top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

8 Juni 2011

Bersikap Tulus

Bersikap Tulus Terhadap Orang Lain

(Erabaru.or.id) - Kemarin malam ketika saya pergi ke tempat pelelangan, mencari bos yang aku kenal untuk berbincang-bincang. Kebetulan istrinya juga datang membantu di sana, maka kami bertiga pun berbincang bincang. Sang istri bercerita tentang peristiwa yang pernah dia alami pada beberapa tahun yang lalu.



Bersikap Tulus Terhadap Orang Lain

(Erabaru.or.id) - Kemarin malam ketika saya pergi ke tempat pelelangan, mencari bos yang aku kenal untuk berbincang-bincang. Kebetulan istrinya juga datang membantu di sana, maka kami bertiga pun berbincang bincang. Sang istri bercerita tentang peristiwa yang pernah dia alami pada beberapa tahun yang lalu.
Kira-kira 6 tahun yang lalu, setelah menikah, istri bos mempunyai anak, maka dia lalu tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya selama sepuluh tahun lebih.
Hingga 6 tahun yang lalu, dikarenakan anak-anaknya telah beranjak besar dan tidak perlu didampingi lagi atau dilayani sepanjang hari, maka dia berpikir untuk bekerja kembali agar bisa mendapatkan pemasukan lebih untuk menunjang keuangan rumah tangganya.
Sebelum menikah, istri bos itu bekerja sebagai seorang akuntan. Pekerjaannya sangat sederhana, yaitu mencatat bon dan nota, lalu pergi menyetor uang ke bank. Hubungan dengan teman teman sejawat juga tidak terlalu rumit.
Setelah menikah dan sudah istirahat selama sepuluh tahun lebih, dia ingin bekerja kembali. Kali ini dia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik yang besar, dan mengemban tugas sebagai Quality Control (QC).
Karena perusahaan ini besar dan memiliki ribuan karyawan dan pekerjaannya sebagai Quality Control sangat erat hubungannya dengan bagian produksi, maka rekan kerja yang berhubungan dengannya juga sangat banyak. Jika dibandingkan dengan lingkungan kerjanya yang dulu boleh dibilang jauh lebih rumit.
Sewaktu baru masuk kerja, dia sangat berharap bisa berhubungan baik dengan semua rekan kerja, maka dari itu ketika dia menghadapi dan bergaul dengan orang boleh dibilang selalu menaruh kepercayaan penuh kepada orang lain. Dan tentu saja dia juga berharap bisa mendapatkan sikap yang sama dari orang lain.
Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, mendadak dia menemukan ada seorang rekan kerja yang sangat dia percayai, diluar dugaan demi menunjukkan kebaikan diri sendiri kepada staff lain, telah menyebarkan isu fitnahan tentang istri bos itu. Di belakang punggungnya rekan itu telah mengeluarkan kata-kata fitnahan yang tidak sedap dan memutar balikkan perkataan tulus yang pernah dia ucapkan.
Pada akhirnya ketika istri si bos itu menyadari akan peristiwa yang terjadi, sudah banyak staf lain yang terlanjur mempercayai fitnahan yang disebarkan itu. Sehingga mereka semua timbul antipati terhadapnya.
Pada waktu itu, dia ingin meluruskan fakta yang sebenarnya, akan tetapi malah dicurigai dan tidak dipercaya oleh mereka. Akibatnya sebuah hati yang semula baik, seketika itu terasa pe-dih dan mengeluarkan darah bagaikan tersayat pisau.
Ketulusan hati dibalas dengan kecurigaan dan antipati. Hal ini membuatnya membentengi diri ke dalam dunianya sendiri. Dia tidak berani lagi bergaul dan mengadakan kontak dengan orang lain. Yang terparah bahkan pulang ke rumah pun tidak berani berbicara dengan anak dan suami sendiri, dia trauma, takut jika orang-orang terdekatnya juga akan melukainya dengan cara yang sama.
Kemudian suaminya dengan kesabaran dan kemurahan hati, selalu memberi bimbingan. Seiring dengan berlalunya waktu, berangsur-angsur dia bisa keluar dari masa suram ini.
Kemarin ketika mendengarkan dia bercerita tentang peristiwa yang sudah berlalu ini, raut wajahnya masih menyiratkan sebersit kesedihan. Bisa dibayangkan ketika peristiwa ini terjadi pada lima tahun yang lalu, betapa beratnya pukulan itu terhadap seorang “masyarakat baru” yang baru kembali bermasyarakat setelah meninggalkan pekerjaannya selama sepuluh tahun lebih.
Dia berkata, jangan melihat dia sekarang dapat bercerita dengan ringan, jika pada beberapa tahun yang lalu dia bercerita tentang peristiwa ini, masih bisa merasa sedih hingga meneteskan air mata.
Akhirnya saya bertanya apakah rekan kerja yang memfitnahnya itu masih berada di perusahaan sampai sekarang?
Dengan tertawa dia berkata, “Masih ada, hanya sekarang ini tidak ada seorang pun yang sudi memperdulikan dia, karena semua orang pada akhirnya mengetahui bagaimana dia sebenarnya.”
“Lalu para staf yang lain apakah masih antipati terhadap Anda?” saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Mereka semuanya baik, setelah memahami bahwa saya benar benar tulus, semuanya menjadi teman baik lagi”
Jawaban darinya ini mengharapkan mereka yang biasa mengadu domba kepada orang lain agar memperhatikan hal ini. Juga bagi mereka yang bersikap tulus terhadap orang lain, akan mendapatkan Semangat dan Keyakinan ! (The Epoch Times/lin)
Seni Berbicara
(Erabaru.or.id) - Ada seorang ibu mertua, cukup bijaksana. Anak dan menantunya sesudah menikah lantas bersama-sama ke Amerika dan kuliah di sana. Suatu hari, saat ke Amerika menengok mereka, menjumpai anaknya menjadi gemuk sedangkan menantunya kurus, ia merasa kasihan dan berkata, “Kenapa menjadi kurus seperti ini?”
Sang menantu yang muda belia untuk sesaat tak dapat menahan diri dan berkeluh kesah kepada ibu mertuanya. Ia mengeluhkan suaminya yang pemalas dan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Ketika di luar mencari jalan saja, juga sering keliru. Dalam mengerjakan apapun sering tidak benar.
Sesungguhnya, di dunia ini mana ada mertua yang mau mendengar si menantu mengeluh tentang anaknya. Kebanyakan mertua akan tak tahan dan membela anak sendiri, tetapi mertua modern ini cukup pintar, sesudah mendengar keluhan sang menantu, dia hanya tersenyum dan mengucapkan sepatah kata, “Tetapi ada suatu hal yang ia kerjakan dengan benar.”
”Apakah itu?”
“Yakni ia telah mempersuntingmu.” Setelah mendengar itu, menantunya bungkam seribu bahasa.
Ada seorang suami, juga cukup bijak. Dalam bekerja ia sangat giat, sesudah menikah karena bagian personalia kantor hampir lumpuh, karyawan lama mengundurkan diri belum ada yang menggantikan, membuat pekerjaannya semakin hari semakin berat saja, setiap hari selalu bekerja lembur.
Sang istri yang pengantin baru mengetahui suaminya begitu rajin, tetapi tak dapat dihindari hatinya selalu mengeluh, “Betulkah ada begitu banyak tugas yang dikerjakan? Selalu saja larut malam baru pulang, sesudah pulang masih nongkrong di depan monitor komputer mengadakan konferensi jarak jauh? Hidup seperti ini, tidak ada kualitas sedikit pun……
Suatu hari, si suami mestinya akan pergi makan malam bersamanya, tetapi karena harus lembur maka tidak jadi. Si isteri sendirian dan merasa jengkel di rumah, di saat sang suami datang dan membuka pintu, tak terbendung langsung menghujani dengan omelan, “Hari ini kalau tidak lembur, apakah perusahaan bisa bangkrut? Untuk apa membuat diri sendiri begitu lelah, tak bisakah bicara dengan atasan bahwa kamu tidak bisa lembur setiap hari?”
Umumnya suami, tidak akan bisa menahan omelan istri saat dirinya sendiri lelah tak karuan. Tetapi ia yang loyo karena kecapekan malah berkata dengan lembut kepada istrinya, “Tahukah kamu, sewaktu saya kerja lembur, memikirkanmu adalah hiburanku satu-satunya, maka tak lagi merasa capek.”
Mendengarnya, sang istri tertawa bagaikan bunga persik tertiup angin sepoi, tidak lagi mempermasalahkan makan malam bersama yang batal.
Ilmu humor yang unggul, adalah tatkala orang normal sedang ingin marah, masih mampu mengalihkan suasana, dengan mudahnya mematikan sumbu dinamit yang sudah menyala.
Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal kecil yang bisa saja saling menimbulkan konflik dan ketidakakuran. Kita bisa coba mempelajari dan mempraktekkan seni berbicara seperti contoh diatas. Itu adalah semacam kungfu canggih dalam “menjadi orang”. (Chen Chen/The Epoch Times/whs)
Mengapa Semakin Besar Anak, Semakin Tidak Sopan?
(Erabaru.or.id) - Anak saya Fani saat kecil sangat sopan, bila bertemu dengan orang yang lebih tua dia selalu berinsiatif untuk menyapa mereka, dia akan berkata, “Selamat pagi” atau “Terima kasih” dan lain-lain. Namun semakin besar, dia menjadi semakin kurang berinisiatif. Suatu ketika saat saya mengajak dia pergi ke rumah seorang teman, teman saya memberinya satu kotak sari buah, dan beberapa mainan anak, saya telah memberinya petunjuk, ”Kamu harus berkata apa kepada tante?” Dia tidak mengindahkan, malah bertanya, “Mana sedotannya?” Di saat lain, ketika saya sedang berbincang-bincang dengan teman saya, dia selalu memutus pembicaraan kami. Kejadian semacam ini sering kali terjadi, nasihat yang kami katakan, semuanya sia-sia . Saya pun tidak tahu harus bagaimana?
Kemudian orang bijak memberi saran. Menurutnya, watak hakiki dari anak itu sebenarnya baik, di masa kecil saat Anda mengajarkan bahasa sopan satun, dia bisa mempergunakannya, tetapi jika dia tidak mengerti mengapa harus berkata demikian, maka setelah agak besar perhatiannya mungkin akan beralih, dan sudah tidak teringat lagi dengan kata-kata itu. Seperti halnya dengan Fani, ketika Anda mengira harus mengucapkan terima kasih, dia lebih menaruh perhatiannya pada “penghisap”,ingin segera menikmati minuman sari buah itu.
Sopan santun, adalah manifestasi dari seseorang untuk menyampaikan rasa hormat, menghargai, atau menyayangi. Untuk membina seorang anak agar dapat menjadi seorang anak yang santun, sebenarnya titik krusialnya terletak pada benihnya. Benih untuk menghormati orang lain itu harus tertabur di dalam hati anak itu.
Saat mengajar anak bersikap sopan terhadap orang lain, maka harus memberitahukan alasannya pada anak itu, mengapa orang itu patut dihormati atau patut dihargai, mengapa patut disayangi,dan lain sebagainya.
Misalnya, ketika Anda dan anak keluar masuk pintu gerbang kampung/perumahan, dan menyapa paman satpam, atau paman pengatur kebersihan, maka boleh memberitahukan kepada anak bahwa tempat tinggal kita dijaga dan dibersihkan oleh paman-paman tadi, sehingga lingkungan kita rapi, bersih, dan aman dari pencuri.
Kita juga harus menjelaskan kepada anak bahwa masyarakat kita ini terdiri dari berbagai lapisan orang yang berbeda profesi. Melalui pekerjaan mereka masing-masing, orang-orang itu bukan hanya mendapatkan uang imbalan jasa bagi keluarganya saja, tetapi mereka juga telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan kemakmuran masyarakat, seperti halnya dokter, guru, polisi, pengacara, pedagang, pegawai dan lain sebagainya.
Kita juga harus berterima kasih kepada mereka, menyayangi dan menghargai pengorbanan mereka. Juga harus menegaskan kepada anak bahwa orang tua, guru dan orang-orang yang lebih tua memiliki budi yang sangat besar, sehingga mereka juga adalah orang-orang yang harus kita hormati.
Menghormati dan menghargai, kedua hal ini bisa dibina. Kehidupan sehari-hari merupakan materi pelajaran yang paling baik, dan keluarga merupakan sebuah kelas yang khusus di luar sekolah. Pertama-tama orang tua di dalam keluarga harus menjadi teladan untuk menghormati dan berbakti kepada orang yang lebih tua, selalu menghargai orang lain, bersamaan itu orang tua sendiri juga harus saling menghormati.
Tingkah laku dan tutur kata dari orang tua mempunyai efek yang paling besar bagi si anak untuk meniru, karena boleh dikata orang tua adalah orang-orang yang berada paling dekat dengan mereka, dan merupakan model yang tiap hari dilihatnya sehingga secara tidak sadar akan tertanam dalam sanubarinya dan akhirnya membentuk menjadi karakternya.
Ada sebagian orang tua yang saling menuduh, saling mencari kesalahan masing-masing, atau membicarakan kejelekan orang lain di belakang orang, semua ini memberikan dampak yang sangat jelek bagi anak, di dalam hati anak itu penuh dengan anggapan hina kepada orang lain, lalu bagaimana dia bisa menjadi santun?
Ingin agar anak bisa menghormati orang lain, pertama-tama Anda harus menghormati anak itu.
Ketika anak itu berbicara kepada Anda, Anda harus melepaskan pekerjaan yang sedang Anda lakukan, dan secara fokus mendengarkan ucapannya, agar anak itu merasakan bahwa Anda benar-benar ingin tahu pikirannya, menyayangi dan menghargai pendapatnya.
Bersamaan dengan itu, Anda juga harus membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati dan tidak boleh dibantah, contohnya seperti: saat mendapatkan bantuan dari orang lain harus mengucapkan “Terima kasih”, berbuat kesalahan harus minta maaf, tidak peduli alasan apa pun juga tidak boleh memukul, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang kotor kepada orang dan lain-lain.
Ketika timbul konflik antara orang tua dan anak, harus memperbolehkan anak menjelaskan, tetapi harus menuntut anak itu menggunakan nada yang sopan dalam berbicara.
Jika Anda tidak bereaksi terhadap ucapan kasar yang dikeluarkan oleh anak, sebentar saja anak itu akan menganggapnya biasa, tidak memperdulikan apakah perkataannya itu bisa melukai orang lain atau tidak.(The Epoch Times/lin)
Saya Sudah Bukan Lagi Diriku
(Erabaru.or.id) - Dalam legenda Yunani kuno alkisah ada sebuah cerita sebagai berikut : ada seseorang yang lupa membawa uang ketika ia bepergian, lalu ia mencari seorang temannya untuk meminjam sejumlah uang.
Setelah berselang cukup lama, orang ini tak kunjung mengembalikan uang yang dipinjamnya sehingga temannya mendatanginya untuk menagih hutang tersebut. Namun orang itu justru berkata, “Segala sesuatunya telah berubah, saya yang sekarang ini bukan lagi saya yang meminjam uang darimu waktu itu.”
Teman yang mendengar pernyataan ini pun naik pitam dan melayangkan tinjunya memukul orang itu dengan penuh amarah. Orang yang telah memungkiri hutangnya ini pun menjadi gusar karena malu dan melaporkan masalah ini kepada aparat.
Di depan aparat, temannya itu pun berkata, “Segala sesuatunya telah berubah, saya yang sekarang ini bukan lagi saya yang memukulmu tadi.” Orang yang memungkiri hutangnya hanya dapat menahan emosinya dengan wajah merah padam dan mata terbelalak hingga hanya menampakkan putihnya saja, dan tidak mampu berkata –kata sepatah pun.
Cerita ini sangat menarik, juga sangat bermakna. Jika ditilik dari sudut pandang manusia, setiap hal yang telah kita lakukan biasanya tidak mudah kita lupakan, sama halnya dengan orang yang telah meminjam uang dari temannya ini, tidak akan lupa semudah itu. Meskipun ia telah lupa, jika diingatkan lagi oleh sang teman, ia pasti akan bisa mengingatnya kembali.
Akan teapi ia telah mengucapkan kata-kata seperti itu untuk memungkiri hutangnya tersebut. Dan temannya itu pun menggunakan cara yang sama untuk memberi pelajaran terhadap dirinya.
Cerita ini seolah mengatakan bahwa saya tetap adalah saya, walaupun segala sesuatu telah mengalami perubahan, walaupun saya sendiri juga telah mengalami perubahan, namun saya tetap adalah saya.
Saya berpendapat : inti yang paling dalam pada diri seorang manusia adalah tidak berubah, saya tetap adalah saya. Namun lingkungan di sekeliling inti ini telah mengalami perubahan setiap saat, saya juga bukan saya lagi, saya sudah bukan saya. Saya adalah saya, tapi juga bukan saya. Hanya di dalam perubahan, saya baru dapat menemukan diri saya yang diam dan tak berubah, hanya di dalam tidak adanya perubahan itu saya merasakan perubahan dalam diri saya.
Memang, saya yang telah meminjam uang pada waktu itu sudah bukan lagi saya yang sekarang ini. Saya yang memukul orang pada waktu itu, juga sudah bukan saya yang sekarang ini lagi. Seorang filosof Barat pernah berkata, “Anda tidak akan mungkin masuk ke dalam aliran sungai yang sama untuk kedua kalinya.” Karena aliran sungai itu sudah berubah, sudah bukan lagi aliran sungai semula. Maka hal itu juga berlaku pada manusia, Anda yang kemarin sudah mati, dan Anda yang hari ini telah terlahir kembali.
Manusia senantiasa berubah setiap harinya dan dalam setiap detik, timbul perubahan jasmaniah, timbul perubahan rohaniah, dan perubahan itu sendiri adalah satu-satunya yang tidak berubah.
Menurut saya kita harus senantiasa menekankan perubahan ini, terlebih-lebih harus menyesuaikan diri dengan perubahan ini, dan tidak bertindak seperti apa yang kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari,mati-matian mempertahankan prinsip diri saya yang tidak akan berubah ini, tidak rela melepaskannya sehingga amat sangat menyiksa diri sendiri.
Ada seorang teman saya yang pada masa mudanya berpacaran dengan seorang gadis, dan cinta mereka sungguh membara namun pada akhirnya si gadis mendadak memutuskan untuk berubah pikiran, dan mencintai seorang pria lain.
Teman saya ini merasa amat terpukul dan sangat tersiksa atas kejadian itu. Hingga hari ini meskipun kejadian itu telah 30 tahun berlalu, setiap kali teringat akan kejadian tersebut ia masih dapat merasakan kepiluan dan hatinya tidak merasa tentram. Hal ini dikarenakan ia telah menyamakan dirinya yang dulu dengan dirinya yang sekarang ini.
Sesuatu kejadian yang kita alami di masa lalu boleh saja kita ingat tapi jangan sampai kejadian dan pengalaman di masa lalu itu mempengaruhi kehidupan kita sekarang ini, mengekang dan mengatur kehidupan kita sekarang, membuat diri kita selalu hidup dalam bayang- bayang masa lalu, perbuatan ini merupakan hal yang paling bodoh.
Harus diingat bahwa saya yang kemarin sudah tidak eksis lagi, dan saya yang ada pada hari ini adalah saya yang benar-benar baru, dengan demikian barulah kita dapat benar-benar hidup di saat sekarang ini.
Saya pernah mendengar suatu kisah : ada seorang juru masak yang dinobatkan sebagai koki yang paling hebat, teknik memasaknya sangat hebat. Tapi dia tidak puas terhadap kehidupannya, lalu ia pun pergi untuk menjadi biksu. Setelah beberapa tahun berlalu, ada seseorang yang berasal dari suatu tempat yang jauh sekali datang ke kuil itu dan bermaksud untuk menawarkan jabatan sebagai koki kepala dengan gaji tinggi.
Biksu itu berkata kepada si pengunjung, “Apa? Saya dulu adalah seorang juru masak yang hebat? Mengapa saya sama sekali tidak mengetahuinya?”
Ia mengatakan bahwa ia telah lupa akan hal itu, setelah selesai mengatakan demikian, ia pun kembali ke dalam kuil dan memakan dengan lahap masakan sederhana yang biasa dimakan oleh para biksu.
Pada hakekatnya ia tidak pernah lupa akan keahlian dan pengalamannya di masa lalu. Justru di sinilah letak kepintarannya, ia berpendapat bahwa ia pada masa lalu sudah tidak eksis lagi, saya yang sekarang adalah saya yang benar – benar baru, melewati kehidupan sekarang ini dengan baik, lalu mengapa harus membiarkan kehidupan masa lalu mempengaruhi kehidupan sekarang ini? Mengapa harus mempertahankan masa lalu saya dan tidak melepaskannya?
Dengan melalui setiap hari dengan baik, berarti telah bertanggung jawab terhadap kehidupan kita sehari-hari, dan hanya dengan mengakui bahwa kita berbeda setiap harinya, barulah kita dapat terjun ke dalam kehidupan setiap hari, dan menikmati kehidupan.
Seorang teman saya merupakan mahasiswa cemerlang lulusan Universitas Beijing telah mendapatkan suatu pekerjaan yang sangat penting dengan jabatan yang tinggi.
Setelah pindah ke Australia ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan kantoran. Pekerjaanya adalah sebagai pekerja harian di pabrik, selain itu dia juga berdagang kecil-kecilan.
Setiap hari ia selalu berkeluh kesah, dan mengeluarkan semua keluhan dan kejengkelannya, kehidupannya menjadi sangat menderita. Hal itu juga merupakan pengaruh dari keakuannya di masa lampau.
Kebanggaan bahwa ia seorang siswa cemerlang lulusan Universitas Beijing telah sirna. Jabatan yang tinggi pun telah berlalu, yang ada hanyalah dirinya sendiri yang harus menghadapi hidup di Australia. Tak peduli dengan cara berdagang kecil-kecilan atau bekerja serabutan, semuanya tidak ada yang buruk. Melewati hari – hari dengan baik di Australia, sebenarnya hal itulah yang terpenting, mengapa harus mempermasalahkan keadaan masa lalu yang telah lewat?
Di dalam kitab Buddha ada suatu kalimat yang berbunyi, “Hati masa lampau tidak didapat, hati masa sekarang tidak didapat, hati yang akan datang tidak didapat.”
Dengan kata lain, setiap hal senantiasa mengalami perubahan, jika hendak mempertahankan sesuatu di masa lampau dan tidak mau melepaskannya adalah suatu tindakan yang bodoh dan menggelikan. Karena sudah sejak dulu hal itu sirna bagaikan air di dalam aliran sungai, selamanya tidak akan bisa ditahan.
Ketika masa lalu berakhir dan masa akan datang dimulai, saat itu kita tidak boleh membiarkan masa lalu kita mengendalikan masa depan kita. Manusia hanya mengikuti perubahan pada diri masing – masing tanpa keterikatan, sepenuhnya hidup dalam kehidupan masing – masing yang benar – benar baru, memasuki kehidupan yang abadi. (Xu Gang/The Epoch Times/lin)
Senyum Ketika Jiwa Mengalami Keterpurukan
(Erabaru.or.id) - Sebagian ahli agama mengumpamakan manusia sebagai sebuah tangga. Tangga bisa digunakan untuk melakukan dua hal: Anda bisa menggunakannya untuk naik ke atas, juga bisa menggunakannya untuk berjalan ke bawah. Persis sama dengan nasib, Anda bisa membuat diri Anda ke atas, juga bisa menggunakannya untuk membuat diri Anda ke bawah. Semua ini tergantung diri Anda sediri.
Seperti halnya dengan kelemahan dan kegagalan dia bisa menjadi alat pemacu yang paling besar bagi diri kita, juga bisa menjadi sebab dari keciutan nyali kita.
Ketika perasaan sedang sulit, mungkin bisa membuat manusia belajar bagaimana menyayangi diri sendiri dan orang lain, begitu juga, ada pula orang yang merasa takut untuk menyayangi.
Kekayaan harta yang berlimpah, bisa membuat manusia belajar bagaimana bisa berbagi dan menguntungkan orang lain, tapi juga bisa membuat watak hakiki dari seseorang menjadi tersesat.Suatu kemalangan yang terjadi,bisa membuat orang bekerja keras demi kemakmuran, namun juga bisa membuat orang terperosok dalam keputus-asaan.
Banyak orang sebenarnya bisa menggunakan “tangga” untuk memperbaiki nasibnya, tapi mereka tidak melakukan, hal inilah merupakan ketidaktahuan mereka.Sebenarnya kita bisa naik setingkat lebih ke atas, tapi tidak bergerak naik, malahan terperosok karena mengeluh dan mengasihani diri.
Beberapa hari yang lalu,saya membaca sebuah cerita:
Ada seseorang dimasa mudanya, telah dituduh oleh orang lain, sehingga masuk penjara selama 9 tahun. Kemudian kasus salah tuduh ini terpecahkan, dan akhirnya orang tersebut bisa keluar dari penjara.
Setelah keluar dari penjara dia mulai tak henti-hentinya mengecam dan mengutuk, “Alangkah malangnya saya ini, dimasa muda yang sedang berprestasi mengalami perlakuan yang tidak adil. Tempat itu layaknya sama seperti neraka, sempit hingga sulit untuk membalikkan badan, sama sekali bukan tempat tinggal manusia.
“Satu-satunya jendela kecil yang berada di sana hampir tak tersinari oleh matahari. Di musim dingin anginnya menusuk tulang, di musim panas ada banyak nyamuk yang menggigit.”
“Saya sungguh tidak mengerti, mengapa Tuhan tidak menghukum orang yang telah memfitnah saya itu, walaupun orang itu dicincang ribuan kali, juga tidak akan melepaskan dendam sakit hati saya!”
Ketika orang ini sudah berumur lebih dari 70 tahun,dia dirundung kemiskinan dan penyakit, yang akhirnya membuat dia tidur di ranjang tidak bisa bangun. Saat akan meninggal, pastur datang disamping ranjangnya, “Anak yang malang, sebelum Anda tiba di surga, mengakulah dosa-dosa yang telah Anda perbuat di dunia fana ini!”
Perkataan pastur itu belum selesai, dia yang berada di atas ranjang sudah berteriak histeris, “Saya tidak perlu pengakuan dosa, yang saya butuhkan adalah kutukan, mengutuk mereka yang menyebabkan saya dirundung oleh kemalangan.”
Mengutuk kemalangan tidak bisa membawakan kebahagiaan. Mereka sudah terbiasa dengan mengutuk dan mengeluh ketika mereka menghadapi kesengsaraan dan kemalangan. Sangat sedikit orang yang bisa berpikir dengan tenang,kesengsaraan itu datang karena apa?
Fungsi tangga bukan agar orang bisa berdiri di atasnya, tapi digunakan untuk dapat memanjat ke atas. Nasib yang sengsara dan menyedihkan juga bukan agar seseorang bisa menerima kesengsaraan begitu saja, tapi agar orang bisa melewati kesengsaraan itu dan bangkit.
Tangga adalah hambatan bagi jalan yang lurus, adalah batu penghalang, tapi jika tangga digunakan untuk meningkat ke atas, dia akan menjadi batu penyanggah.
Saya sangat senang dengan doa dari Jerussalem. Doa ini menyarankan bahwa ketika kami memanjat tangga, bayangkanlah bahwa kita meningkat setapak demi setapak menjadi orang yang lebih baik.
Tangga membuat saya bisa memanjat keatap rumah yang paling tinggi,
Saya dapat melihat pemandangan yang sangat indah.
Asalkan memiliki tangga,saya akan bisa memanjat kerumah surga. Setiap hari dua hingga tiga tapak, berjalan menuju ke rumah surga.
Setiap kali ketika saya menginjak tangga, maka akan berubah menjadi lebih baik, lebih sabar.
Kepada anugerah yang telah Anda berikan hati saya sangat berterima kasih ----The Bridge of Stars, ditulis oleh Marks Blairbulug.
Nasib sama halnya dengan sebuah tangga. Dengan tangga Anda bisa mencapai tingkat lebih tinggi. Tetapi jika Anda terikat pada tangga, atau mengalihkan tangga itu, maka bagaimana Anda bisa meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi?
Manfaat yang paling besar dari nasib, adalah membiarkan orang mempergunakannya untuk melampaui nasib itu sendiri.
Di pinggir jalan ada sebatang pohon buah, pohon tersebut tidak mungkin jatuh dari atas langit, pastilah diatas tanah itu pernah ada biji buah yang pernah jatuh di sana. Pohon buah ini manis, juga pasti ada sebabnya, mungkin karena jenisnya memang manis, mungkin juga karena pernah disetek dan diperbaiki jenisnya.
“Jenis yang manis” adalah takdirnya, “Disetek dan diperbaiki jenisnya” adalah nasibnya. Buah mangga sudah ditakdirkan sebagai buah yang masam, tapi melalui setek dan perbaikan jenis bisa berubah menjadi manis.Disetek dan diperbaiki jenis,kelihatannya seperti mengalami kejadian yang buruk,akan tetapi akan menjadikan dia sebagai buah yang manis. (The Epoch Times /lin)
Kita Dapat Hidup 26061 Hari

(Erabaru.or.id) - Apabila Anda sedang merenungi kehidupan ini, tidak ada salahnya kita mencoba membuat perhitungan sederhana tentang usia manusia. Umur rata-rata orang Asia bisa mencapai 71,4 tahun. Kalikanlah bilangan ini dengan 365 hari, Anda akan dapatkan hasil 26062 hari. Ini adalah angka rata-rata (dalam hitungan hari) kita dapat hidup. Jika Anda tahun ini berumur 15 tahun, Anda sudah menjalani hidup 15 x 365 = 5475 hari, masih tersisa 20586 hari.
Buatlah sebuah hitungan untuk Anda sendiri. Coba lihat berapa hari lagi anda masih bisa hidup.
Suatu ketika seseorang memberikan saran pada saya untuk menganggap setiap hari seolah-olah sebagai hari terakhir hidup saya. Rasanya pesimistik, tetapi ada kebenaran didalamnya. Untuk setiap hari dari hidup kita, ini adalah satu hari dari hidup kita telah berkurang. Kehidupan seringkali digambarkan sebagai sebuah sungai yang panjang. Tetapi benar sepanjang itukah?
Hasil perkalian 26061 hari dengan 24 jam, akan Anda dapatkan 625464 jam. Itu adalah jumlah jam kita dapat hidup. Nampaknya bukan sebuah angka yang kecil, tetapi berapa jam kita habiskan untuk tidur, makan, dan melakukan hal-hal yang sepele? Apakah kita memanfaatkan setiap menit dan detik dengan bijak?
Kita hidup di sebuah era yang serba cepat. Teknologi berubah seiring hari yang berlalu, Maka tidakkah seharusnya kita menyesuaikan diri dan meningkatkan efisiensi kita juga?
Seberapa lama Anda menghabiskan waktu di tempat tidur, bermalas-malasan walaupun telah terjaga? Sementara banyak orang lain telah melakukan senam pagi, menghabiskan sarapan paginya, atau sedang berangkat ke sekolah atau tempat kerja. Sedang Anda tidak melakukan apapun. Sangat sering, keberhasilan Anda tergantung pada seberapa baik Anda memanfaatkan waktu – apakah Anda dapat melakukan sesuatu sebanyak Anda bisa selama waktu yang Anda miliki.
Ingat, kita cuma punya waktu 26061 hari untuk hidup. Berapa harikah sisa hidup Anda? (Xixi/The Epoch)
Keadaan Sulit Adalah Berkah
(Erabaru.or.id) - Suatu rintangan sebagaimana kita tahu adalah satu syarat, apa pun rintangannya dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk melampaui diri kita sendiri, asal kita memiliki kemauan untuk itu.
Suatu hari, seekor singa yang dijuluki si Raja Hutan itu datang ke hadapan Dewa Langit dan berkata, “Hamba berterima kasih kepada Dewa yang telah memberi hamba postur tubuh yang begitu gagah perkasa dan berwibawa, tenaga yang demikian besar tiada banding, membuat hamba memiliki cukup kemampuan untuk menguasai seisi hutan ini.”
Dewa Langit mendengar perkataan itu, tersenyum dan berkata, “Tapi ini bukan tujuanmu menemui saya hari ini, bukan? Kelihatannya engkau sedang dibingungkan oleh sesuatu hal.”
Singa itu mengaum perlahan, ia berkata, “Dewa Langit sungguh memahami hamba! Hamba hari ini datang kemari sebenarnya ada masalah yang membutuhkan pertolongan Dewa. Sebab sehebat apa pun kemampuan hamba, setiap pagi ketika ayam berkokok, hamba selalu kaget terbangun oleh suara kokoknya. Oh Dewa! Mohon Dewa memberi hamba satu kekuatan lagi, agar tidak sampai kaget terbangun oleh suara kokok si ayam itu!”
Dewa Langit tertawa dan berkata, “Pergilah engkau mencari si Gajah, dia bisa memberi jawaban yang memuaskan atas masalahmu!”
Dengan girang Singa itu segera berlari mencari si Gajah, dilihatnya si Gajah sedang menghentak-hentakkan kakinya dengan marah.
Singa berkata pada Gajah, “Mengapa engkau marah- marah, Gajah?”
Gajah itu mengibaskan telinga besarnya dengan membabi buta, sambil berteriak, “Ada seekor nyamuk kecil yang menyebalkan, selalu ingin menyusup ke dalam telingaku, membuat aku hampir mati kegatalan.”
Singa itu meninggalkan gajah sambil berpikir dalam hati, “Ternyata gajah yang berpostur tubuh sebesar itu pun masih takut dengan nyamuk yang begitu kurus dan kecil, lalu masalah apa lagi yang masih saya keluhkan? Bagaimana pun kokok ayam itu hanya sekali dalam sehari, sementara nyamuk-nyamuk itu senantiasa mengganggu si Gajah. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya aku jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan si Gajah itu.”
Sambil berjalan Singa itu menoleh ke belakang melihat si Gajah masih terus menghentakkan kakinya, dalam hatinya ia berpikir, “Dewa Langit menyuruhku untuk melihat-lihat keadaan si Gajah, sebenarnya bermaksud untuk memberitahu, bahwa siapa pun bisa menjumpai masalah yang meresahkan, dan ia tidak bisa membantu setiap orang. Kalau begitu, sebaiknya aku mengandalkan diri sendiri saja! Pokoknya di kemudian hari, ketika ayam berkokok, aku akan menganggap kokok ayam itu sebagai tanda yang memperingatkan aku bahwa sudah seharusnya aku bangun dari tidur. Dengan demikian, suara kokok ayam itu akan menjadi bermanfaat bagiku.”
Hikmah yang melegakan : seberapa lancar perjalanan hidup kita sebagai manusia, begitu kita menemui masalah yang tidak berkenan di hati, kita semua telah terbiasa mengeluh kepada Tuhan yang telah memperlakukan kita dengan tidak adil, lalu berdoa memohon kepada Tuhan untuk memberikan berkah kekuatan yang lebih besar, untuk membantu kita melewati kesulitan tersebut. Sesungguhnya Tuhan Maha Adil, persis seperti saat Dewa menghadapi singa dan gajah, setiap keadaan sulit pasti memiliki makna positif di balik keberadaannya. (Mingxin.net/The Epoch Times/lin)
Kalkulasi dalam kehidupan:
Tidak Mengkritik, Menyalahkan dan Mengeluh
(Erabaru.or.id) - Eugene O'Kelly awalnya adalah presiden merangkap CEO dari perusahaan akuntan terkenal dunia. Bulan Mei 2005, ia menderita penyakit lumpuh pada pipi kanan (cheeks paralysis), saat pergi periksa ke rumah sakit, dokter mendiagnosanya sebagai tumor otak tingkat akhir, usianya tinggal 3 hingga 6 bulan.
Meskipun berada di tengah bayangan redup kematian, Kelly tidaklah menunggu kematian dengan duduk tepekur dengan sedih, sebaliknya dengan aktif melakukan pencatatan 100 hari lebih pasca diagnosa sampai dengan kematiannya, telah menyelesaikan buku berjudul “Mengejar Sinar Mentari”. Dalam buku tesebut dipenuhi dengan gelora kehidupan dan terjual laris di seluruh dunia. Membaca buku itu, membuat saya sering kali merenung.
Apabila Anda hanya bisa menikmati 100 hari lebih, bagaimana Anda melewatinya? Pekerjaan apakah yang hendak Anda manfaatkan untuk hari-hari terakhir? Terhadap orang terkasih, akankah mengatakan perkataan yang biasanya tidak berpeluang me-ngatakannya?
Terinspirasi oleh buku tersebut, saya menelpon adik perempuan saya, memuji kelebihannya yang tidak suka mendendam. Tidak mendendam, betul-betul bukan hal yang mudah, terhadap orang-orang tertentu saya sendiri kadangkala masih bisa merasa sakit hati.
Saya pernah membaca sebuah berita tentang Sri Paus Yohanes ke 23. Beliau pernah mengingatkan diri sendiri di dalam catatan hariannya, harus menghindari mengkomplain dan menyalahkan orang lain. Dari situ bisa terlihat beliau hendak menjadi seorang yang berlapang dada dan tidak suka melihat kekurangan orang lain, juga dibutuhkan koreksi diri yang terus menerus dan kesadaran.
Itulah sebabnya, di dalam Golden Rule (aturan emas) Carnagie tentang hubungan interpersonal, nomor satu ialah: “Tidak mengkritik, tidak menyalahkan, tidak mengeluh.”
Coba bayangkan, apabila ke dalam sebuah botol yang sudah terisi penuh dengan kerikil, tak peduli bagaimana seringnya Anda menuangkan air ke dalamnya, pasti botol itu hanya mampu memuat sedikit air saja, hanya apabila Anda mengosongkan botol tersebut, baru bisa menuangkan air ke dalamnya.
Hubungan interpersonal juga memiliki logika yang sama, apabila terhadap orang lain Anda dipenuhi dengan kritikan, teguran dan keluhan, maka antara dia dan Anda tak akan mampu “teraliri” niat baik dan kehangatan, sangat sulit menegakkan komunikasi yang baik dan interaktif.
Oleh karena itu, Carnegie menorehkan “3 tidak” ini sebagai rule nomor 1 dari Golden Rule, sesungguhnya memiliki makna pengertian yang sangat mendalam.
Pada dasarnya, “Tidak mengritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh” justru adalah semacam “perombakan batin” yang mengubah kita dari sikap yang sebelumnya negatif, runcing tajam, suka mengritik, berubah menjadi proaktif dan positif. Kemudian, tanpa diduga Anda akan menemukan, ketika Anda sudah berubah, seiring dengan itu hubungan Anda dengan orang lain juga akan berubah.
Teringat sewaktu saya baru saja datang ke Amerika untuk mengikuti workshop Carnegie, sudah berusia 40 tahun lebih, telah mengumpulkan sedikit pengalaman hidup, demi nama besarnya menempuh ribuan km, tak dinyana pelajaran pertama adalah “Tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh”, reaksi pertama saya adalah: “Hanya ini saja?! Bukankah terlalu sederhana?” Untuk sesaat, betul-betul merasa agak kecewa.
Pelajaran waktu itu harus ditempuh selama 14 minggu, sesudah 14 minggu, saya sekonyong-konyong menemukan, telah terjadi perubahan gaib pada diri sendiri, “3 tidak” yang digarisbawahi oleh Carnegie, dilihat sekilas nampak sangat mudah, akan tetapi prinsip termudah kadangkala adalah yang termujarab.
Sewaktu di AS saya berkenalan dengan seorang asisten khusus dari presiden direktur sebuah perusahaan besar, wajahnya cantik, namun pergaulannya tidak mulus, sering kali cekcok dengan teman sejawat, dia sendiri juga merasa tidak enak di hati, maka itu suasana hatinya sangat gundah.
Suatu hari, presdir perusahaan berkata kepadanya, “Idealnya Anda cari cara untuk menyelesaikan persoalan interpersonal, jika semua kepala bagian setiap departemen masih saja tidak mampu bekerja sama dengan Anda, maka sayapun tak kuasa me-lindungi Anda lagi.”
Karena itu, wanita tersebut lantas menerima training Carnegie dan mempelajari “3 tidak”. Kemudian, saya menjumpai presdir tersebut, ia memberitahu saya, “Sesudah beberapa minggu, saya seolah tidak berani mempercayai mata saya, saya melihat dengan mata kepala sendiri perubahan pada diri wanita tersebut.”
Karena mempertahankan prinsip 3 tidak, dia tidak lagi sebagai landak yang perlu di-hindari oleh orang-orang, hubungan interpersonalnya telah memperoleh perubahan sangat baik.
Setiap orang bisa saja memiliki duri tajam yang tidak saja melukai orang lain, pada akhirnya ia juga bisa melukai diri sendiri. Bagaimana dari berduri tajam berubah menjadi batu yang bulat mulus, yaitu harus menjalankan tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh.
Prinsipnya sedikitpun tak sulit dipahami. Ketika Anda mengritik dan menyalahkan orang lain, justru seperti menempuh sebuah marabahaya, sangat mungkin melukai kehormatan orang tersebut.
Meskipun kritikan dan teguran Anda bermaksud baik, tapi begitu martabat pihak lain terusik, meski ia tahu dirinya keliru, bisa saja mati-matian membela diri, itulah sebabnya kritik dan teguran serta keluhan, kadangkala hanyalah semacam pelampiasan emosi, yang tak mampu menyelesaikan masalah, malah membuat jarak interpersonal semakin menjauh.
Meskipun hubungan yang paling akrab pun, mungkin saja karena kritik dan teguran serta keluhan lantas menjadi renggang.
Sewaktu kecil, saya sering mangkal di depan gereja menonton misa. Ada seorang pastor bule warganegara Kanada acap kali mengingatkan jemaatnya, hal yang paling mengandung daya perusakan terhadap hubungan keluarga ialah kritik. Banyak orang sebagai suami, atau istri, setiap hari mengomel, senantiasa menunjukkan kekurangan dan kejelekan pihak lain, alhasil perkawinan mereka menjadi hancur.
Kala itu, kami merasakan yang dikhotbahkan sang pastor tidak terlalu masuk akal, akan tetapi, sesudah melalui perjalanan hidup selama ini, menyaksikan banyak perkawinan yang semestinya bisa harmonis toh akhirnya berantakan, mau tak mau mengakui bahwa sang pastor telah melihat bahwa kritikan, teguran dan keluhan, betul-betul adalah pisau tajam bagi kelangsungan hubungan akrab.
Marilah kita simak kisah murid Carnegie, pasutri Li Limei dan Qiu Jiquan.
Limei dan Jiquan yang telah lama menikah, tiba-tiba perkawinannya mengalami gelombang surut. Jiquan yang mengajar selain sibuk di kantor, juga setiap urusan selalu mendahulukan teman-temannya pada posisi utama. Sudah berjanji hendak piknik sekeluarga, namun begitu teman-nya menelpon mengajak main majong (red.: sejenis permainan judi khas Tiongkok), Jiquan dengan segera mendampingi temannya bermain majong.
Sebetulnya ia juga tidak suka main, hanya saja tidak ingin mengecewakan mereka. Juga pernah suatu kali, karena teman ada urusan hendak ke luar negeri selama 2 minggu, Jiquan dengan suka rela setiap hari tepat waktu memberi makan anjingnya, namun mendampingi keluarga makan di luar pun malah tak rela.
Limei merasa dirinya dicampakkan, wajar saja kalau mengajukan protes. Karena cara penyampaian yang tanpa tedeng aling-aling, Jiquan juga tak mau kalah membalas beberapa patah kata. Kedua orang itu larut dalam saling melempar kata-kata tajam bak pedang. Akhirnya lagi-lagi perang dingin selama beberapa hari.
Akhirnya Limei memberanikan diri, mengikuti workshop Carnegie di Tai Dung, Taiwan, dan ia berkesimpulan:
Daripada harus mengubah suami, mendingan mengubah dahulu sikapnya terhadap sang suami. Ketika Jiquan sekali lagi pulang larut malam, Limei membatalkan sikapnya yang pada awalnya hendak siap perang, diubahnya dengan proaktif menyajikan secangkir kopi kepada suami, Jiquan merasa terkejut, pasangan itu mulai berdialog dengan hati tenang dan nada menyejukkan.
Oleh karena Limei tidak lagi dipenuhi dengan keluhan, hubungan pernikahan tersebut mengalami kemajuan, kemudian Jiquan mengikuti workshop Carnegie, menjadi adik seperguruan dari istri dan putrinya, ia memutuskan mengubah sikap acuhnya selama bertahun-tahun terhadap keluarganya, mengharapkan mereka menjadi manusia paling berbahagia di seluruh dunia.
Sekarang, Limei dan Jiquan mengelola penginapan di Tai Dung. Pepohonan dan perdu di taman semuanya dikerjakan Jiquan. Di saat ada tamu berkunjung, penyajian teh ataupun kopi juga dilayani olehnya, total bagaikan seorang lelaki baik-baik yang lagi kasmaran. Segala perubahan ini, semuanya bermuara dari “3 tidak”nya.
Marilah kita menggunakan “3 tidak” pada berbagai hubungan interpersonal, maka Anda akan menemukan, efeknya begitu menakjubkan.
Belakangan ini, para politisi sedang gemar “Bicara ceplas-ceplos”, saling menyerang dengan perkataan yang menusuk tajam, sama sekali tidak ada dialog, hanya saling menyemprotkan air liur.
Saya percaya, jikalau para politisi bisa menyadari makna sesungguhnya dari “tidak mengkritik, tidak menyalahkan orang, tidak mengeluh”, mengurangi konfrontasi yang negatif itu, masyarakat kita pasti bisa berubah harmonis dan jauh lebih indah.
Kembali ke buku “Mengejar Sinar Mentari”, dibandingkan dengan Eugene O' Kelly, kita sungguh-sungguh jauh lebih beruntung, namun jangan dilupakan, kehidupan itu ada batasnya, apabila kita menganggap setiap hari sebagai hari terakhir dari kehidupan kita, maka akan menemukan, memboroskan waktu untuk kritik, celaan dan keluhan, adalah hal yang sangat tidak bernilai. (Disadur dari Kalkulasi Kehidupan, Hei You Long/whs)
Berpikir Demi Orang Lain

(Erabaru.or.id) - Sering orang mengatakan, berpikirlah untuk orang lain, (dalam arti kata, banyaklah berempati, atau ikut memahami perasaan orang lain, atau me-ngutamakan kepentingan orang lain terlebih dahulu).
Sebenarnya perkataan ini mudah diucapkan tapi tidak untuk melaksanakannya. Khususnya di dalam lingkungan masyarakat sekarang ini, banyak sekali konsep buruk yang meracuni cara berpikir manusia. Sehingga memikirkan orang lain menjadi sangat tidak mudah! Mari kita lihat dua kisah cerita di bawah ini.
Cerita Seorang Dokter Muda
Ada seorang dokter yang masih muda, ia membuka praktek sendiri. Ia sangat baik tapi kurang mahir dalam mengobati orang sakit. Oleh karena itu pasien yang datang untuk berobat kepadanya tidaklah begitu banyak.
Sang dokter juga sangat mementingkan nama baik dan reputasi dirinya. Demi reputasinya agar semua orang mau berobat padanya, ia sering menggunakan obat-obatan yang mahal dengan mengenakan bayaran yang murah kepada fakir miskin yang berobat padanya, sehingga dengan demikian ia pun mendapat nama baik.
Suatu hari, si dokter sedang gelisah, sudah menganggur seharian karena tak banyak pasien yang datang. Lalu datanglah seorang ibu membawa anaknya untuk berobat, anak itu kelihatannya sangat kurus dan lemah, tak bersemangat. Kedatangan pasien ini membuat si dokter sangat gembira, setelah memeriksa anak kecil itu, ia pun berkata pada si ibu, ”Tubuh anak ibu ini sangat lemah, saya masih memiliki ginseng gunung yang sangat bagus jika dicampur dengan obat – obatan lain untuk merawat tubuhnya, anak ibu pasti akan segera sembuh!”
Sang ibu berkata, ”Kami adalah orang miskin, tidak mampu membeli obat-obatan yang demikian mahal!”
Dokter itu berkata, ”Saya hanya akan menerima setengah harga saja dari ibu, asalkan anak ibu bisa segera sembuh itu sudah cukup bagi saya.” Lalu dokter pun memberikan anak itu obat untuk dosis pemakaian selama setengah bulan. Ibu dan anak itu pun pulang ke rumah dengan riang gembira.
Sebenarnya anak itu hanya menderita ketidakselarasan limpa dan maag akibat panas dalam yang berkepanjangan, yang telah mempengaruhi selera makannya menjadi menurun sehingga menyebabkan tubuhnya tampak lemah. Yang dibutuhkannya hanya obat untuk membersihkan panas dalam, lalu menggunakan dua atau tiga resep untuk kembali membangkitkan selera makannya, itu sudah cukup.
Tapi dokter ini telah menggunakan obat yang berlebihan... Terbukti benar, setelah minum obat dari sang dokter, anak itu bukan saja tidak sembuh dari penyakitnya tetapi justru semakin tidak bisa makan dan minum, hidungnya terus mengeluarkan darah. Ibunya terpaksa membawanya ke dokter lain untuk didiagnosa kembali, dan akhirnya anak itu baru dapat disembuhkan.
Kisah Seorang Profesor
Ada seorang profesor di sebuah perguruan tinggi yang tenama, karena sibuk meniti karir sang profesor baru mendapatkan seorang anak di usianya yang ke-40. Anak sang profesor sangat lucu dan juga cerdas, dalam hati sang profesor berpikir bahwa kelak ia akan membina anaknya menjadi seorang ilmuwan yang lebih unggul dari pada dirinya. Sejak anaknya berusia 5 tahun ia pun mulai memberikan sang anak berbagai macam pe-lajaran, terutama pelajaran-pelajaran di perguruan tinggi seperti matematika, kimia, dan fisika.
Mula-mula anak itu terlihat sangat berminat, seperti mendengarkan suatu cerita. Tapi jika diminta untuk belajar sungguh-sungguh, anak itu tidak pernah mau, lama kelamaan sang anak pun tak senang lagi mendengar ajaran profesor.
Tapi sang profesor tidak mau menyerah begitu saja, demikianlah anak itu berangsur-angsur tumbuh menjadi anak remaja, yang semakin lama semakin jengkel mendengarkan ajaran ayahnya itu. Mulanya ia hanya menangis kemudian ia pun mulai membolos. Profesor itu menjadi murka, di dalam hatinya ia berpikir bahwa semua yang diajarkannya itu adalah ilmu murni! Orang lain bahkan tidak mungkin mendapatkannya! Ia pun mulai memukuli sang anak untuk memaksanya belajar.
Bertahun-tahun kemudian, anak itu pun tumbuh dewasa, tapi rapor sekolahnya sangat jelek, anak itu benci sekali belajar, hampir setiap kali melihat buku ia akan merasa sakit kepala. Sang profesor masih saja tidak mau menyerah, setiap malam ia terus memberikan pelajaran pada anaknya, bercerita tentang kemajuan teknologi terbaru. Hingga akhirnya pada suatu hari, anaknya pergi ke sekolah dan tidak pernah pulang ke rumahnya lagi, ia meninggalkan rumah itu dan pergi jauh...
Seorang dokter yang tahunya hanya menggunakan obat yang baik tapi tidak memahami bahwa memberi obat pun harus sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Tidak peduli apakah obat yang digunakan itu murah atau pun mahal, hanya dengan penggunaan obat yang sesuai, suatu penyakit baru dapat disembuhkan. Si dokter tidak mengerti akan prinsip penerapan obat yang tepat.
Meskipun dokter ini telah mengenakan biaya murah saat ia mengobati penyakit pasiennya, tapi hanya untuk melindungi sifatnya yang suka menjadi pahlawan bagi orang lain, ia sama sekali tidak lagi mempedulikan keadaan penyakit yang diderita pasiennya. Ia mengira bahwa ia sudah menaruh perhatian dan memikirkan pasiennya, padahal sebenarnya? Sama sekali tidak. Ia sama sekali tidak memikirkan keadaan pasiennya, yang ada dalam pikirannya hanyalah memuaskan sifatnya yang suka menjadi pahlawan.
Profesor tersebut telah keliru memberikan sesuatu yang menurutnya terbaik bagi anaknya secara paksa, tanpa mempertimbangkan kemampuan menerima anaknya. Dengan demikian, ia tidak hanya gagal dalam hal mengajarkan ilmunya kepada sang anak, tetapi juga telah mencelakan diri anaknya karena sang anak sama sekali tidak bisa menerimanya!
Namun sang profesor dari awal hingga akhir masih saja beranggapan bahwa yang ia berikan adalah yang terbaik, mengapa sang anak justru tidak mau? Ia sudah terbelenggu akan pikirannya sendiri, tak terpikir olehnya bahwa ia juga mengawalinya dari SD, lalu SMP, SMA, lalu perguruan tinggi... dan seterusnya, demikian, mempelajari ilmunya setahap demi setahap!
Ia terlalu terikat akan perencanaan terhadap anaknya itu. Ia bisa menjadi seorang profesor yang baik, tapi belum tentu demikian dengan anaknya, menjadi musisi atau penulis, bukankah itu juga sangat baik? Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, memaksakan maksud dan kehendak sendiri pada orang lain, apakah ini berarti kita sudah berpikir demi orang lain?
Seperti bunyi peribahasa, hati yang baik belum tentu dapat mengerjakan hal yang baik. Memang benar, dengan suatu kesungguhan hati memikirkan orang lain seharusnya seseorang dapat memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang tersebut, memberikan sesuatu yang bisa diterimanya, dan bukan berdasarkan pemikiran dan kepentingan diri kita sendiri.
Namun demikian kebaikan seperti ini merupakan kebaikan yang telah berubah wujud, karena menunjukkan suatu kebaikan yang justru menciptakan rintangan, hal inilah yang paling dapat menipu diri sendiri dan menipu orang lain.
Kebaikan mereka (dokter dan profesor) itu semu, tidak mencerminkan empati pada orang lain, walaupun yang ditunjukkan di situ adalah kebaikan terhadap Anda, di dalam hati mereka sesungguhnya masih terikat akan, “Anda harus melakukan hal ini menurut rencana dan pendapat saya.” Apa ini dapat dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain? Sebenarnya mereka hanya memikirkan keterikatan mereka sendiri.
Lalu bagaimana yang dikatakan benar-benar berpikir demi orang lain?
“Saya sering mengatakan suatu ungkapan : jika seseorang tidak memiliki pikiran ego apa pun akan dirinya, tidak berpijak pada sisi kepentingan pribadinya sebagai tolok ukur, dan sepenuh hati senantiasa berbuat demi kebaikan orang lain, maka pada saat ia memberitahukan kekurangan atau kesalahan orang lain, maka orang tersebut pasti akan terharu mendengar penuturannya. Kekuatan dari Shan (kebajikan) ini sangat besar, hanya saja pada umumnya seseorang pada saat memberitahukan sesuatu yang baik pada orang lain acap kali justru membawa serta konsep kepentingan pribadinya. Bahkan ada pula yang takut akan kehilangan, sehingga terbawa serta pula perasaan hati yang berniat untuk melindungi kepentingan diri sendiri. Ada banyak faktor yang tercampur di dalamnya, maka perkataan yang terucap, kedengarannya tidak akan lugu, tidak murni lagi, dan acap kali disertai emosi. ”Jika benar-benar timbul kebaikan dari dalam sanubari Anda, dan tidak ada sedikit pun konsep manusia (=kepentingan pribadi) tercampur di dalamnya, perkataan yang Anda ucapkan benar-benar akan dapat membuat orang lain terharu.” --- Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong.
Saya berpendapat, benar-benar berpikir untuk orang lain, bukan hanya harus dapat menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi, melainkan juga harus menggunakan hati yang murni suci berempati demi orang lain, itulah yang disebut berpikir untuk orang lain yang sesungguhnya. Marilah kita melihat ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sudah benar – benar melakukan berempati atau berpikir demi orang lain? (Qing Yuan/The Epoch Times/lin)
Menghargai Hari Ini
(Erabaru.or.id) - Hal apa pun yang terjadi di dunia ini menyerupai aliran air di sungai, yang setiap saat setiap detik selalu terjadi beraneka ragam perubahan.
Namun di masa kini masih terdapat banyak sekali orang yang tidak mengerti akan bagaimana memanfaatkan sebaik-baiknya hari ini, dan tidak menghargai kesempatan berharga yang telah terpampang di depan mata.
Malah justru mencemaskan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri di masa mendatang nanti. Sesungguhnya waktu sama sekali tak identik dengan uang yang dapat kita tabung sebagai persediaan bila kita membutuhkannya. Yang dapat kita manfaatkan adalah waktu yang seketika ini yang telah diberikan kepada kita, yaitu hari ini, dan sekarang ini.
Di zaman dahulu kala di negeri Tiongkok ada seorang biksu kecil yang tugasnya adalah menyapu halaman kuil hingga bersih. Setiap hari dia harus bangun pagi-pagi sekali.
Sebenarnya halaman kuil sudah sangat bersih, satu- satunya yang perlu disapu adalah dedaunan kering yang rontok dan berserakan dimana-mana. Bangun di pagi hari untuk menyapu rerontokan daun adalah tugas yang sangat menyengsarakan.
Lebih-lebih lagi di saat peralihan musim gugur dan musim dingin setiap tahunnya. Dedaunan beterbangan memenuhi angkasa mengikuti tiupan angin dalam jumlah yang sangat banyak.
Dibutuhkan waktu yang sangat lama setiap paginya untuk dapat membersihkan halaman kuil dari dedaunan tersebut, hal ini sangat memusingkan kepala si biksu kecil, ia terus menerus memikirkan suatu cara yang bagus agar dirinya bisa agak santai.
Kemudian ada seorang bikshu di kuil tersebut yang menganggap dirinya sendiri sangat cerdas, ia berkata pada si biksu kecil, “Besok sebelum kamu mulai menyapu, gunakanlah tenaga yang kuat untuk menggoyang-goyangkan pohon-pohon itu terlebih dulu. Agar semua dedaunan rontok. Bukankah dengan begitu lusa kamu sudah tidak perlu menyapu dedaunan lagi?”
Begitu mendengar perkataan tersebut si biksu kecil lantas berpikir bahwa cara tersebut adalah cara penyelesaian yang baik dan tuntas untuk selama-lamanya.
Maka keesokan paginya ia menggoyang setiap pohon dengan segenap kekuatannya, dengan demikian ia mengira bisa menyapu bersih semua rerontokan dedaunan yang jatuh pada hari ini dan sekaligus juga semua daun yang akan rontok keesokan harinya, sepanjang hari itu ia amat girang.
Namun keesokan paginya ketika si biksu kecil itu pergi ke halaman untuk melihat- lihat, ia segera tertegun : halaman itu masih seperti sedia kala, penuh dengan dedaunan yang rontok yang berserakan di mana – mana.
Ketika itu pula sang kepala biara melewati tempat itu, beliau melihat keadaan si biksu kecil yang menjadi murung. Setelah menanyakan dengan jelas duduk perkaranya, beliau pun berkata pada si biksu kecil, “Anak bodoh, seberapa pun besar tenaga yang telah kau kerahkan, keesokan harinya dedaunan itu masih tetap akan rontok juga.”
Setiap kejadian semuanya adalah kehendak dari Langit. Terdapat sangat banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa kita percepat lebih awal agar terjadi sekarang.
Memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hari ini merupakan sikap menghadapi kehidupan yang paling tepat. Sebenarnya kehidupan ini tidak terlalu banyak memerlukan pengaharapan atas hari esok. Karena pada hakikatnya hari esok itu masih penuh dengan ketidakpastian yang tidak dapat dijelaskan.
Besok, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, bagaimana perubahan di dalam lingkungan di sekitar kita. Karena gambaran di dalamnya itu samar-samar, menyebabkan orang sulit menyadari, sulit memahami dan sulit untuk diraba.
Jika seseorang semata- mata hanya mengharapkan esok hari, maka ia bisa tanpa disengaja memboroskan hari ini dengan sia-sia. Mencampakkan hari ini begitu saja, melepaskan kesempatan yang berharga, sehingga membuat waktu yang begitu indah dari hari ini terlewatkan sambil lalu dengan sia – sia.
Hanya waktu pada hari ini, yang benar-benar nyata. Rel kehidupan di hari ini membuat semua keberhasilan dan kegagalan yang dicapai kemarin menjadi tidak berarti, hari ini bisa menghapus air mata dan kepedihan yang dialami kemarin, membuat cita-cita kemarin terwujud pada hari ini.
Bisa memanfaatkan hari ini dengan sebaik mungkin berarti telah benar-benar menghargai titik terpenting dari waktu, telah menanamkan benih ketulusan dan kebaikan di tanah yang subur pada hari ini, baru dapat memperoleh suatu akhir yang bahagia di kemudian hari.
Menghargai hari ini, Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu. Menghargai hari ini, Anda tidak akan melewatkan kesempatan dan nasib. Menghargai hari ini barulah Anda benar-benar menyayangi jiwa Anda sendiri. Menghargai hari ini, Anda baru akan bisa mendapatkan kehidupan yang kaya dan tanpa penyesalan. (Guang Ming/The Epoch Times/lin)
Tercebur Dalam Air

(Erabaru.or.id) - Socrates (469—399 SM) seorang filosofis Yunani kuno, juga merupakan salah satu pendiri Filsafat Barat. Pandangan Socrates sangat mempengaruhi Plato (salah seorang murid Socrates) dan Aristoteles (murid Plato). Keduanya merupakan ilmuwan dan filosofis Barat yang terkemuka sepanjang jaman.
Suatu hari Socrates hendak menyeberangi sebuah sungai. Karena kurang hati-hati, ia terperosok ke dalam kubangan yang dalam. Ia tidak bisa berenang dan terpaksa hanya meronta-ronta sekuat tenaga di dalam air sambil berteriak minta tolong.
Saat itu, ada seseorang yang sedang memancing di tepi sungai. Mendengar suara teriakan Socrates, bukannya mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya malah menyimpan kail, lalu berdiri dan pergi.
Beruntung murid-murid Socrates datang tepat pada waktunya dan berhasil me-nyelamatkan jiwa sang Guru.
Seketika itu juga murid – muridnya mengganti pakaian Socrates yang basah, dan serempak mengutuk si pemancing sebagai orang yang bermoral rendah, tidak mau menolong orang yang sedang dalam bahaya.
Tak lama berselang, pemancing itu ketika hendak menyeberang sungai, karena kurang hati-hati juga terperosok ke dalam kubangan air yang dalam. Ternyata orang itu juga sama sekali tidak bisa berenang, dan hanya bisa berteriak meminta tolong sambil meronta- ronta sekuat tenaga.
Sungguh kebetulan, Socrates bersama dengan murid-muridnya sedang berjalan di tepi sungai dan mendengar suara teriakan minta tolong si pemancing tersebut. Mereka pun bergegas berlari mendekat, dan dengan menggunakan sebatang bambu yang panjang mereka menolongnya.
Setelah mengetahui wajah orang yang mereka tolong, para murid Socrates merasa sangat menyesal dan berkata, ”Jika tahu yang jatuh ke dalam sungai itu adalah orang itu, bagaimana pun juga kami tidak akan menolong dia!”
Socrates membantu menggantikan pakaian orang tersebut yang telah basah, lalu dengan tenang Socrates berkata, ”Tidak. Kalian justru harus menolong dia! Inilah perbedaan antara dia dan kalian semua.” (mingxin.net/lin)
7 Tips Hapuskan Iri Hati

Dengan sungguh hati memahami mengapa kita hidup di dunia ini,
adalah pedoman tertinggi untuk mengatasi iri hati. ?Getty Images?
(Erabaru.or.id) - Biasanya, gemuk atau kurus senantiasa adalah topik utama kaum hawa, teman sekantor yang berbodi sexy sering kali dengan serta merta menjadi obyek yang dikagumi maupun menimbulkan iri hati. Sedangkan di dalam 6 kebutuhan pokok masyarakat, yang agak dipersoalkan oleh kaum adam adalah “Mobilitas”, dari membeli kendaraan sampai ke berkendara, barang siapa yang mobilitasnya buruk, maka kemungkinan saja dianggap sebagai pecundang. Padahal sesungguhnya, tak peduli anda memperbandingkan harta kekayaan, penampilan ataupun kedudukan, selalu saja akan ada yang lebih mengungguli, dan niscaya selamanya tak bakal ada habisnya. Ardilles, pengarang tersohor merangkap penerbit pernah mencatat dengan detail di dalam buku larisnya bahwa ia dalam jangka waktu lama terbenam di dalam penderitaan yang menggelisahkan dan yang ia sarankan kepada pembacanya ialah, “Carilah sendiri tolok ukur kesuksesanmu”.
Cara Mengatasi Iri-hati
1) : PILIHLAH BIDANG YANG ANDA KUASAI
Psychologist Sherlock Weir menyatakan: “Tatkala anda tak kuasa menyetop memperbandingkan, cobalah mengenang suasana masa lalu ketika berjaya di dalam bidang lain dan dengan pengalaman sukses tersebut untuk meredakan rasa iri hati.”
Jikalau dapat menemukan bidang dimana anda dapat ber-ekspresi, maka ia dapat secara aktif memperkuat keterkaitan anda dengan kalangan tersebut. Seorang wanita yang mahir menunggang kuda, karena tekniknya bagus maka ditingkatkan dengan mengikuti lomba pacuan kuda professional. Di depan para pesaing, walau bisa saja secara spontan muncul perasaan iri hati, akan tetapi bersamaan dengan itu juga membangkitkan penampilan yang lebih baik di arena balap. Cari keistimewaan diri sendiri, dengan sendirinya kepercayaan diri juga meningkat. Temukan wilayah dimana anda bisa unggul, terkadang membutuhkan terus menerus bereksperimen dengan kesalahan. Jikalau bisa menemukan bakat diri sendiri, dan pada tempat yang tepat dapat mengembangkannya hingga maksimum, anda dan saya boleh dibilang adalah jenius dalam positif thinking!
2) UBAH SELIDIKI KELOMPOK
Pakar ekonomi, Robert Frank berpendapat: “Jikalau telah bosan menjadi orang termiskin di jalanan ini, maka pindahlah ke wilayah yang agak sederhana!” Meskipun kita tidak mampu menekan cognitive diri sendiri, tetapi memiliki kebebasan mutlak untuk memilih teman, tetangga dan rekan kerja. Mempertimbangkan mau ikut kelompok mana, mempengaruhi obyek dari rasa iri hati atau peng-idolaan kita, tetapi pengendalian diri dalam memperbandingkan dengan orang lain adalah semacam methode modifikasi yang baik.
Walaupun dengan mengubah kelompok bergaul membutuhkan harga cukup mahal, sepenuhnya tergantung bagaimana anda mengukurnya. Misalkan saja, apakah anda rela menjadi ujung tombak back (empat bagian?) di klub sepak bola tak terkenal? Ataukah sebagai pemain cadangan di klub sepaka bola tersohor (di Dallas)? Di klub sepak bola Dallas, barangkali saja anda akan mendapatkan juga undangan ke acara resepsi dan memperoleh tempat duduk yang tak penting di pergaulan kalangan atas, namun orang yang jeli bisa menilai sebenarnya (anda) berbobot atau tidak.
3) MENEMUKAN TEMPAT DI LINGKUNGAN BUDAYA YANG LEBIH KECIL
Meski tidak mudah untuk segera pindah pekerjaan atau mencari rumah, anda bisa saja mencari beberapa lingkungan budaya kecil, menemukan diantaranya kelompok gaul yang anda inginkan. Misalnya David Brooke, kolumnis New York Times mengambil Amerika sebagai contoh: “Amerika bukanlah negara dengan konsep kelas yang kuat, secara lebih mendasar, ia sebenarnya kumpulan dari berbagai kelompok independent, setiap kelompok pada memiliki centrum yang mereka sukai.” Misalkan saja, diantaranya bisa ditemukan ekstremis anti pemanasan global, penggemar olah raga terukur, atau penggila musik jazz dlsb dan di dalam lingkungan tersebut mengekspresikan diri semenstinya tidak terlalu sulit. Tak peduli posisi kewenangan anda di dalam situ bagaimana, kelompok-kelompok itu akan memperkokoh konsep nilai dan rasa kebersamaan anda.
Komunikasi antar kelompok kecil-kelompok kecil ini juga cukup terbatas. Suatu perubahan kekuasaan, bagi orang dalam boleh dibilang kemungkinan adalah menggemparkan, tetapi bagi orang luar yang meneliti dari arah luar, bagaikan hiccup (jw: ceguk-an) yang sama sekali tidak berarti. Seperti psikolog yang menyukai orang lain menggunakan namanya sebagai referensi formulir psiko-test, walaupun jarang ada orang yang akan memperhatikan nama siapakah gerangan ini.
4) LEBIH BAIK SEBAGAI KEPALA AYAM DARIPADA SEBAGAI EKOR SAPI
Di depan mata terdapat 2 pilihan, satu ialah menjadi pengacara di desa, orang di komunitas itu pada mengenal diri anda, bahkan papan nama di depan pintu tertera nama anda; ataukah menjadi salah seorang pemegang saham yang silent (kosong) di sebuah biro konsultan pengacara besar, maka anda akan memilih kehidupan yang mana?
Tak dapat dipungkiri, banyak orang seringkali di dalam lingkungan kecil lebih bisa berkembang. Robert Frank memberi contoh seorang temannya yang meski prestasinya saat remaja tidak menonjol, nilainya tidak mampu membawanya masuk ke sekolah ternama (di kota), terpaksa beralih ke sekolah negeri di pedesaan. Tak dinyana di sekolah-desa ia malahan bagaikan ikan yang memperoleh air, akhirnya ia diterima di sebuah P.T. yang termasyur. Sesudah menjauhi lingkungan besar, apabila bisa dengan cara inovatif atau lateral/berbalikan mengembangkan jalan keluar sendiri yang unik, nasib seumur hidup barangkali semenjak saat itu sudah bisa diubah.
5) SEMAKIN MATANG SEIRING BERTAMBAHNYA USIA
Mengenal point ini sangat penting, ia juga adalah pedoman orang-orang untuk menekan iri-hati. Survey membuktikan, kebiasaan membandingkan, akan berangsur berkurang seiring dengan pertambahan usia. “Sewaktu ibu saya masih muda, sangat iri-hati terhadap kawan-kawan wanitanya itu”. Sarah S. mengenang. Sampai pada suatu hari ibu Sarah yang berusia 60 th mengungkapkan, persahabatannya dengan kawan-kawan lamanya itu semakin lama semakin bagaikan saudara kandung, dia baru merasakan peningkatan pemahaman terhadap dunia sanubari sang ibu. Ketika perempuan telah melampaui masa kematangannya yang penuh energi, kecenderungan iri-hati terhadap rekan sesama perempan akan semakin surut.
6) MENCIPTA RASA AMAN SEJATI
”Soroton mata anda seyogyanya alihkan dari orang lain, taruhlah alat pendeteksi itu pada hati anda dan periksalah dengan teliti, carilah benih keiri-hatian di dalamnya, hapuskan suara yang usang serta pengalaman yang telah lampau. Pusatkan segenap hati anda dengan baik-baik bentuklah perasaan aman yang sejati pada emosi dan pribadi anda!” demikian kata Jennifer James di dalam buku . Tatkala rasa iri hendak bergerak, pikirkan dahulu hal apakah bagi anda baru betul-betul penting? Apakah baru merupakan target anda sendiri? Bisa mencapai apakah kemampuan dan sumber daya anda? Ia bisa membantu anda lepas keluar dari persaingan psikologis, dengan kepala tegak dan langkah tegap melangkah menuju kehidupan milik anda sendiri.
7) PAHAMI KESEJATIAN HIDUP
Ini adalah pedoman tertinggi menyelesaikan rasa iri. Manusia hidup di dunia, memiliki hawa nafsu dan rasa sentimental, semuanya secara naluri ingin hidup dengan lebih baik, bisa hidup dengan lebih terpandang dan terhormat. Justru karena manusia memiliki angan-angan, dalam hati kecilnya bisa tumbuh rasa sentimental berupa cinta dan benci, ini adalah daya penggerak timbulnya iri hati. Apabila seorang manusia bisa menyadari, bahwasanya manusia hidup di dunia, tujuannya sesungguhnya bukan demi hidup dengan lebih baik, dengan lebih terpandang dan terhormat, melainkan demi kembali ke jati diri yang asli/suci, balik ke sifat pokok alami manusia. Jikalau bisa mengenali hal ini, maka perolehan dan kehilangan dalam hal materi dan kepuasan terhadap hawa nafsu dan rasa sentimental menjadi tidak begitu penting lagi, maka lantas mampu juga mengurangi hingga menghapus daya gerak timbulnya iri hati. Tentu saja cara melalui pemahaman kesejatian hidup hingga berhasil mengendalikan iri hati, bukannya dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang, namun jikalau anda benar-benar mau bertekad mengatasi iri hati, maka ia selain merupakan cara yang efektif, juga merupakan pedoman tertinggi yang bisa menuntaskan masalah iri hati.
(http://www.dajiyuan.com)

Pengemis Bertangan Satu dan Seorang Biksu

(Erabaru.or.id) - Ada seorang pengemis yang hanya memiliki sebuah tangan. Ia datang ke suatu biara dan memohon sedekah kepada kepala biara. Tanpa sungkan kepala biara itu menunjuk setumpuk batu bata yang terletak di depan pintu seraya berkata,” Tolong kamu bantu saya memindahkan batu bata itu ke halaman belakang.” Pengemis itu dengan marah menjawab,” Saya hanya memiliki satu tangan. Bagaimana dapat memindahkan? Tidak mau memberi ya sudah, tidak perlu mempermainkan orang!” Mendengar itu, kepala biara memandangnya, lalu menggunakan satu tangan mengambil sebuah batu bata lalu berkata, “Masalah seperti ini juga bisa dikerjakan dengan menggunakan satu tangan.”
Melihat keadaan itu si pengemis terpaksa menggunakan satu tangan itu memindahkan batu bata. Selama dua jam penuh dia memindahkan semua batu bata itu. Kemudian kepala biara itu memberi sedikit uang, dengan sangat bersyukur pengemis itu berkata,” Terima kasih.” Kepala biara menjawab,” Tidak perlu berterima kasih kepadaku, ini adalah uang hasil jerih payahmu sendiri.” Pengemis itu membungkukkan badan dan berkata,” Budi baik anda ini akan saya ingat untuk selamanya”. Lalu dia menegakkan badan dan melanjutkan perjalanannya.
Beberapa hari kemudian datang lagi seorang pengemis ke biara itu. Kepala biara lalu membawa pengemis itu ke halaman belakang, menunjuk setumpuk batu bata itu seraya berkata,” Pindahkan batu bata ini ke halaman depan, dan saya akan memberimu uang.” Tapi pengemis yang memiliki dua tangan ini menganggap hina pekerjaan ini, lalu di tinggalnya pergi. Para murid dengan tidak mengerti bertanya kepada kepala biara,” Kemarin dulu anda menyuruh pengemis memindahkan batu bata dari halaman depan ke halaman belakang, kali ini anda juga menyuruh pengemis lain untuk memindahkan dari halaman belakang ke halaman depan, sebenarnya batu bata ini ingin anda letakkan di halaman depan atau halaman belakang biara? ” Kepala biara berkata kepada pengikutnya,” Bata – bata itu diletakkan di depan atau di belakang adalah sama saja, tetapi mau memindahkan atau tidak bagi pengemis itu tidaklah sama.”
Beberapa tahun kemudian, seorang yang berpenampilan luar biasa datang ke biara. Namun ada hal yang kurang sempurna yaitu orang ini hanya memiliki satu tangan. Ternyata dia adalah pengemis yang memindahkan batu bata. Ia melakukan pekerjaan yang dia kerjakan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri untuk berjuang. Akhirnya dia memperoleh keberhasilan yang sukses, menjadi orang kaya yang ternama di daerahnya. Tetapi bagi pengemis yang memiliki dua tangan lengkap, hingga saat ini masih meminta sedekah di luar pintu gunung.
Disini bisa dilihat, menyelamatkan manusia harus menyelamatkan hatinya. Nasi dalam duniawi bisa menghilangkan rasa lapar sesaat, tapi itu bukanlah makanan batin yang sebenarnya. Uang dalam duniawi bisa memuaskan keinginan sesaat manusia, tetapi bukanlah cahaya kehidupan yang sebenarnya.
Dengan pengetahuan intuitif menyadarkan kejujuran dan kebajikan yang ada dalam hati manusia, barulah bisa dari dasarnya menolong manusia untuk menjauhi kejahatan, terlepas dari lautan kesengsaraan. Dengan prinsip yang sama, memberi orang sekantung uang, lebih baik menyadarkan kebaikan hatinya. Karena ketulusan dan niat (pikiran) baik merupakan satu jaminan yang paling dasar bagi satu kehidupan untuk bisa berjalan menuju ke masa yang akan datang. (The Epoch Times/lin)
EQ: Bersikap Rendah Hati dan Ramah

(Erabaru.or.id) - Di dalam masyarakat terdapat satu macam orang yang dalam jangka waktu panjang hubungan antar manusianya tidak terpelihara dengan baik, di dalam tahapan kehidupan yang beraneka-ragam hampir selalu dikucilkan oleh kelompoknya, tidak mempunyai banyak teman.
Satu kelompok orang ini biasanya memiliki ciri-ciri khusus yakni: Reaksi mereka agak lamban dan mudah menimbulkan antipati.
Teknik komunikasi-gaul mereka tidak baik, tidak pandai menyimak kalimat dan menebak mimic wajah serta pada saat yang pas mengeluarkan perkataan yang pas pula.
Lambat laun, mereka telah mengakumulasikan cukup banyak rasa permusuhan terhadap kelompok, dengan secara tidak sadar mereka mulai memunculkan mimik dan gerakan yang mengundang antipati orang lain (Misalkan: Mengerutkan alis, tanpa ekspresi wajah, sewaktu berdialog tatapan matanya tidak terarah dll), sikap mereka juga berubah menjadi banyak curiga, rasa proteksi dirinya terlalu kuat. Maka dari itu, hubungan antar manusia mereka semakin lama semakin buruk.
Apabila anda yang menghadapi keadaan seperti tersebut di atas, harap jangan putus asa. Hendak menjadi ahli di dalam komunikasi memang tidak mudah, akan tetapi hendak menjadi orang yang tidak dibenci orang lain justru termasuk sangat mudah. Silakan simak penjelasan sbb.:
Karena reaksi cepat maupun lambat sudah ada semenjak lahir, tutur kata anda tidak lancar, teknik bergaul tidak baik juga merupakan gejala yang sudah eksis sejak lama, maka jangan berupaya mengubah hal-hal yang sulit diubah tersebut. Sebetulnya apa yang mudah diubah? Yaitu sikap bermusuhan dan mimik serta body language yang tanpa disadari mengundang antipati orang.
Tatkala seseorang mampu me-revisi kekurangan nomor 3, sedangkan kelemahan nomor 1 dan 2 tidak berubah, macam apakah orang tersebut?
Reaksi si A agak lamban, tutur katanya juga tidak menarik perhatian orang lain, di dalam kelompok ia tidak terlalu menonjol, kadang-kadang malah dilupakan di pojok ruangan. Namun, di dalam kelompoknya tiada orang yang membencinya, karena ia seringkali menyunggingkan senyum di wajah, bahkan proaktif bersikap ramah dan atensi terhadap orang lain. Di dalam pekerjaannya dapat menanggung kerja berat dan menahan omelan, tidak rewel. Ia meskipun sewaktu berdialog dengan orang lain seringkali tatapan matanya dengan tanpa disadari tidak terarah, tetapi oleh karena di wajahnya selalu tersungging senyuman, maka dari itu para sahabatnya tidak beranggapan bahwa ia sedang marah, dikarenakan ia selalu tersenyum, juga tidak nampak mimik wajah dengan alis mengkerut dan mulut terkunci.
Orang semacam ini di dalam kelompoknya kadang kala diam membisu, namun mereka masih bisa memperoleh pengakuan dari mayoritas kelompok, juga bisa ber-interaksi dengan beberapa sahabat. Perubahan seperti itu tidaklah sulit, sudah cukup asalkan seringkali tersenyum dan mengangguk (kepada orang lain), ramah terhadap orang lain, bisa bekerja keras dan tahan omelan.
Orang yang dalam jangka waktu lama tidak dapat bergaul dengan baik, sebaiknya anda jangan bersikeras menonjolkan diri, karena dengan demikian kadang kadang bisa mengakibatkan anti pati yang lebih keras. Penyebabnya ialah, jikalau kemampuan anda lebih lemah dibandingkan dengan orang lain, sedangkan anda bersikeras menonjolkan diri, maka orang-orang bisa memandang rendah anda. Sedangkan jikalau kemampuan anda lebih kuat daripada kelompok, juga bersikeras menonjokan diri, orang-orang sama saja akan membenci anda. Kenapa? Karena anda adalah manusia yang di-antipati oleh kelompok, jikalau kemampuan anda sangat kuat, di dalam kelompok hanyalah merupakan seorang lawan yang membahayakan, tentu saja mereka akan membenci anda. Oleh karena itu, simpan kemampuan anda, lepaskan sikap bermusuhan terhadap orang lain, jadilah seorang yang ramah tamah dan rendah hati.
Apakah anda meng-khawatirkan keistimewaan diri sendiri akan tenggelam di dalam kelompok? Jangan kuatir, asalkan anda memiliki kemampuan yang sesungguhnya maka anda bakal memperoleh penghargaan yang sudah selayaknya.
RUANG PSYCHO-THERAPI
Hendak menjadi seorang bintang gaul adalah sangat tidak mudah, akan tetapi hendak menjadi seseorang yang tidak dibenci oleh orang lain justru sangat mudah. Rendah hati dan ramah, itu saja resepnya.
Dikutip dari: Disupply oleh Yuan Shui Wen Hua
4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup
(Erabaru.or.id) -"Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh" (John Gray)
Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda?
Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
Sumber: 4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup oleh Anthony Dio Martin
Pantangan dalam Adu Mulut
(Erabaru.or.id) Bagi kebanyakan orang, bahan pertengkaran sewaktu bertengkar-mulut selamanya tidak bersifat membangun, selain saling membentak dengan keras, juga biasanya lantas mengungkit-ungkit lagi persoalan basi yang tidak relefan, atau terceplos keluar perkataan ekstrem yang bersifat melukai perasaan. Alhasil, terkadang malah bagaikan telah menanamkan benih api bagi pertengkaran selanjutnya. Pada dasarnya pertengkaran semacam itu dalam hal penyelesaian masalah, malah sama sekali tidak bermanfaat.
Apabila hendak berdebat dengan efek yang positif, harus diperhatikan dua hal di bawah ini:
1. Harus menjernihkan kesalah-pahaman pihak lain, juga harus dengan jelas menyatakan pemikiran diri sendiri, misalkan sewaktu bertengkar, ketika pihak lain berkata: “Saya merasa kamu benar-benar sangat egois.”
Waktu itu, anda jangan sekali-kali menjawab dengan bergegas: “Bagaimana dengan kamu? Apa baiknya kamu?”.
Anda semestinya dengan hati tenang bertanya kepadanya: “Kenapa kamu bisa merasakan seperti itu, apakah perilaku saya ada yang kamu rasakan demikian?”
Ini adalah untuk menjernihkan pemikiran pihak lain. Apabila bukti yang diajukan pihak lain tidak wajar/benar, anda juga harus memberikan penjelasan tambahan untuk ketidak-wajaran tersebut. Dengan gamblang menyatakan pemikiran masing-masing, dari keributan tersebut kemungkinan baru akan muncul titik temu, jikalau tidak, akan mudah terseret ke pelampiasan emosi yang tak bakal menghasilkan kesimpulan.
2. Harus tahu dengan jelas kebutuhan masing-masing pihak.
Harus ingat untuk menanyai pihak lain: “Kamu menghendaki saya berbuat bagaimana baru bisa memuaskanmu?” atau dengan jelas memberitahu pihak lain tentang kebutuhan anda (dengan lain kata ia harus bagaimana baru bisa memuaskan anda).
Kebanyakan orang sesudah selesai bertengkar, kedua pihak sama sekali tidak jelas dengan simpul persoalan masing-masing pihak. Dalam situasi seperti ini, klarifikasi dengan jelas masing-masing kehendak adalah sangat diperlukan.
Misalkan saja, ketika pihak lain berkata: “Kamu setiap kali mengacuhkan perasaanku”.
Anda bisa bertanya: “Saya seharusnya bertindak bagaimana, kamu baru merasakan niat baikku?”
Jikalau ia berkata: “Saya berharap kamu bisa seringkali mendampingiku.”
Maka anda selanjutnya bisa bertanya: “Kamu merasa dalam satu minggu harus mendampingi berapa hari, baru kamu merasakan tidak lagi diacuhkan?”
Jangan sampai merasakan klarifikasi tentang persoalan ini adalah hal dungu, kebanyakan orang justru terikat dengan pendapat keliru tersebut.
Coba dipikir, jikalau pihak lain berkata: “Saya berharap kamu bila punya waktu maka dampingilah aku.” Sedangkan anda menjawab: “Saya tidak mungkin mendampingimu setiap hari. Jika 3 hari dalam satu minggu mendampingimu, bisakah kamu menerimanya?”
Coba anda lihat, bukankah ini adalah awal dari komunikasi? Ketika anda menjawab dengan demikan, pihak lain barangkali sudah memahami permintaannya tidak masuk akal, dan rela berunding. Model komunikasi semacam ini bukankah lebih bermakna daripada saling bertengkar?
PANTANGAN DALAM BER-ADU MULUT
Sewaktu bertengkar juga sebisa mungkin menghindari hal-hal dibawah ini sbb.:
1. Hindari permasalahan yang hampir tidak mungkin diubah.
Misalkan mencela tinggi badan pihak lain tidak mencukupi, bentuk body tidak baik atau kurang menghasilkan uang dlsb.
Jikalau anda adalah pihak yang dilecehkan, saya usulkan anda bisa menjawabnya dengan tenang: “Saya tahu saya memang betul seperti itu, demikianlah diri saya. Membahas masalah ini, bagi kebersamaan antara kita berdua tidak akan membantu, oleh karena itu, marilah kita membahas bagian yang bisa kita ubah?”
Jikalau anda adalah orang yang melecehkan pihak lain, maka sebuah persoalan harus dipikirkan dengan jelas, pihak lain sudah seperti itu, apabila anda bisa menerimanya maka hiduplah bersamanya, apabila tidak, pertimbangkanlah untuk meninggalkannya.
Memaksakan pihak lain untuk melakukan sesuatu hal yang mustahil diubah, hanyalah akan menambah rasa saling keterpurukan. Apabila masalah pihak lain adalah membutuhkan therapy dalam bidang psikis (misalkan karakter yang emosional, kecanduan alkohol, pesimis, sifat menyendiri dll), maka anda harus membantunya mencari alternatif dari para pakar.
2. Jangan mengungkit kekurangan masa lampau, harus memperdebatkan permasalahan kebersamaan untuk masa depan.
Di dalam proses perselisihan, janganlah selalu mempersoalkan kekurangan masa lampau, itu tak lain hanyalah akan menambah emosi negatif kedua belah pihak, sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah. Penulis mengusulkan jika menjumpai situasi semacam itu, boleh mengatakan: “Hal yang sudah lewat jangan lagi dibahas! Sekarang kita coba rundingkan, di masa depan apabila menemui permasalahan semacam yang terjadi hari ini, semestinya bagaimana?”
Anda boleh mengajukan metode penyelesaian anda, lihat pihak lain apakah bisa menerima atau tidak, ataukah pihak lain berharap anda berubah seperti apa. Anda juga boleh menanyai pihak lain akan bagaimana menangani masalah, lihat apakah anda bisa menerima atau anda menyatakan harapan anda. Apabila seringkali melontarkan perkataan: “Kita kelak jikalau menemui permasalahan semacam ini akan bagaimana?” kalimat ini, bisa membantu kunci perselisihan kalian dari pelampiasan emosi dialihkan ke penyelesaian masalah.
3. Jangan memotong pembicaraan lawan
Jikalau anda terus-terusan memotong pembicaraan lawan bicara anda, sangat mudah menimbulkan amarah pihak lawan, untuk melakukan komunikasi yang efektif, jelas akan sulit.
Diusulkan semestinya dengan tenang mendengarkan secara tuntas omongan pihak lain lebih dulu, baru kemudian mengklarifikasi isi pembicaraan pihak lain. Apabila isi pembicaraan pihak lain tidak sistematis, anda boleh memintanya setiap kali hanya membahas satu inti permasalahan saja.
Kemudian setelah pihak lawan selesai menguraikan pandapatnya, anda bisa mengulangi pemikirannya, lalu konfirmasi kepadanya, apakah pengertian demikian sudah tepat. Biasanya, kondisi emosional pihak lain menjadi reda, bisa jadi dikarenakan anda telah dengan tepat memahami perasaannya. Maka dari itu, biarkan pihak lawan mempunyai peluang mengutarakan dengan leluasa pemikirannya sendiri, ini adalah hal penting.
Namun, ketika anda sedang berbicara, pihak lawan selalu saja memotong pembicaraan anda? Saat itu, anda boleh menukas dengan langsung: “Kamu selalu memutuskan pembicaraanku, dengan begini saya tak dapat menguraikan pemikiran saya.”
Ketika anda sudah mengingatkannya beberapa kali, pihak lain tidak ada perubahan, maka anda boleh mengatakan: “Saya rasa anda selalu memutuskan perkataan saya, dengan begini kita sama sekali tak dapat berkomunikasi. Jikalau kamu ingin melanjutkan komunikasi, maka silahkan saya mengatakannya dengan tuntas. Jikalau kamu tak mampu melakukan hal ini, maka kita sambung lagi besok.”
Pertahankan prinsip anda, sampai dengan pihak lain mau menghargai pembicaraan anda, baru anda melanjutkan lagi komunikasi dengannya.
4. Jangan bertengkar dikala sedang emosi
Ketika kedua belah pihak dalam kondisi emosional, tak pelak lagi bisa meninggikan volume suara, selain itu mudah mengeluarkan perkataan yang menyakiti hati orang lain. Saat itu komunikasi sudah tak bisa nyambung lagi, hanya berupa pelampiasan nafsu amarah saja.
Oleh karena itu, sebisa mungkin menghindari bertengkar dikala sedang emosional, tunggulah saat kedua belah pihak “cooling down” baru ulangi berkomunikasi.
Dalam beberapa situasi seperti contoh dibawah ini, sebaiknya hindari pertengkaran:
1. Sewaktu mengendarai mobil
2. Pagi buta sesudah jam 0.00
3. Sesudah minum alkohol
4. Dikala badan merasa tidak fit atau penat
Pada situasi seperti tersebut di atas, psikis anda mudah berada dalam kondisi bergejolak, seperti bensin yang mudah disulut, begitu bertengkar, sangat mudah terjerumus dalam teriakan yang tak bermanfaat, dengan demikian hanya akan membawa keburukan bagi hubungan kedua belah pihak yang bertikai, tidak ada manfaatnya.
Apabila pihak lain ngotot mencari anda untuk bertengkar, anda boleh beritahukan dia: “Emosimu sekarang ini terlampau bergejolak, pembicaraan kita tidak akan membawa hasil. Besok pasti saya akan menyediakan waktu untuk berkomunikasi denganmu.” Harus mempertahankan prinsip ini.
Di dalam hubungan akrab antar manusia, pertengkaran tak dapat dielakkan. Pertengkaran yang sifatnya membangun bisa memperoleh pengertian dari pihak lain, sehingga perasaan kedua belah pihak bisa semakin akrab. Oleh karena itu, asalkan dapat menguasai esensi pertengkaran dengan tepat, akan membawa banyak manfaat bagi hubungan kedua belah pihak.
RUANG PSIKO THERAPI
METHODE:
Harus menjernihkan kesalah-pahaman pihak lain, juga harus dengan jelas menyatakan pendapat sendiri. Harus tahu dengan jelas kebutuhan masing-masing pihak.
PANTANGAN:
1. Hindari problema yang nyaris tidak mungkin untuk diubah.
2. Jangan mengungkit kekurangan masa lampau, harus berdebat tentang permasalahan pergaulan bersama di masa depan.
3. Jangan memotong pembicaraan pihak lain.
4. Jangan bertengkar dikala emosi sedang labil.
Dikutip dari: Disupply oleh Yuan Shui Wen Huaww
Apakah Maoisme Itu?
penulis: Zang Shan

(Erabaru.or.id) Partai Komunis Nepal pada saat pemilu telah memperoleh suara mayoritas di dalam parlemen, dengan demikian telah menjadi sebuah “Partai penguasa” yang sesungguhnya. PKN (Partai Komunis Nepal) sebelumnya terkenal dengan pasukan gerilyanya, media luar negeri biasanya menyebut mereka sebagai “Gerilyawan Maois”. Media resmi Tiongkok juga menyebutnya demikian. Baru-baru ini setelah PKN menguasai pemerintah, media resmi pemerintahan PKC (Partai Komunis China) mulai ganti menyebut pimpinan PKN sebagai “Kamerad”, selain itu di belakang PKN ditambahi catatan “Maois”.
Apakah Maois itu?
Dahulu, setiap kali ada pimpinan partai komunis yang berkunjung ke Tiongkok, kadang-kadang sewaktu mengenalkan komunis dari negara yang bersangkutan biasanya diberi tanda kutip “ML (Marxis Leninis)” pada bagian belakangnya, ada pula yang tidak diberi titel seperti itu.
Perbedaan ini, sesungguhnya bukan terletak pada M (Marxis), melainkan pada L (Lenin). Karena banyak partai komunis mengakui Marx, tapi tidak mengakui Lenin. Misalnya sebagian besar partai komunis di negara-negara Eropa.
Perbedaan antara Lenin dan Marx, yaitu Lenin mengakui kaum proletariat harus dengan kekerasan merebut kekuasaan. Selain itu dilangsungkan di negara tertentu yang kekuasaan kapitalismenya lemah. Sedangkan Marx beranggapan, partai komunis seharusnya terlebih dahulu memperoleh kekuasaan di beberapa negara dengan kapitalismenya yang paling berkembang.
Trotsky yang dibunuh oleh pembunuh bayaran Stalin, juga seorang komunis yang teguh, tetapi dia tidak mengakui merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kebrutalan “kediktatoran proletariat” yang dilaksanakan sesudah perebutan kekuasaan.
Itulah sebabnya, di dalam penjelasan tradisi Partai Komunis China, Marxisme yang non Leninis, biasanya disebut sebagai “Revisionis” yang bermakna Marxisme yang telah direvisi.
Mao Zedong (baca: Mao Cetung) adalah pewaris Leninisme. Kemenangan kaum Bolschewijk Soviet, adalah kerusuhan kaum pekerja di dalam kota-kota utama, sekaligus merebut kekuasaan.
Doktrin Mao berbeda, ia beranggapan di dalam negara dengan industri terbelakang, revolusi berdarah pertama kali harus dilakukan di wilayah pedesaan yang termiskin dan tertinggal, kemudian baru dengan metode pasukan gerilya mengepung kota, dan pada akhirnya merebut kota serta kekuasaan negara. Maka dari itu, paham Maoisme adalah perebutan kekuasaan dengan kekerasan dan desa mengepung kota.
Setelah usai perang dunia ke-2, yang memprovokasi penggunaan kekerasan komunisme dalam gerakan perebutan kekuasaan di seluruh dunia, terutama ialah Maoisme. Karena waktu itu negara dimana partai komunis bisa bangkit sebagian besarnya adalah negara miskin, bukannya negara industri dengan kota metropolitannya.
Maka dari itu partai komunis Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Burma, Filipina, bahkan Vietnam, Kamboja dan lain-lain semuanya kelompok Maois. Sedangkan pasukan gerilya di sebagian negara Amerika Latin, juga kebanyakan kelompok Maois.
Partai Komunis Nepal termasuk salah satu dari Maois tersebut.
Nepal adalah negeri terkurung daratan, ekonominya tidak berkembang, selain itu kesenjangan sosialnya sangat parah. Itulah sebabnya petani wilayah pegunungan yang sangat miskin telah menjadi kekuatan pendukung utama pasukan gerilya Maois. Sebuah sebab penting lainnya ialah semua orang tahu tetapi tidak ada orang yang berani berbicara jelas bahwa PKC-lah pendukung di balik layar.
Maois pernah sukses di Kamboja dan Vietnam, dan menimbulkan bencana kemanusiaan yang amat sangat parah. Mao Zedong masih ada satu doktrin lagi yang penting yakni yang disebut teori “Revolusi berkelanjutan di bawah kediktatoran proletariat”.
Maksudnya ialah sesudah merebut kekuasaan, harus terus menerus berevolusi, melaksanakan diktator proletariat yang keras, ini adalah dasar teori pembantaian Khmer Merah dari Kamboja.
Partai Komunis Maois Nepal meskipun telah memperoleh kekuasaan politik, namun itu diperoleh berkat pemilu dan bukannya melalui perebutan kekuasan dengan kekerasan, sepertinya ada perbedaan dengan Mao Zedong-isme.
Akan tetapi yang lebih dikhawatirkan oleh semua pihak ialah apakah PKN bakal melaksanakan kediktatoran proletariat yang lebih bengis? Jikalau ya, maka Nepal tak urung akan terjerumus ke dalam kabut anyir darah. (Zang Shan /The Epoch Times/whs)

nternet & Ponsel, Prospek Media Masa Depan, tarifnya akan turun

(Erabaru.or.id) — Kemajuan teknologi dan kemudahan akses masyarakat terhadap perangkat internet dan ponsel dewasa ini, rupanya sudah dipandang jeli oleh kalangan media. Pertemuan Asia Pacific Media forum yang diadakan di Bali beberapa waktu yang lalu juga telah mengangkat dan membahas prospek bisnis media dalam format internet dan ponsel.
Kemajuan teknologi dewasa ini sudah memungkinkan masyarakat luas untuk dimanapun dan kapanpun, mengakses informasi dari internet dan ponsel. Didukung dengan biaya yang terjangkau, prospek bisnis media dalam format ini memang sangat menjanjikan.
Menurut ketua panitia Asia Pasifik Media Forum, Andi Sadha, strategi memajukan bisnis media tradisional melalui kemajuan teknologi seperti ponsel dan internet telah menjadi isu penting. Ponsel dan internet mulai akrab dengan masyarakat dunia sehingga strategi bisnis media dengan format ini mau tidak mau harus segera diadopsi.
Menyusul tarif pulsa mobile phone yang sudah diturunkan, tarif internetpun dipastikan turun secara bertahap. Mulai Juli mendatang, tarif internet akan turun 20% dulu. Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar memastikan hal tersebut sebelum akhirnya tarif internet retail turun hingga 40%. "Trennya memang akan turun bertahap hingga mencapai 40 persen. Tapi untuk bulan Juli ini kami harap turun 20 persen dulu," ujarnya usai peresmian Indonesia Cellular Show 2008 di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan, Rabu (11/6/2008).
Ibu kota Jakarta juga mau dijadikan kota cyber oleh Telkom. Monas pun ditetapkan BUMN telekomunikasi itu sebagai kilometer nol alias titik awal pembangunan hotspot internet di seluruh wilayah DKI. Demikian diungkapkan Eksekutif General Manager Divisi Regional II Telkom, Adeng Achmad, seusai meresmikan Monas Cyber Zone bersama Walikota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, yang mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Diorama Monas, Sabtu (7/6/2008).
ips Menghemat BBM untuk Menghadapi Kenaikan Harga BBM
(Erabaru.or.id) - Pengumuman kenaikan harga BBM telah dimuat di media, bagi anda yang mengendarai mobil sendiri dan sudah sulit rasanya untuk menggantinya dengan busway atau kendaraan umum lainnya, sudah saatnya anda berhemat.
Beberapa tips yang mungkin berguna untuk menghemat BBM:
- Servis mobil anda secara berkala
- Pastikan tekanan angin ban sesuai dengan standar pabrik, selain dapat menghemat BBM, juga dapat menyelamatkan kita dari kecelakaan
- Gunakan oli yang sesuai dengan standar dari pabrikan mobil
- Bersihkan dan ganti filter udara secara berkala
- Memainkan gas dan rem secara berlebihan juga salah satu pemborosan BBM
- Jangan mengemudi dengan kecepatan diatas 100km/ jam dan usahakan selalu mengatur kecepatan yang sama
- Matikan mesin bila kendaraan berhenti terlalu lama
- Bila jarak dekat, gunakan sepeda atau berjalan kaki
- Nebeng teman kantor

0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer