaan Romawi, dan mempercayakan tugas ini kepada seorang panglima yang masyhur, Uqbah ibn Nafi’ al-Fihri (W. 683), yang telah telah menetap di Barqah sejak daerah itu ditaklukkan.
Pada tahun 50 H / 670 M ‘Uqbah mendirikan kota militer yang termasyhur, Qairawan, di sebelah selatan Tunisia. Tujuannya adalah mengendalikan orang-orang Barbar yang ganass dan sukar diatur, dan untuk menjaga terhadap perusakan-perusakan yang dilakukan oleh orang-orang Romawi dari laut. Perjalanan Uqbah yang cemerlang itu, pukulan-pukulannya yang menghancurkan orang-orang Romawi dan Barbar telah membuat negeri itu aman selama beberapa tahun.
Akan tetapi, pada tahun 683 M orang-orang islam di Afrika mengalami kemunduran yang hebat, karena orang-orang Barbar di bawah kepemimpinan Kusailah bangkit memberontak dan mengalahkan Uqbah. Dia dan seluruh pasukannya tewas dalam pertempuran . Sejak saat itu, orang-orang islam tidak berdaya mengembalikan kekuasaanya di Afrika, karena selain berhadapan dengan bangsa Barbar, mereka juga harus berhadapan dengan bangsa Romawi yang memanfaatkan kesempatan dalam pemberontakan Kusailah tersebut.
Pada saat pemerintahan dipegang oleh Abdul Malik ibn Marwan (685-705 M), daulah bani umayah mulai bangun kembali untuk merebut Afrika. Dia mengirimkan kesatuan di bawah pimpinan Hasan ibn Nu’man al-Ghassani untuk memulihkan prestise Islam yang hilang. Pasukan ini berhasil menumpas tentara-tentara Romawi dan menghalau mereka dari Afrika serta berhasil menindas perlawanan bangsa Barbar. Sejak itu Afrika dan daerah Maghribi tidak lagi termasuk lingkungan daerah Mesir, tetapi telah berdiri sebagai wilayah sendiri yang diperintah oleh seorang gubernur yang diangkat oleh khalifah.
b. Islamisasi Afrika
Kekusaan Islam di Afrika tidak berjalan mulus. Ketika islam pertama kali masuk daerah ini, guncangan politik akibat pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Barbar dan orang-orang Romawi, muncul silih berganti. Dalam kondisi seperti ini, penyebaran islam tidak bisa berjalan dengan baik, keadaan ini berlanjut hingga terjadi pergantian gubernur dari Hasan ibn Nu’man kepada Musa ibn Nushair tahun 708 M pada awal masa pemerintahan al-Walid ibn Abdul Malik (86-96 H/705-715 M). Bahkan pergantian pimpinan inipun juga mendorong orang-orang Barbar mengadakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Musa dapat mematahkan pemberontakan mereka, dan untuk mengantisipasi adanya pemberontakan lagi, dia menerapkan kebijakan “perujukan”, yaitu menepatkan orang-orang Barbar ke dalam pemerintahan Islam.
Ketika pemerintahan dipegang oleh Musa, di Afrika terjadi perubahan social dan politik yang cukup drastis. Perlawanan orang-orang Barbar yang ganas dapat dihancurkan, dominasi politik berada di tangan orang-orang muslim dan dakwah Islam menyebar dengan cepat. Hal-hal inilah yang mendorong sebagian sejarawan menganggap Musa ibn Nushair sebagai “penakluk yang sesungguhnya” atas Afrika.
Satu hal perlu dikemukakan, bahwaa seluruh pemberontakan yang terjadi di Afrika dilakukan oleh orang-orang Barbar dan kaum Khawarij. Tidak diketahui bagaimana paham kharijiah masuk ke daerah itu dan kemudian menyebar di sana. Yang pasti karakter oposisinya terhadap pemerintahan bani Umayah merefleksikan aspirasi orang-orang Barbr. Oleh karena itu dapat diduga bahwa kesamaan aspirasi itulah yang menyebabkan paham keagamaan tersebut mudah diterima oleh orang-orang Barbar, bakan kira-kira pada tahun 132 H / 750 M, hamper seluruh Afrika Utara menganut madzhab itu.
Orang-orang Khawarij tidak hana menyebarkan Islam saja, tetapi juga membawa orang-orang Barbar kepada pengetahuan yang mendalam mengenai agama itu. Upaya orang-orang Khawarij ini menyebabkan islam menjadi benar-benar mengakar di daerah Afrika Utara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berawal dari gerakan kaum Khawarij itulah islamisasi orang-orang Barbar di Afrika Utara secara nyata diusahakan.
2. Islam Di Eropa
a. Masuknya Islam Di Eropa
Proses masukya islam di benua Eropa tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya islam di Spanyol. Spanyol berhasil diduduki umat islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), Salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara yang menjadikanya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman khalifah Abdul Malik (685-705M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibnu Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu.
Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif bin Malik , Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik, ia menyeberangi selat yang berada di antara maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang di antaranya adalah tentara berkuda, menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Thariq Ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Ia bersama pasukannya menyeberangi selat yang bernama Gibraltar. Dan dengan dikuasainya daerah ini maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki spanyol.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan khalifah Umar Ibn Abdul Aziz tahun 99 H/ 717M. kali ini, sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan pyrenia dan perancis selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi akan tetapi gagal pula. Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di laut tengah.
Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.
b. Perkembangan Islam di Eropa
Menurut Dr. Badri Yatim sebagaimana di kutip oleh Drs. Samsul Munir Amin, sejarah panjang islam di Spanyol dapat di bagi dalam enam periode.
1). Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang di angkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini, stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, berbagai gangguan masih terjadi baik yang datang dari luar maupun dari dalam.
2). Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol. Saat periode ini, umat islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan baik dalam bidang politik maupun peradaban. Abdurrahman I berhasil mendirikan Masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar di Spanyol.
3). Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini berlangsung mulai dari peerintahan Abdurrahman III yang bergelar “An-Nashir” sampai munculnya “raja-raja kelompok”. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Pada periode ini, umat islam di Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman An-Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.
4). Periode Keempat (1013-1086)
Pada masa ini Spanyol sudah terpecah-pecah menjadi beberapa Negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. Bahkan pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan. Pada periode ini umat islam di Spayol kembali memasuki pertikaian intern. Ironisnya jika terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Namun walaupun demikian, kehidupan intelektual terus berkembang.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini, Spanyol islam meskipun masih terpecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan yakni keuasaan Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Namun dalam perkembangan selanjutnya, pada periode ini, kekuasaan islam Spanyol di pimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah sehingga mengakibatkan beberapa wilayah Islam dapat dikuasai oleh kaum Kristen.
6). Periode Keenam (1248-1429 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di Granada di bawah dinasti Ahmar. Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nashir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spayol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam merebutkan kekuasaan.
3. Islam Di Amerika
Amerika yang selama ini identik sebagai pusat kekafiran, justru lebih dulu mengenal Islam sebelum para penyebar agama lain dari Eropa menguasai negeri itu. Fakta-fakta di bawah ini mungkin akan membuat kita berbeda memandang Amerika, yaitu sebagai bagian dari wilayah yang dakwah disana harus diteruskan.
1. Khashshash bin Said bin Aswad

Ada banyak versi tentang siapakah yang pertama kali membawa agama Islam ke Amerika. Salah satunya yang bisa disebut adalah Khashshah bin Said bin Aswad yang tercatat dalam sejarah pada tahun 889 masehi telah mendarat di benua itu. Dia seorang navigator muslim yang berasal dari Qordoba, Spanyol. Sebagaimana kita ketahui, Spanyol saat itu merupakan pusat peradaban Islam di Barat, di bawah pimpinan Khilafah Bani Umayah II. Ini adalah analisa lumayan kuat untuk bisa dipercaya, lantaran kekuatan armada Khilafah Bani Umayyah II diSpanyol saat itu memang sangat besar dan luar biasa luas pengaruhnya. Adalah sangat tidak mustahil buat para pelaut di masa itu untuk mengarui samudera Atlantik. Apalagi ada semangat juang yang sangat tinggi untuk menyebarkan agama Islam seluruh penjuru dunia.
Dengan fakta ini, maka benua Amerika termasuk benua yang sudah sejak awal mengenal ajaran Islam. Sungguh luar biasa kemampuan para pelaut muslim saat itu. Dengan menyeberangi lautan Atlantic yang luas itu, mereka tercatatsebagai di antara pembawa agama Islam ke Amerika. Dan jarak waktunya hanya terpaut 200-an tahun setelahRasulullah SAW wafat. Mungkin ke depan kita akan mengatakan bahwa bangsa muslim lah yang sesungguhnya berhak disebut sebagai penemu benua Amerika, bukan Amerigo Vespucci atau Colombus, sebab Vespucci baru menemukan benua itu ditahun 1499-1500 Masehi. Demikian juga Colombus baru tiba di tahun 1492 Masehi. Bandingan dengan Khashshashbin Said bin Aswad yang sudah mendarat di benua itu di tahun 889 Masehi. Itu berarti 600 tahun lebih dulu dari kedatangan keduanya. Dan kedatangan para pelaut muslim ke benua Amerika bukan sekedar bertujuan utnuk piknik atau jalan-jalan, tetapi tentuya sambil menyebarkan agama terakhir yang Allah turunkan, yaitu agama Islam.
2. Laksamana Ceng Ho
Selain itu sejarah juga mencatat bahwa Laksamana Ceng Ho yang beragama Islam, juga pernah mendarat di benuaAmerika. Yang menarik, laksamana yang juga seorang da`i muslim ini mendarat 70 tahun lebih awal dari Colombus. Bahkan armada dan kapal Ceng Ho jauh lebih besar dari kapal milik Colombus. Namun karena sejarah dunia ditulis oleh orang lain, maka fakta bahwa Ceng Ho mendarat lebih dahulu dari Colombus seolah lenyap di balik kebohongan nyata.
Cheng Ho punya nama arab, yaitu Haji Mahmud Shams. Beliau adalah seorang muslim China yang lahir tahun 1371dan wafat tahun 1433. Terkenal sebagai pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan beberapapenjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433.
3. Columbus

Selain itu juga ada catatan dari Colombus sendiri, bahwa pada 21 Oktober 1492 dia melihat masjid dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba. Ini menunjukkan bahwa Colombus pun mengakui bahwa sudah ada sejumlah masyarakat di Amerika yang memeluk agama Islam, sebelum kedatangannya. Colombus mengira bahwa pulau tersebut masih perawan, belum berpenghuni sama sekali. Mereka berorintasi menjadikan pulau tersebut sebagai perluasan wilayah Spanyol. Tetapi setelah menerobos masuk, Columbus ternyata kaget menemukan bangunan yang persis pernah ia lihat sebelumnya ketika mendarat di Afrika. Bangunan megah itu adalah Masjid yang dipakai oleh Orang-orang Islamuntuk beribadah. Semula Columbus disambut dengan ramah oleh suku Indian, tetapi setelah ketahuan niat buruknya datang di pulau itu, Colombus banyak mendapat resistensi dari penduduk setempat. Beberapa armada kapal milik rombongan Colombus ditenggelamkan oleh suku Indian sebab mereka merasa terganggu dan terancam oleh kedatanganColombus.
4. Indian Muslim
Yang menarik adalah islamnya suku-suku asli yang menghuni benua Amerika, yaitu Indian. Tercatat begitu banyak bukti bahwa suku-suku itu banyak yang sudah mengenal agama Islam, seperti Apache,Cherokee, Sioux, Anasazi, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah (mirip nama mekkah Al-Mukarramah),Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.
Begitu banyak bukti bahwa bangsa Indian sudah memeluk agama Islam. Misalnya, beberapa tulisan cherokee abadke-7 terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan tulisan Muhammad dalam bahasa Arab. Ciri lainnya adalah tentang kostum yang dikenakan oleh bangsa Indian. Ternyata banyak kepala suku Indian mengenakan tutup kepala khas orang Islam, seperti sorban. Bahkan mereka mempunyai aksara Syllabary yang mirip aksara Arab. Dan fakta yang tidak terbantahkan, adalah sebuah naskah perjanjian antara pemerintah Amerika dan Kepala Suku Indian Cherokee. Nashkah itu hingga kini masih tersimpan rapi di gedung Arsip Perpustakaan Nasional di ibukotaWashington DC. Yang menarik, nama kepala Suku Cherokee adalah Abdel-Khak and Muhammad Ibnu Abdullah. Jelas itu nama muslim. Namun populasi suku Indian yang banyak menganut agama Islam menurun drastis akibat pembantaian. Salah satunya kebijakan resmi pemerintah USA berupa Indian Removal Act tahun 1830 yang memberikan izin resmi buat bangsa Eropa untuk mengusir atau membunuh bangsa Indian. Tercatat lebih dari 70.000 orang indian di usir dari tanahnya sehingga mengakibatkan ribuan orang meninggal.
4. Islam Di Australia
Sejarah masuknya Islam ke Australia dimulai dari interaksi pertama kali nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan (Indonesia) dengan penduduk asli di bagian Utara Australia (Aborigin) pada sekitar tahun 1750. Tidak banyak jumlah Muslim yang tinggal di Australia saat itu, sampai pada sekitar tahun 1860 serombongan penggembala onta berasal dari Afganisthan datang ke Australia menambah jumlah Muslim yang tinggal di Australia.
Pada abad ke 19 Australia mempunyai banyak daerah/tanah yang kaya akan sumber daya alam yang belum tereksploitasi. Sebagian besar dari tanah tersebut berupa padang pasir dengan temperatur yang sangat tinggi dengan sedikit sumber mata air. Onta merupakan binatang ideal untuk kondisi tersebut, maka pada tahun 1840 seorang bernama Horrick memasukkan (import) pertama kali onta ke Australia, dia ingin membandingkan antara onta dan kuda sebagai hewan pengangkut barang di padang pasir, tetapi missi ini gagal. Kelompok onta selanjutnya datang pada tahun 1860 sebanyak 24 onta. Dengan mencoba mempergunakan onta sebagai hewan pengangkut, Australia membutuhkan orang-orang yang ahli dalam mengendarai dan mengoperasikan onta, maka didatangkanlah untuk pertama kali orang-orang Afghanistan untuk mengoperasikan 24 onta tersebut, dan tidak lama setelah itu berdatangan lebih banyak Muslim Afghanisthan ke Australia. Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta didatangkan ke Australia dalam kurun waktu antara tahun 1860 sampai 1907.
Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari Afghanistan bekerja sebagai pengangkut barang-barang, air, serta makanan dengan mempergunakan onta di daerah-daerah yang sulit. Para penggembala onta dari Afghanistan ini menemukan tempat yang hampir sama kondisinya seperti di daerah asal mereka di Australia tengah, mereka mengendarai ontanya dan berjalan melintasi padang pasir sekitar 600 km untuk mengangkut barang-barang kebutuhan utama dan penting dari Oodnadatta menuju Alice Springs (Australia Tengah). Kontribusi mereka dalam membuka areal serta jalur umum untuk masyarakat luas di daerah-daerah Australia sangat besar dan penting. Tulang punggung perekonomian tradisional Australia saat itu adalah agriculture dan pertambangan yang sangat membutuhkan onta sebagai alat transportasi beserta penggembalanya.
Dengan berakhirnya era transportasi industri mempergunakan onta pada sekitar tahun 1920, serta peraturan yang lebih ketat dari badan Imigrasi Australia berkenaan dengan sedikitnya populasi warga kulit putih Australia, maka jumlah Muslim Afghanistan yang datang ke Australia menjadi berkurang.
Pada sekitar tahun 1960, disebabkan peraturan yang lebih longgar dari badan Imigrasi Australia berkenaan dengan migrasi bangsa non-Eropa ke Australia, jumlah Muslim yang datang ke Australia menjadi bertambah. Pada sekitar tahun 1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah yang cukup besar terjadi migrasi Muslim dari Lebanon dan Turki ke Australia, dimana jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini berasal dari ke dua Negara tersebut. Jumlah Muslim terbesar yang tinggal di Australia saat ini berasal dari bangsa Arab, dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya Muslim yang berasal dari Lebanon mempunyai jumlah terbesar dan sejarah migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi pertama bangsa Libanon ke Australia terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an. Gelombang kedua migrasi terjadi antara tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama setelah terjadi perang antara bangsa Arab dan Israel pada tahun 1967. Gelombang ke tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi perang sipil di Lebanon. Bangsa Arab lain yang mempunyai populasi terbanyak di Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya bangsa Lebanon, migrasi bangsa Mesir ke Australia terbesar terjadi setelah perang dunia II, migrasi ini terjadi dalam dua gelombang yaitu antara tahun 1947 sampai dengan 1971, dan gelombang ke dua terjadi pada sekitar akhir 1980-an.

5. Islam di Asia Tenggara
a. Sejarah Masuknya Islam Di Asia Tenggara
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
Menurut Uka Tjandra Sasmita, prorses masukya Islam ke Asia Tenggara yang berkembang ada enam, yaitu:
1. Saluran perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang Muslim. Perkembangan selanjutnya mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2. Saluran perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.
3. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal “magic” dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka juga ada yang mengawini puteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa.
4. Saluran prendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.
5. Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam cerita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
6. Saluran politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
b. Negara-Negara Islam Di Asia Tenggara
1) Islam di Malaysia
Islam merupakan agama resmi negara federasi Malaysia. Hampir 50% dari 13 juta penduduknya adalah Muslim dan sebagian besar diantaranya adalah orang melayu yang tinggal di Semenanjung Malaysia. Adapun sisanya terdiri dari kelompok-kelompok etnik yang minoritas yakni diantaranya Cina yang terdiri sekitar 38% dari penduduk Malaysia dan yang lainnya India dan Arab.
Masyarakat Muslim di Malaysia sebagian besar berlatar belakang pedesaan dan mayoritas mereka bekerja sebagai petani. Mereka cenderung dalam kehidupan komunitas masyarakat kampung. Warga perkampungan Malaysia menjalankan praktek-praktek keagamaan, meyakini terhadap roh-roh suci, tempat suci, dan meyakini para wali yang dikeramatkan baik di kalangan Muslim maupun non Muslim. Diantara warga Muslim dan non-Muslim dapat hidup rukun tanpa ada permusuhan sehingga masyarakat di sana tentram dan damai.
Perkembangan Islam di Malaysia telah membawa peradaban-peradaban baru yang diakui Dunia Islam. Sampai saat ini Muslim Malaysia dikenal sebagai Muslim yang taat ibadahnya, kuat memegang hukum Islam dan juga kehidupan beragamanya yang damai serta mencerminkan ke-Islaman agamanya baik di perkampungan maupun dalam pemerintahan. Peranan seorang ulama di sana sangat penting baik dalam segi dakwah dan dalam pengelolaan sekolah-sekolah.
Mengenai hasil peradaban Islam di Malaysia ini juga tidak kalah dengan negara-negara Islam yang lain, seperti:
1. Adanya bangunan-bangunan masjid yang megah seperti Masjid Ubaidiyah di Kuala Kancong.
2. Banyaknya bangunan-bangunan sekolah Islam.
3. Berlakunya hukum Islam pada pemerintahan Malaysia (hukum Islam di sana mendapat kedudukan khusus karena dijadikan hukum negara).

2) Islam di Muangthai
Di Muangthai terdapat sekitar 2,2 juta kaum muslimin atau 4 % dari penduduk umumnya. Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak menganut Islam yaitu di propinsi bagian selatan tepatnya di kota Satun, Narathiwat, Patani dan Yala. Pekerjaan kaum muslimin Muangthai cukup beragam, namun yang paling dominan adalah petani, pedagang kecil, buruh pabrik, dan pegawai pemerintahan. Agama Islam di Muangthai merupakan minoritas yang paling kuat di daerah Patani pada awal abad ke-17 yang pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara dan menghasilkan ulama besar seperti Daud bin Abdillah bin Idris al-Fatani.
Islam di Muangthai adalah agama minoritas hanya 4 %, selain itu masyarakat Muangthai menganut agama Budha dan Hindu. Orang Melayu Muslim merupakan golongan minoritas terbesar ke-dua di Muangthai, sesudah golongan Cina. Mereka tergolong Muslim Sunni dari madzab Syafi’I yang merupakan madzab paling besar dikalangan umat Islam di Muangthai.
Masyarakat Muslim di Muangthai sebagian besar berlatarbelakang pedesaan. Dan Perkembangan Islam di Muangthai telah banyak membawa peradaban-peradaban, misalnya :
1) Di Bangkok terdaftar sekitar 2000 bangunan masjid yang sangat megah dan indah.
2) Golongan Tradisional dan golongan ortodoks telah menerbitkan majalah Islam Rabittah”.
3) Golongam modernis berhasil menerbitkan jurnal “Al Jihad”.
3) Islam di Philipina
Philipina adalah negara kepulauan dengan 7.107 pulau, dengan jumlah penduduk sekitar 47 juta jiwa, dengan menggunakan 87 dialek bahasa yang berbeda-beda yang mencerminkan banyaknya suku dan komunitas etnis. Orang-orang Islam di Philipina menamakan dirinya “Moro”. Namun nama ini sebenarnya bersifat politis, karena dalam kenyataannya Moro terdiri dari banyak kelompok etno linguistik, umpamanya Maranow, Maquindanau, Tausuq, Somal, Yakan, Ira Nun, Jamampun, Badjao, Kalibugan, Kalagan dan Sangil.
Jumlah masyarakat Moro sekitar 4,5 juta jiwa atau 9 % dari seluruh penduduk Philipina. Bila direntang ke belakang, perjuangan bangsa Moro dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu: pertama, berjihad melawan penguasa Spanyol selama 377 tahun (1521-1898). Kedua, Moro melawan pemerintah Philipina.
4). Islam di Nusantara
Sejumlah ahli mengajukan teori bahwa sumber Islam di kepulauan Melayu-Indonesia adalah anak benua India selain Arab dan Persia. Orang pertama yang menggunakan teori ini adalah Pijnappel yang berkebangsaan Belanda dari universitas Leiden. Dia mengaitkan asa-usul Islam di Nusantara ke kawasan Gujarat dan Malabar dengan alasan bahwa orang-orang Arab bermadzhab Syaf’I bermigrasi dan menetap di daerah-daerah tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.
Teori ini kemudian direvisi oleh Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa Islam memperoleh pijakan yang kuat di kota-kota pelabuhan India Selatan. Sejumlah Muslim Dhaka banyak yang hidup disana sebagai perantara dalam perdagangan antara Timur Tengah dan Nusantara yang datang di kepulauan Melayu sebagai para penyebar Islam pertama. Berikutnya Snouck Hurgronje berteori bahwa mereka diikuti oleh orang-orang Arab, terutama yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Dengan memakai gelar Sayyid atau Syarif, yang menjalankan dakwah Islam, baik sebagai para ustadz maupun sultan. Snouck Hurgronje tidak menyebutkan secara eksplisit bagian mana dari India Selatan yang dia lihat sebagai sumber Islam di Nusantara. Meskipun demikian, dia berpendapat bahwa abad ke-12 merupakan waktu yang paling mungkin bagi saat paling awal Islamisasi di kepulauan Melayu-Indonesia.
Ilmuwan Belanda lainnya, Muquette, menyimpulkan bahwa asal-usul Islam di Nusantara adalah Gujarat di pesisir selatan India. Dia mendasrkan kesimpulannya setelah mempertimbangkan gaya batu nisan yang ditemukan di Pasai, Sumatera Utara, khususnya yang bertanggal 17 Dzuhijjah 831 H / 27 September 1428 M, yang identik dengan batu nisan yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim (1419 M) di Gresik, Jawa timur. Dia menyatakan lebih lanjut bahwa corak batu nisan yang ada di Pasai dan Gresik sama dengan yang ditemukan di Cambay, Gujarat. Dia berspekulasi bahwa dari penemuan-penemuan itu, batu nisan Gujarat tidak hanya di produksi untuk pasar lokal, tetapi juga untuk pasar luar negeri termasuk Sumatera dan Jawa. Oleh karena itu, berdasarkan logika linier, Moquette menyimpulkan bahwa karena mengambil batu nisan dari Gujarat, orang-orang Melayu-Indonesia juga mengambil Islam dari wilayah tersebut.
Dengan logika linier yang lemah itu tidak heran kalau kesimpulan Muquette ditentang
oleh Fatimi yang berpendapat bahwa salah jika mengaitkan seluruh batu nisan yang ada di Pasai, termasuk batu nisan Malik al-Shalih, dengan Cambay. Menurut penelitiannya sendiri, gaya batu nisan Malik al-Shalih sangat berbeda dengan corak batu nisan Gujarat dan prototype Indonesianya. Fatimi berpendapat bahwa pada kenyataannya bentuk batu nisan itu sama dengan yang ada di Bengal. Oleh karena itu, sama dengan logika linier Moquette, Fatimi ironisnya menyimpulkan bahwa semua batu nisan itu pasti diimpor dari Bengl. Ini menjadi alasan utamanya untuk menyimpulkan lebih lanjut bahwa asal-asul Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia adalah daerah Bengal (kini, Bangladesh).
Agaknya teori Fatimi sangat terlambat untuk menolak teori Moquette karena ada sejumlah pakar lain yang telah mengambil alih kesimpulan Moquette. Yang menonjol diantara mereka adalah Kern, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrieke dan Hall. Namun, sebagian diantara mereka memberikan tambahan argumentasi untuk mendukung Moquette. Ahli sastra Melayu, William Winstedt, misalnya menunjukkan batu nisan yang sama di Bruas, tempat sebuah kerajaan melayu Kuno di Perlak, Semenanjung Malaya. Dia menyatakan bahwa semua batu nisan di Barus, Pasai dan Gresik diimpor dari Gujarat, maka Islam pasti pula dibawa dari sana. Dia juga menulis bahwa sejarah melayu mencatat adanya kebiasaan lama di daerah Melayu tertentu untuk mengimpor batu nisan dari India. Sosiolog asal Belanda, Schrieke, mendukung teori itu dengan menekankan peranan penting yang dimainkan oleh para pedagang Muslim Gujarat dalam perdagangan di Nusantara dan sumbangan mereka terhadap penyebaran Islam.
Namun, sebagian ahli lain memandang teori yang menyatakan asal-usul Islam di Nusantara adalah Gujarat tidak terlampau kuat. Marison, misalnya berpendapat bahwa beberapa batu nisan di bagian tertentu Nusantara mungkin berasal dari Gujarat, tetapi tidak selalu berarti bahwa Islam juga dibawa dari sana ke kawasan ini. Marison membantah teori tersebut dengan menunjukkan kenyataan bahwa selama masa Islamisasi Samudera Pasai, yang penguasa Muslim pertamanya meninggal pada 698 H / 1298 M, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu yang menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang-orang Muslim. Baru pada tahun 699 H / 1298 M wilayah Cambay dikuasai oleh kaum Muslim. Jika Gujarat merupakan pusat para juru dakwah Islam dalam melakukan perjalanan menju kepulauan Melayu-Indonesia, maka Islam pasti telah tegak dan tumbuh subur di Gujarat sebelum kematian Malik al-Shalih, persisnya, sebelum 698 H / 1297 M. Morrison lebih jauh mencatat, bahwa meskipun kaum Muslim menyerang Gujarat beberapa kali pada 415 H / 1024 M, 574 H / 1178 M dan 695 H / 1197 M, para raja Hindu mampu mempertahankan kekuasaan disana sampai 698 H / 1297 M. Kesimpulannya, Morison mengemukakan teorinya bahwa Islam di perkenalkan di kepulauan Melayu-Indonesia oleh para juru dakwah Muslim dari Coromandel pada akhir abad ke-13.
Penting dicatat bahwa menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal kedatangan Islam, melainkan juga dari wilayah Arab. Dalam pandangannya, padagang Arab juga membawa Islam ketika mereka menguasai perdagangan Barat-Timur semenjak awal abad ke-7 dan ke-8. Meskipun tidak ada catatan sejarah ihwal penyebaran Islam oleh mereka, adalah patut diduga bahwa dalam satu hal atau lainnya mereka terlibat dalam penyebaran Islam kepada kaum pribumi. Argemen ini tampaknya lebih masuk akal jika orang mempertimbangkan, misalnya, fakta yang disebutrkan sebuah sumber di Cina bahwa menjelang perempatan ketiga abad ke-7 seorang Arab pernah menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir Barat Sumatera. Beberapa orang Arab ini melakukan kawin campur dengan penduduk pribumi sehingga kemudian membentuk nucleus sebuah komunitas Muslim yang para anggotanya, ungkap Arnold telah memeluk Islam.
Menurut Hikayat raja-raja Pasai yang ditulis setelah 1350 (Hill, 1960:58-60), seseorang bernama Syaikh Ismail datang dengan perahu dari Makkah lewat Malabar menuju Pasai, tempat dia menonversi Merah silau, penguasa daerah tersebut ke dalam Islam. Merah Silau kemudian menggunakan gelar Malik al-Shaleh, meninggal Dunia 1297 M. Kira-kira satu abad kemudian, sekitar 1414 M, menurut sejarah Melayu (yang dikompilasi setelah 1500), penguasa Malaka juga diislamkan oleh Sayyid Abd Al-Aziz, seorang Arab berasal dari Jeddah. Sang penguasa, Parameswara menggunakan nama dan gelar Sultan Muhammad Syah tidak lama setelah masuk Islam.
Ada empat hal utama yang ingin disampaikan historiografi tradisional lokal semacam ini. Pertama, Islam di Nusantara di bawa langsung dari tanah Arab. Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru atau Juru Dakwah ‘profesional”. Ketiga, orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah para penguasa. Keempat, sebagian besar para juru dakwah “professional” datang di Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Orang-orang Muslim dari luar memang telah ada di Nusantara sejak abad pertama Hijriah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Arnorld dan ditegaskan oleh kalangan ahli Melayu-Indonesia, tetapi jelas bahwa hanya setelah abad ke-12 pengaruh Islam dikepulauan Melayu menjadi lebih jelas dan kuat. Oleh karena itu, Islamisasi tampaknya baru mengalami percepatan khususnya selama abad ke-12 sampai abad ke-16.

6. Benturan dan dan Dialektika Kawasan Timur dan Barat

Menurut Samuel P Huntington, akan terjadi “ Clash of Civilization “, Clash berarti pertentangan/benturan, jadi akan ada semacam pertentangan antara peradaban yg merupakan sebuah entiti kultural menggantikan entitas negara yg konvensional. Akan ada sekitar 8-10 peradaban besar yg nantinya akan mendominasi dinamika politik dan konflik di dunia. Masing-masing entitas “peradaban“ tersebut memiliki dinamika sejarah yg bergesekan dengan entiti lainnya. Barat misalnya, memiliki persengketaan dengan dunia Islam, Dan Islam-lah yg memiliki hubungan persengketaan terbanyak dengan Barat. Pemikiran Samuel ini rupanya begitu mempengaruhi dinamika sejarah dan politik akhir-akhir ini, dimana pasca teori itu diserap ke dalam mindset Gedung Putih, Amerika memiliki musuh baru yang bernama Islam.
Meski banyak ditentang, teori tentang benturan peradaban yang pernah dimunculkan oleh cendekiawan Amerika Samuel P. Huntington pada faktanya tidak bisa dipungkiri. Pasca era Perang Dingin, dengan melihat realitas politik yang ada, kita melihat bahwa benturan antara peradaban Barat dan Islam sesungguhnya sedang berlangsung. benturan peradaban hakikatnya adalah benturan yang terjadi antara sejumlah pemikiran dan atau ideologi yang berbeda atau bertolak belakang.
Banyak analisis yang menjelaskan sebab dan faktor yang memicu terjadinya benturan peradaban antara Islam dan Barat ini. Secara ringkas, dapat kita bagi menjadi 2 faktor utama sebagai berikut:
a. Faktor agama
Sejarah telah mencatat bahwa baratlah yang memulai perang terhadap umat Islam yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Salib. Perang Salib terjadi selama 1 abad (1096–1192 M), yang berlangsung selama tiga tahap: antara tahun 1096–1099 M; antara tahun 1147–1149 M; dan antara tahun 1189-1192 M.
b. Faktor ekonomi
Lenyapnya institusi Khilafah telah melebarkan jalan bagi negara imperialis Barat untuk menghisap berbagai kekayaan alam milik umat Islam. Sejak masa penjajahan militer era kolonial hingga saat ini, Barat telah melakukan eksploitasi besar-besaran atas sumberdaya alam yang dimiliki umat Islam.
Secara geopolitik, negeri-negeri Islam berada di kawasan jalur laut dunia yang strategis seperti Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Dardanella dan Bosphorus yang menghubungkan jalur laut Hitam ke Mediterania, Selat Hormuz di Teluk, dan Selat Malaka di Asia Tenggara. Dengan menempati posisi strategis ini, kebutuhan dunia terutama Barat sangat besar akan wilayah kaum Muslim. Ditambah lagi dengan potensi penduduknya yang sangat besar, yakni lebih dari 1.5 miliar dari populasi penduduk dunia.
Walhasil, benturan antara kepentingan umat Islam yang ingin mempertahankan hak miliknya dan kepentingan negara Barat kapatalis tidak terhindarkan lagi.









C. SIMPULAN
Islam masuk wilayah Afrika adalah pada saat daerah itu berada di bawah kekusaan kekaisara Romawi. Penaklukan daerah ini pada dasarnya sudah mulai dirintis pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab. Pada tahun 640 M Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir, setelah sebelumnya mendapat izin dari Khalifah Umar untuk menaklukkan daerah itu.
Proses masukya islam di benua Eropa tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya islam di Spanyol. Spanyol berhasil diduduki umat islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), Salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Menurut Dr. Badri Yatim sebagaimana di kutip oleh Drs. Samsul Munir Amin, sejarah panjang islam di Spanyol dapat di bagi dalam enam periode.
Ada banyak versi tentang siapakah yang pertama kali membawa agama Islam ke Amerika. Salah satunya yang bisa disebut adalah Khashshah bin Said bin Aswad yang tercatat dalam sejarah pada tahun 889 masehi telah mendarat di benua itu. Dia seorang navigator muslim yang berasal dari Qordoba, Spanyol. Sebagaimana kita ketahui, Spanyol saat itu merupakan pusat peradaban Islam di Barat, di bawah pimpinan Khilafah Bani Umayah II.
Sejarah masuknya Islam ke Australia dimulai dari interaksi pertama kali nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan (Indonesia) dengan penduduk asli di bagian Utara Australia (Aborigin) pada sekitar tahun 1750. Tidak banyak jumlah Muslim yang tinggal di Australia saat itu, sampai pada sekitar tahun 1860 serombongan penggembala onta berasal dari Afganisthan datang ke Australia menambah jumlah Muslim yang tinggal di Australia.
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara. Menurut Uka Tjandra Sasmita, proses masukya Islam ke Asia Tenggara yang berkembang ada enam yaitu : Saluran perdagangan, Saluran perkawinan, Saluran Tasawuf, Saluran prendidikan, Saluran kesenian, dan Saluran politik.
Menurut Samuel P Huntington, akan terjadi “ Clash of Civilization “, Clash berarti pertentangan/benturan, jadi akan ada semacam pertentangan antara peradaban yg merupakan sebuah entiti kultural menggantikan entitas negara yg konvensional. Banyak analisis yang menjelaskan sebab dan faktor yang memicu terjadinya benturan peradaban antara Islam dan Barat ini. Secara ringkas, dapat kita bagi menjadi 2 faktor utama.

DAFTAR PUSTAKA
Amin , Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Amzah, 2009).
Anshori, Ibnu dan Muhlisin, Sejarah Peradaban Islam, 2006.
Dudung Abdurrahman [et.al.]; Sejarah peradaban Islam: dari masa klasik hingga modern (Yogyakarta : LESFI, 2002).
Harmanza, Membedah Teori Benturan Peradaban Samuel Huntington, 2010. Online (http:http://harmanza.wordpress.com/2010/06/04/membedah-teori-benturan-peradaban-samuel-huntington/) diakses tgl. 30 Juni 2011.
Majalah Al Hijrah, Muslim Di Afrika,2009. Online (http: http://alhijrah.cidensw.net). Diakses tgl 30 Juni 2011.
Lazuardi, Muhammad, Benturan Peradaban Islam Vs Barat, 2007. Online (http://khilafahislam.multiply.com/journal/item/50) diakses tgl. 30 Juni 2011.
(http://www.scribd.com/doc/44983414/Meneliti-Sejarah-Awal-Masuknya-Islam-Ke-Amerika) diakses tgl. 30 Juni 2011.



0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer