top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

29 Mei 2011

Konstruk Sosial Khaalifah

KONSTRUK SOSIAL DAN KEPEMIMPINAN
  MASA KHULAFAUR ROSYIDIN
 (PERIODE ABU BAKAR)

A.    Pendahuluan
Muhammad SAW, disamping sebagai Rasulullah juga sebagai kepala pemerintahan dan pemimpin masyarakat. Setelah beliau wafat, fungsi sebagai Rasulullah tidak dapat digantikan oleh siapapun manusia di bumi ini, kerena pemilihan fungsi tersebut adalah mutlak dari Allah. Fungsi beliau sebagai kepala pemerintahan dan pimpinan masyarakat harus ada yang menggantikannya. Selanjutnya pemerintah islam dipimpin oleh empat orang sahabat terdekatnya. Kepemimpinan empat para sahabat ini disebut khulafa’ al-Rasyidun (para pengganti yang mendapat bimbingan ke jalan yang lurus) empat khalifah tersebut adalah
1.      Abu Bakar Ash-Shidiq  As-Shiddiq 11-13H/ 637-634 M
2.      Umar Ibnu Al-Khathab 13-23 H/634-644 M
3.      Usman ibnu Affan 23-35 H/644-656 M
4.      Ali ibnu Abi Thalib 35-40 H/656-661 M[1].
 Para khalifah tersebut menjalankan pemerintahan dengan bijaksana karena dekatnya hubungan pribadi mereka dengan Nabi  Muhammad dan otoritas keagamaan yang mereka miliki, .kekhalifahan awal ini secara politik didasarkan pada komunitas muslim arab dan pada kekuatan kekuasaan bangsa arab yang berhasil menundukkan imperium timur tengah[2].
Meskipun hanya berlangsung hanya 30 tahun, masa khulifa’ al-rasyidun adalah masa yang sangat penting dalam sejarah. Khulafa’ al-Rasyidun berhasil menyelamatkan  islam, dalam makalah yang sangat singkat ini pemakalah akan membahas ke Kekhalifahan periode Abu Bakar Ash-Shidiq  As-sidq  yang secara rincinya sebagai berikut
1.      Asal usul dan nasab Abu Bakar Ash-Shidiq  
2.      Peristiwa tsaqifah Bani Sa’idah
3.      Sistem politik Islam masa Abu Bakar Ash-Shidiq
4.      Penyelesaian kaum Riddat dan Nabi palsu
5.      Usaha Abu Bakar Ash-Shidiq  dalam mengembangkan dakwah Islam
6.      Yurisprudensi (sistem hukum) dan khazanah keagamaan masa Abu Bakar Ash-Shidiq
B.     Pembahasan
1.        Asal usul dan nasab Abu Bakar Ash-Shidiq  
Abu Bakar Ash-Shidiq  nama legkapnya Abu Bakar Ash-Shidiq  Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi al-Qurasyi. Silsilahnya dengan Nabi bertemu pada Murrah bin Ka’ab dilahirkan pada tahun 573M, dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan banyak tokoh-tokoh besar, ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Ka’abbin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ah berasal dari suku kuraisy, sedangkan Ibunya bernama Ummu al-Khahir Salmah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah, garis keturunanya bertemu pada neneknya yaitu Ka’ab bin Sa’ad[3]  
Abu   Bakar   As-Shidiq   adalah   salah   satu   sahabat   Nabi   Muhammad   SAW   yang mempunyai  nama  lengkap Abdullah Abi  Quhafah At-Tamimi.  Pada  zaman pra  Islam  ia bernama al-Atiq dan Abu Ka’bah,  kemudian diganti  oleh Nabi  SAW.  menjadi  Abdullah.  Beliau  lahir pada  tahun 573 M,  dan wafat  pada  tanggal  23 Jumadil  akhir   tahun 13 H bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun, usianya lebih muda dari Nabi SAW 3 tahun dan ada juga yang meriwayatkan 2 tahun[4].   Diberi julukan Abu Bakar Ash-Shidiq  atau pelopor pagi hari, karena beliau termasuk orang laki-laki   yang  masuk   Islam pertama   kali dari kalangan sahabat.  Sedangkan  gelar  As-Shidiq  diperoleh  karena beliau senantiasa membenarkan semua hal  yang dibawa Nabi  SAW  terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj, nama al-Atiq karena oarang  tua Abu Bakar Ash-Shidiq  setiap melahirkan seorang anak laki-laki selalu meninggal dan seketika lahirnya Abu Bakar Ash-Shidiq  orangtunya membawa ke ka’bah meminta keselamatan agar Abu Bakar Ash-Shidiq  dijaga dan diselamatkan maka oleh masyarakat di juluki al-Atiq yang mengandung makna selamat.[5]
2.        Peristiwa tsaqifah Bani Sa’idah
Rasulullah wafat tahun 11 H,  tidak meninggalkan wasiat   tentang orang yang akan penggantikannya.  Oleh karena  itu,  setelah  rasulullah SAW wafat  para sahabat  segera berkumpul  untuk bermusyawarah di  suatu  tempat  yaitu  Tsaqifah Bani  Sa’idah  guna memilih pengganti  Rasulullah  (Khalifah)  memimpin   ummat   Islam.  Musyawarah   itu   secara   spontanitas   diprakarsai   oleh   kaum  Anshor.  Sikap mereka itu  menunjukkan bahwa mereka lebih memiliki  kesadaran politik  dari pada yang lain, dalam memikirkan siapa pengganti Rasulullah dalam memimpin umat  Islam.[6]
Dalam pertemuan itu mereka mengalami kesulitan bahkan hampir terjadi perpecahan diantara   golongan,   karena   masing-masing   kaum   mengajukan   calon   pemimpin   dari golongannya sendiri-sendiri. Pihak Anshar mencalonkan Sa’ad bin Ubaidah, dengan alasan mereka   yang   menolong   Nabi   ketika   keadaan   di   Makkah   genting.   Kaum   Muhajirin menginginkan   supaya   pengganti   Nabi   SAW   dipilih   dari   kelompok   mereka,   sebab muhajirinlah yang telah merasakan pahit getirnya   perjuangan dalam Islam sejak     awal mula Islam. Sedang dipihak lain terdapat sekelompok  orang yang menghendaki  Ali Bin Abi Thalib,   karena   jasa-jasa   dan   kedudukannya   selaku menantu  Rasulullah   SAW.  Hingga peristiwa  tersebut  diketahui  Umar.   Ia kemudian pergi  ke kediaman nabi  dan mengutus seseorang untuk menemui  Abu Bakar Ash-Shidiq .  Kemudian keduanya berangkat  dan diperjalanan bertemu dengan Ubaidah bin Jarroh. Setibanya di balai Bani Sa’idah, mereka mendapatkan dua golongan besar kaum Anshor dan Muhajirin bersitegang, melalui perdebatan dengan beradu argumentasi[7].
Dengan tenang Abu Bakar Ash-Shidiq  berdiri  di tengah-tengah mereka, kemudian berpidato yang isinya merinci kembali jasa kaum Anshor bagi tujuan Islam. Disisi lain ia menekankan pula anugrah   dari   Allah   yang  memberi   keistimewaan   kepada   kaum Muhajirin   yang   telah mengikuti  Muhammad   sebagai   Nabi   dan  menerima   Islam  lebih   awal   dan   rela   hidup menderita bersama Nabi. Tetapi pidato Abu Bakar Ash-Shidiq   itu tidak dapat meredam situasi  yang sedang  tegang.  Kedua kelompok masih  tetap pada pendiriannya.  Kemudia Abu Ubaidah mengajak kaum Anshor agar bersikap toleransi, begitu juga Basyir bin Sa’ad dari Khazraj (Anshor)  agar  kita  tidak memperpanjang perselisihan  ini.  Akhirnya situasi  dapat  sedikit terkendali.
Disela-sela ketegangan itu kaum Anshor masih menyarankan bahwa harus ada dua kelompok. Hal itu berarti kepecahan kesatuan Islam, akhirnya dengan resiko apapun Abu Bakar Ash-Shidiq  tampil ke  depan dan berkata “Saya akan menyetujui salah seorang yang kalian pilih diantara kedua orang  ini”  yakni   tidak bisa  lebih mengutamakan kami  sendiri  dari  pada anda dalam hal   ini”,   situasi  menjadi   lebih kacau  lagi,  kemudia Umar  berbicara untuk mendukung Abu Bakar Ash-Shidiq  dan mengangkat  setia kepadanya.  Dia  tidak memerlukan waktu lama untuk menyakinkan kaum Anshor  dan yang  lain,  bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq  adalah orang yang paling patut di Madinah untuk menjadi penerus pertama dari Nabi Muhammad SAW.
Sesudah   argumentasi   demi   argumentasi   dilontarkan,   musyawarah   secara   bulat menunjuk Abu Bakar Ash-Shidiq  untuk menjabat Khalifah dengan gelar “Amirul  Mu’minin”.  Dengan semangat   Islamiyyah  terpilihlah Abu Bakar Ash-Shidiq   .  Dia adalah orang yang  ideal,  karena sejak mula pertama  Islam diturunkan menjadi  pendamping Nabi,  dialah sahabat  yang paling memahami   risalah Rasul.  Disamping  itu beliau  juga pernah menggantikan   Rasulullah sebagai imam pada saat Rasulullah sakit.
Setelah mereka sepakat dengan gagasan Umar,  sekelompok demi  sekelompok maju kedepan   dan   bersama-sama   membaiat   Abu   Bakar   sebagai   Khalifah.   Baiat   tersebut dinamakan  baiat   tsaqifah  karena bertempat  di  balai  Tsaqifah Bani  Sa’idah.  Pertemuan politik itu berlagsung hangat, terbuka dan demokratis.
Pertemua  politik   itu merupakan peristiwa   sejarah  yang   penting  bagi  umat   Islam. Sesuatu   yang   megikat   mereka   tetap   dalam   satu   kepemimpinan   pemerintahan.   Dan terpilihnya   Abu   Bakar  menjadi   Khalifah   pertama,  menjadi   dasar   terbentuknya   sistem pemerintahan Khalifah dalam Islam.[8]
3.        Sistem politik Islam masa Abu Bakar Ash-Shidiq
Pengangkatan Abu Bakar Ash-Shidiq  sebagai Khalifah (pengganti Nabi) dan maju mundurnya sebuah pemerintahan akan sangat bergantung kepada pemegang kekuasaan.[9] Sebagaimana dijelaskan pada peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah, merupakan bukti bahwa Abu Bakar Ash-Shidiq  menjadi Khalifah bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Denga terpilihnya Abu Bakar Ash-Shidiq  menjadi Khalifah, maka mulailah beliau menjalankan kekhalifahannya, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai pemimpin pemerintahan. Adapun sistem politik Islam pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq  bersifat “sentral”, jadi kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, meskipun demikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar Ash-Shidiq  selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah[10].
4.        Penyelesaian kaum Riddat dan Nabi palsu
Sebagai khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shidiq  dihadapkan kepada keadaan masyarakat sepeninggalan Nabi Muhammad. Ia bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan tindakan yangh harus diambil dalam menghadapi kesulitan-keaulitan yang dihadapinya, meski terjadi perbedaan pendapat dan tindakan  dalam menentukan keputusan Abu Bakar Ash-Shidiq  dengan kebesaran jiwa dan ketabahan hati seraya bersumpah dengan tegas menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran sehingga kembali kejalan yang benar yaitu jalan Agama[11].
Gerakan  riddat  (gerakan belot  agama),  bermula menjelang Nabi  Muhammad  jatuh sakit. Ketika tersiar berita kemangkatan Nabi Muhammad, maka gerakan belot agama itu meluas di wilayah bagian tengah, wilayah bagian timur, wilayah bagian selatan sampai ke Madinah Al-Munawarah serta Makkah Al-Mukaramah  itu sudah berada dalam keadaan terkepung. Kenyataan itu yang dihadapi Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq .
Gerakan  riddat  itu bermula dengan kemunculan  tiga  tokoh yang mengaku dirinya Nabi, guna menyaingi Nabi Muhammad SAW, yaitu: Musailamah, Thulhah, Aswad Al-Insa. Musailamah berasal  dari  suku bangsa Bani  Hanifah di  Arabia Tengah,  Tulaiha seorangkepala   suku Bani  Asad,  Sajah   seorang  wanita  kristen  dari  Bani   Yarbu  yang  menikah dengan Musailamah .  Masing-masing   orang   tersebut  berupaya meluaskan pengikutnya dan membelakangi agama Islam.[12]
Para nabi  palsu  tersebut  pada umumnya menarik hati   orang-orang   Islam dengan membebaskan   prinsip-prinsip   moralis   dan   upacara   keagamaan   seperti   membolehkan minum-minuman   keras,   berjudi,  mengurangi   sholat   lima  waktu  menjadi   tiga,     puasa Ramadhan   dihapus,   pengubah   pembayaran   zakat   yang   wajib  menjadi   suka   rela   dan meniadakan batasan dalam perkawinan.
Dalam   gerakannya   Aswad   dan   kawan-kawannya   berusaha   menguasai   dan mempengaruhi masyarakat Islam, dengan mengerahkan pasukan untuk masuk ke daerah-daerah.  Akhirnya  pasukan  riddat pun berhasil  menyebar  kedaerah-daerah,  diantaranya: Bahrain,  Oman  Mahara   dan  Hadramaut.   Para   panglima   kaum  riddat  semakin   gencar melaksanakan misinya.
Akan   tetapi   Khalifah   Abu   Bakar   tidak   tinggal   diam,   beliau   berusaha   untuk memadamkan dan menumpas gerakan kaum  riddat.  Dengan sigap Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan   al-liwak (panji pasukan) kepada   masing-masing  pasukan.  Di   samping   itu,   setiap pasukan dibekali  al-mansyurat  (pengumuman) yang   harus disampaikan pada suku-suku Arab yang melibatkan dirinya dalam gerakan riddat.  Kandungan  isinya  memanggil  kembali  kepada   jalan  yang  benar.  Jikalau masih berkeras kepala, maka barulah dihadapi dengan kekerasan.
 Timbulnya kemunafikan dan kemurtadan. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa  setelah Nabi  Muhammad SAW wafat,  maka segala perjanjian dengan Nabi  menjadi  terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua yaitu :
a.       Mereka yang mengaku nabi  dan pengikutnya,   termasuk di  dalamnya orang yang meninggalkan sholat, zakat dan kembali melakukan kebiasaan jahiliyah.
b.      Mereka  membedakan  antara   sholat  dan  zakat,   tidak  mau mengakui   kewajiban zakat dan mengeluarkannya. [13]
Dalam menghadapi   kemunafikan   dan   kemurtadan   ini,   Abu   Bakar   tetap   pada prinsipnya yaitu memerangi mereka sampai tuntas.
Sebelum pasukan dikirim ke daerah yang di tuju terlebih dahulu dikirim surat yang menyeru kepada mereka agar kembali kepada jalan islam, namun tidak dapat sambutan, terpaksa pasukan dikirimkan dan membawa hasil yang gemilang,kebijakan tersebut dilakukan dengan tujuan terciptanya persatuan umat, penegakan hukum, dan keadilan. Dalam hal ini yang dilakukan Abu Bakar Ash-Shidiq  adalah mengangkat Ali sebagai deputinya untuk mengatasi masalah kesastriaan Negara disamping Umar Dan Abu Ubaidahn Ibn Jarrah.[14]
5.        Usaha Abu Bakar Ash-Shidiq  dalam mengembangkan dakwah Islam
Setelah pergolakan dalam negeri berhasil dipadamkan terutama memerangi orang-orang murtad Khalifa Abu Bakar Ash-Shidiq  menghadapi kekuatan Persia dan Ramawi yang setiap saat berkeinginan menghacurkan eksistensi Islam. Untuk menghadapi Persia, Abu Bakar Ash-Shidiq  mengirim tentara Islam dibawah pimpinan Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Haritshah dan berhasil merebut beberapa daerah penting Irak dak Persia. Adapun untuk memerangi Romawi, Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  memilih empat panglima islam terbaik untuk memimpin beribu-ribu  pasukan di empat front, yaitu Amr bin al-Ash di front Palestina, Yazid bin Abi Sufyan di front Damaskus Abu Ubaidah di front Hims, dan Syurahbil bin Hasanah di front Yordsania. Empat pasukan ini kemudian dibantu oleh Khalid bin Walid yang bertempur di front Siria. Perjuangan-perjungan dan ekspedisi meliter tersebut baru tuntas pada masa Khalifah Umar bin Khatthab.[15]  
6.        Yurisprudensi (sistem hukum) dan khazanah keagamaan masa Abu Bakar Ash-Shidiq
Apabila  terjadi  suatu  perkara,  Abu Bakar Ash-Shidiq   selalu  mencari  hukumnya dalam  kitab Allah.  Jika  beliau  tidak  memperolehnya  maka  beliau  mempelajari  bagaimana  Rasul bertindak dalam suatu perkara. Dan jika tidak ditemukannya  apa yang dicari, beliaupun mengumpulkan tokoh-tokoh yang terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang diputuskan  mereka  setelah  pembahasan,  diskusi,  dan  penelitian,  beliaupun menjadikannya sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan.
Dan bentuk peradaban  yang paling besar yaitu menghimpun al-Quran. Abu Bakar Ash-Shidiq  memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan seluruh al-Quran yang masih dalam bentuk pelepah kurma serta kulit binatang serta dari para sahabat yang hafal al-quran.[16]



C.    Kesimpulan
Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  dalam masa yang singkat telah berhasil memadamkan kerusuhan  oleh  kaum  riddat yang  demikian  luasnya  dan   memulihkan  kembali  ketertiban  dan keamanan  diseluruh  semenanjung  Arabia.  Selanjutkan  membebaskan  lembah Mesopotamia yang didiami suku-suku Arab. Disamping itu, Jasa beliau yang amat besar bagi  kepentingan  agama  Islam adalah  beliau  memerintahkan  mengumpulkan  naskah naskah setiap ayat-ayat Al-Qur’an dari simpanan Al-Kuttab, yakni para penulis (sekretaris) yang pernah ditunjuk oleh Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya, dan menyimpan keseluruhan naskah di rumah janda Nabi SAW, yakni Siti Hafshah.
Tidak  lebih  dari  dua tahun,  Khalifah  Abu Bakar Ash-Shidiq   mampu menegakkan tiang-tiang agama Islam, termasuk diluar jazirah Arab yang begitu luas. Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  berlangsung hanya 2 tahun 3 bulan 11 hari. Masa tersebut merupakan waktu yang paling  singkat  bila  dibandingkan  dengan  kepemimpinan  Khalifah-Khalifah  penerusnya. Meski  demikian beliau  dapat  disebut sebagai  penyelamat dan penegak agama Allah  di muka bumi. Dengan sikap kebijaksanaannya sebagai kepala negara dan ke-tawadhu’annya  kepada  Allah  serta  agamanya,  beliau  dapat  menghancurkan  musuh-musuh  yang merongrong agama Islam bahkan dapat memperluas wilayah Islam keluar Arabia.
Adapun kesuksesan yang diraih Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  selama memimpin pemerintahan Islam dapat dirinci sebagai berikut:
1)      Perhatian  Abu Bakar Ash-Shidiq  ditujukan untuk melaksanakan keinginan nabi,  yang hampir tidak  terlaksana,  yaitu  mengirimkan  suatu  ekspedisi  dibawah  pimpinan  Usamah keperbatasan Syiria. Meskipun hal itu dikecam oleh sahabat-sahabat yang lain, karena kondisi dalam negara pada saat itu masih labil. Akhirnya pasukan itu diberangkatkan, dan  dalam  tempo  beberapa  hari  Usamah  kembali  dari  Syiria  dengan  membawa kemenangan yang gemilang.
2)      Keahlian Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  dalam menghancurkan gerakan kaum riddat, sehingga gerakan tersebut dapat dimusnahkan dan dalam waktu satu tahun kekuasaan Islam pulih kembali. Setelah peristiwa tersebut solidaritas Islam terpelihara dengan baik dan kemenangan atas suku yang memberontak memberi jalan bagi perkembangan Islam. Keberhasilan tersebut juga memberi harapan dan keberanian baru untuk menghadapi kekuatan Bizantium dan Sasania.
3)      Ketelitian Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq  dalam menangani orang-orang yang menolak membayar zakat. Beliau memutuskan untuk memberantas dan menundukkan kelompok tersebut dengan serangan yang gencar sehingga sebagian mereka menyerah dan kembali pada ajaran Islam yang sebenarnya. Dengan demikian Islam dapat diselamatkan dan zakat mulai mengalir lagi dari dalam maupun dari luar negeri.
4)      Melakukan  pengembangan  wilayah  Islam  keluar  Arabia.  Untuk  itu,  Abu  Bakar membentuk kekuatan dibawah komando Kholid bin Walid yang dikirim ke Irak dan Persia.  Ekspedisi  ini  membuahkan  hasil  yang  gemilang.  Selanjutnya  memusatkan serangan ke Syiria yang diduduki bangsa Romawi. Hal ini didasarkan secara ekonomis Syiria  merupakan  wilayah  yang  penting  bagi  Arabia,  karena  eksistensi  Arabia bergantung pada perdagangan dengan Syiria. Sehingga penaklukan ke wilayah Syiria penting bagi umat Islam. Tetapi kemenangan secara mutlak belum terwujud sampai Abu Bakar Ash-Shidiq  meninggal Dunia pada hari Kamis, tanggal 22 Jumadil Akhir, 13 H atau 23 Agustus 634 M
Dari penjelasan yang terurai diatas, dapat disimpulkan bahwasan Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq Al–Shiddiq adalah seorang  pemimpin yang tegas, adil dan bijaksana. Selama hayat hinggamasa-masa  menjadi  Khalifah,  Abu  Bakar  dapat  dijadikan  teladan  dalam kesederhanaan,kerendahan hati, kehati-hatian, dan kelemah lembutan pada saat dia kaya dan  memiliki  jabatan  yang  tinggi.  Ini  terbukti  dengan  keberhasilan  beliau  dalammenghadapi dan mengatasi berbagai kerumitan yang terjadi pada masa pemerintahannya tersebut.  Beliau   tidak  mengutamakan  pribadi  dan  sanak  kerabatnya,  melainkan mengutamakan  kepentingan  rakyat  dan  juga  mengutamakan  masyarakat/  demokrasi dalam mengambil suatu keputusan.






D.     Daftar pustaka
1.      Dr. Badri Yatim, M.A. sejarah Peradaban Islam,  Jakarta, Raja Wali Press, 2008
2.      Ira M. Lapidus,Sejarah Sosial Ummad Islam, terj.Ilyas Hasan, Bandung: Mizan,1980
3.      Maryam Siti, dkk, Sejarah peradaban Islam dari masa klasik hingga Modern , LESFI Yogyakarta: jurusan SPi Fak Adab IAIN Sunan Kali Jaga, 2003.
4.      Osman Latif A, Ringkasan sejarah Islam, Jakarta: Widjaya Jakarta, 2001.
5.      Supriyadi  Dedi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka setia, 2008.
6.      H.Ibnu Anshori - Muhlisin  Artikel sejarah peradaban islam, Surabaya: desember, 2006.


[1] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradapan Isalam Dari Masa Klasik Hingga Modern, editor. Siti Maryam,( jurusan SPI fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga,2003), hlm 51.
[2] Ira M. Lapidus,Sejarah Sosial Ummad Islam, terj.Ilyas Hasan,(Bandung: Mizan, 1980), hlm 23.
[3] M.Rida, Abu Bakar Ash-Shidiq  Ash-Siddiq Awalu al-Kulafa ar-Rasyidin. (Bairut Daru al-Fikr 1983), hlm.7-8
[4] Dr.Abbas Mahmud Aqqad, Keagungan Abu Bakar Ash-Shidiq  As-Shiddiq, trj. Abdullah Hamdami, (Cv Pustaka Mantiq, 1990) hlm 17-23
[5] Ibid
[6] Ibid, hlm 24-30. Dan Dr. Badri Yatim, M.A. sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, Raja Wali Press, 2008 ), hlm 35-36.
[7] Dudung Abdurrahman, Op .cit, hlm 54
[8] H.Ibnu Anshori - Muhlisin  Artikel sejarah peradaban islam bab III dan Dr.Abbas Mahmud Aqqad, Keagungan Abu Bakar Ash-Shidiq  As-Shiddiq ,hlm 24-43
[9] Dudung Abdurrahman, Opcit, hlm 55
[10] Ibid hlm 58
[11] Ibid hlm 56
[12] A.Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, (Wijaya Jakarta, 2001), hlm 43-44
[13] A.Latif Osman, Loc.cit
[14] Ibid, hlm 56
[15] Dedi Supriyadi,M.Ag, SejarahPeradaban Islam, (Pustaka Setia, Bandung, 2008), hlm 71-72.
[16]  Ibid, hlm 73.

0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer