top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

30 Mei 2011

Jam'u al-Quran


Bab I
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله مـن شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلاّ الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم أما بعد:

فقد أنزل الله U على عبده محمد r القرآن الكريم ليكون للعالمين نذيرا، وجعله خاتمة كتبه، ومهيمنا عليها، وحجة على خلقه، ومعجزة لنبيه r لهذا تكفل الله U بحفظه فقال إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ  (الحجر: 9) وقال: لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (فصلت:42) وقال لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ  فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ (القيامة: 16-17)، فهيـأ لـذلك الأسبـاب والرجـال يحفظونــه، ويعلمونـه، ويقدمون أنفسهم في سبيل تعليم الناس بعض آيات من القرآن الكريم.




















Bab II
البحث
1.    Pengertian Jam’ al-Qur’an
a)     Pengertian secara etimologi
الأول : معنى الجمع في اللغة .
الجَمْع : مصدر الفعل "جَمَع" ، يقال : جمع الشيء يجمعه جمعا.

Kata al-Jam’u adalah bentuk masdar dari jama’a  yang berarti menggabungkan, menghimpun, atau mengumpulkan. Dari ungkapkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kata Jam’ al-Qur’an dari segi bahasa mempunyai arti  menggabungkan atau mengumpulkan al-Qur’an.
b)    Pengertian secara terminologi
Secara terminologi jam’ al-Qur’an memiliki dua arti :
1.    Menghafalkan al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 17[1] yaitu;
¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur
2.    menulis dan mengumpulkan al-Qur’an sebagaimana ucapan Zaid bin Tsabit sebagai berikut:
فتتبعت القرآن أجمعه من العسف واللخاف وصدور الرجال[2]
Jadi ketika berbicara tentang jam’ al-Qur’an, maka yang dimaksudkan dengan ungkapan ini adalah pengumpulan wahyu yang diterima nabi melalui kedua cara tersebut. Istilah ini hanya dipakai pada zaman Nabi, sedangkan pada masa Abu Bakar jam’ al-Qur’an hanya dipakai dalam satu arti yaitu menulis dan mengumpulkan al-Qur’an, dan pada masa Usman mempunyai arti menyalin mushaf.[3]

Namun sebenarnya dari dua nama al-Qur’an yang paling populer, kitapun akan memperoleh dua arti tersebut, yaitu :
1.      Al-Qur’an
Nama ini mengindikasikan kepada arti yang pertama yaitu menghafalkan al-Qur’an karena lafal al-qur’an berasal dari kata “qoro’a” yang berarti membaca, sebagaimana firman Allah di atas, yaitu:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ
2.      Al-Kitab
Sedangkan kata al-Kitab mengindikasikan kepada arti yang kedua yaitu menulis al-Qur’an karena lafal al-Kitab adalah masdar dari lafal “kataba” yang berarti menulis.
Jadi dua nama al-Qur’an tersebut sudah mengindikasikan bahwa al-Qur’an harus di rawat baik secara tulisan maupun hafalan.
2.    Pemeliharaan al-Qur’an
a)      Pemeliharaan al-Qur’an di langit
Al-Qur’an telah di muliakan semenjak berada di langit, di mana  hal ini sudah disampaikan oleh Allah dengan  sumpah-Nya yang termaktub dalam al- Qur’an :
* Ixsù ÞOÅ¡ø%é& ÆìÏ%ºuqyJÎ/ ÏQqàfZ9$# ÇÐÎÈ ¼çm¯RÎ)ur ÒO|¡s)s9 öq©9 tbqßJn=÷ès? íOŠÏàtã ÇÐÏÈ ¼çm¯RÎ) ×b#uäöà)s9 ×Lq̍x. ÇÐÐÈ Îû 5=»tGÏ. 5bqãZõ3¨B ÇÐÑÈ žw ÿ¼çm¡yJtƒ žwÎ) tbr㍣gsÜßJø9$# ÇÐÒÈ ×@ƒÍ\s? `ÏiB Éb>§ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÑÉÈ
Maka Aku bersumpah dengan masa Turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui.  Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia,.Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamin.
Dari ayat tersebut bisa kita fahami bahwa, ketika al-Qur’an berada di langit,  Allah telah memuliakan dan memeliharanya dari syaitan bahkan tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang suci.
b)      Pemeliharaan al-Qur’an ketika menuju ke bumi
Allah memelihara al-Qur’an al-Karim ketika menuju bumi dengan cara  menurunkan ruh yang suci atau malaikat jibril sebagai pembawa al-Qur’an karena al-Qur’an tidak pantas di bawa oleh ruh yang kotor sebagaimana firman Allah SWT:
$tBur ôMs9¨t\s? ÏmÎ/ ßûüÏÜ»u¤±9$# ÇËÊÉÈ $tBur ÓÈöt7.^tƒ öNçlm; $tBur šcqãèÏÜtGó¡o ÇËÊÊÈ
Dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Quran itu, dan merekapun tidak akan Kuasa
Dari ayat di atas dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an tidak mungkin dibawa oleh syaitan, al-Qur’an hanya bisa dibawa oleh ruh yang bersih yaitu malaikat[4].
c)      Pemeliharaan al-Qur’an di bumi
Allah memelihara al-Qur’an di bumi melalui Rasulullah, di mana Rasulullah memeliharanya dengan sebaik-baiknya dan menyampaikannya kepada umat, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 16-19:
Ÿw õ8ÌhptéB ¾ÏmÎ/ y7tR$|¡Ï9 Ÿ@yf÷ètGÏ9 ÿ¾ÏmÎ/ ÇÊÏÈ ¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ §NèO ¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmtR$uŠt/ ÇÊÒÈ
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.
Rasulullah juga sangat antusias dalam mempelajari al-Qur’an di setiap waktu, beliau selalu membacanya di waktu sholat malam sambil merenungkan makna yang terkandung di dalamnya, sampai-sampai kedua kakinya pecah akibat banyaknya beribadah kepada Allah dalam rangka melaksanakan perintah-Nya
3.    Penulisan al-Qur’an Pada Masa Rasulillah
a)      Dalil-dalil yang menunjukkan adanya penulisan al-Qur’an pada masa Rosul.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan adanya penulisan al-Qur’an pada masa Rasul, yaitu:

Ø Kemutlakan lafadz kitab bagi al-Qur’an dalam beberapa ayat al- Qur’an, salah satunya adalah firman Allah yang termaktub dalam surat al-Baqarah ayat 2:
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù
Jadi lafal al Kitab itu menunjukkan bahwa al-Qur’an itu di tulis.

Ø Penulisan itu adalah sebuah sifat yang melekat pada al-Qur’an, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah yang termaktub dalam surat al-Bayyinah ayat 2-3:
×Aqßu z`ÏiB «!$# (#qè=÷Gtƒ $ZÿçtྠZot£gsÜB ÇËÈ $pkŽÏù Ò=çGä. ×pyJÍhs% ÇÌÈ
             Di mana lafal Mushaf tersebut merupakan jama’ dari lafal shahīfah yang artinya lembaran, sedangkan lembaran adalah tempat untuk menulis.

Ø Banyaknya hadis yang menunjukkan adanya penulisan al-Qur’an pada masa Rasul, diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari[5]:

« أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن يُسَافر بالقرآن إلى أرض العدو »

            Di samping hadis di atas, masih banyak lagi hadis yang menunjukkan adanya penulisan al-Qur’an pada masa Nabi.

Ø Adanya izin dari Nabi untuk menulis al-Qur’an, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[6]:

أخرج مسلم عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا تكتبوا عني ، ومن كتب عني غير القرآن فليمحه »

                 Hadis tersebut menunjukkan adanya larangan Nabi kepada sahabat untuk menulis selain al-Qur’an sedangkan al-Qur’an di izinkan oleh beliau untuk di tulis.

Ø Nabi mempunyai penulis wahyu, sebagaimana Hadis berikut[7]:
أن أبا بكر قال لزيد بن ثابت رضي الله عنهما : كنت تكتب الوحي لرسول الله صلى الله عليه وسلم .

Ø Adanya petunjuk Nabi kepada para penulis wahyu untuk meletakkan ayat-ayat al-Qur’an pada tempatnya di sebuah surat, sebagaimana hadis yang di riwayatkan Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan al-Hakim dari hadis Abd Allah bin Abbas dari Usman bin Affan bahwa Usman berkata[8]:



« كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مما يأتي عليه الزمان ، ينزل عليه من السور ذوات العدد ، فكان إذا نزل عليه الشيء يدعو بعض من يكتب عنده فيقول : "ضعوا هذه في السورة التي يذكر فيها كذا وكذا . وينزل عليه الآية فيقول : ضعوا هذه الآية في السورة التي يذكر فيها كذا وكذا وينزل عليه الآيات فيقول : ضعوا هذه الآيات في السورة التي يذكر فيها كذا وكذا »


b)      Para penulis wahyu

Sebagaimana di sebutkan pada pembahasan yang sebelumnya bahwa Rasul mempunyai para penulis wahyu, pada pembahasan kali ini akan di jelaskan tentang nama para penulis wahyu tersebut. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya, sebagian dari mereka ada yang mengatakan berjumlah 44 penulis wahyu. Namun yang paling masyhur sebagai penulis wahyu adalah nama-nama di bawah ini:

v  Abdullah bin Sa’ad. Dia adalah orang pertama yang menulis al-Qur’an sewaktu rasul berada di Mekkah tapi kemudian syaitan menyesatkannya sehingga dia menjadi kafir, namun pada akhirnya dia masuk islam kembali pada peristiwa fathu Makkah dan kembali menulis wahyu[9].
v  Usman bin Affan. Beliau adalah khulafā’ al-Rāsyidīn yang ke tiga. Allah telah menetapkan kehendaknya tentang penulisan dan pengumpulan al-Qur’an pada masa beliau.
v  Ali bin Abi Thalib, khalifah ke empat.
v  Ubay bin Ka’ab, Dia adalah penulis wahyu yang pertama sewaktu Rasulullah berada di madinah, di samping itu, beliau juga ahli dalam bidang tilāwah.
v  Zaid bin Sabit. Dia adalah orang yang paling banyak menulis al-Qur’an, bahkan Imam Bukhāri menjulukinya sebagai sekretaris Nabi dalam kitab sahīhnya[10].
v  Muawiyah bin Abi Sufyan. Dia menjadi penulis wahyu setelah ayahnya meminta kepada nabi agar Abu Sufyan dijadikan sebagai penulis wahyu pada waktu peristiwa Fathu makkah[11].

Mereka berenam itulah yang menulis al-Qur’an dan meletakkan tulisannya di kamar Nabi, namun di samping mereka, masih ada sahabat-sahabat yang lain seperti Abu Bakar, Umar, Ibn Mas’ud dan lain-lainnya, akan tetapi mereka menulis al-Qur’an hanya untuk mereka sendiri dan bukan atas perintah Rasulullah.

c)      Alat yang dipergunakan untuk menulis wahyu

Para penulis wahyu menulis al-Qur’an dengan cara dan alat yang sederhana  pada waktu itu, di antara alat yang mereka pergunakan adalah:

1.      Potongan kulit hewan, kain, atau daun. Alat ini adalah alat yang sering dipergunakan oleh mereka.
2.      Al-Aktaf atau tulang hewan. Menurut Imam as-Suyuti yang dimaksud al-Aktaf adalah tulang unta dan kambing[12].
3.      Pelepah kurma.
4.      Permukaan batu yang berukuran lebar, sebagaimana ucapan Zaid bin Tsabit[13],
فتتبعت القرآن أجمعه من العسب واللخاف وصدور الرجال
5.      Pelana unta[14].

d)     Sifat penulisan wahyu pada masa Rasulillah

Pada pembahasan kali ini akan dijelaskan mengenai sifat-sifat penulisan al-Qur’an pada masa Nabi:

1.      Al-Qur’an telah tertulis secara sempurna sebelum nabi wafat.
2.      Perintah Rasulullah SAW untuk menulis al-Qur’an masih bersifat umum dan tidak harus dikumpulkan dalam satu mushaf.
3.      Penulisan al-Qur’an terselesaikan dengan menggunakan alat yang bermacam-macam
4.      Belum tersusun surat-suratnya.

e)      Faktor-faktor tidak adanya pengumpulan al-Qur’an dalam satu mushaf pada masa Nabi

Pada masa Rasullah SAW al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf dikarenakan beberapa faktor[15]:

1.      Turunnya  al-Qur’an secara berangsur-angsur.
2.      Urutan ayat al-Qur’an tidak berdasarkan turunnya ayat tersebut, melainkan berdasarkan apa yang ada di lauh al-mahfūz, jadi seandainya al-Qur’an disusun sesuai dengan turunnya ayat, maka akan bertentangan dengan susunan yang ada di lauh al- mahfūz.
3.      Minimnya tenggang waktu antara wafatnya Rasulullah dengan ayat yang terakhir kali turun, sehingga waktu tersebut tidak mencukupi untuk mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf.
4.      Tidak ada alasan yang kuat untuk mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mushaf seperti faktor  yang ada pada masa Abu Bakar.

4.    Pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar

a)      Sebab bimbangnya Abu Bakar dalam menerima pendapat Umar untuk mengumpulkan al-Qur’an

Abu Bakar bimbang dalam menerima pendapat Umar untuk mengumpulkan al-Qur’an, karena beliau beranggapan bahwa pengumpulan al-Qur’an dalam satu mushaf adalah bid’ah sehingga beliau hawatir akan terjadi sesuatu yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW atau diperintahkannya dan karena itu Abu Bakar berkata[16],

"كيف أفعل شيئا لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال ابن بطال : "إنما نفر أبو بكر أولا ، ثم زيد بن ثابت ثانيا ، لأنهما لم يجدا رسول الله صلى الله عليه وسلم فعله، فكرها أن يحلا أنفسهما محل من يزيد احتياطه للدين على احتياط الرسول

. Namun Sayyidina Umar bin Khattab terus memberi support dan berharap agar Sayyidina Abu Bakar dapat menerima idenya, dan pada akhirnya Sayyidina Abu Bakar menerima usulan Umar mengingat pentingnya hal tersebut.

b)      Sebab pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar

Adanya pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar di karenakan kehawatiran para sahabat akan hilangnya al-Qur’an disebabkan syahidnya para uffadz al-Qur’an dalam perang Yamamah, jadi menghimpun al-Qur’an dalam satu mushaf akan  menjaga al-Qur’an sampai akhir zaman.

c)      Sebab-sebab terpilihnya Zaid bin Tsabit

Abu bakar menjelaskan tentang sifat-sifat yang membuatnya memilih Zaid bin Tsabit sebagai ketua panitia dalam mengumpulkan al-Qur’an sebagamana penjelasan sebagai berikut :

1.      pemuda yang rajin
2.      Pintar
3.      Tidak fasiq
4.      Salah satu penulis wahyu Rasulullah

Sahabat yang lain beranggapan bahwa alasan Abu Bakar dan Usman memilihnya sebagai ketua panitia ialah karena Zaid bin Tsabit memiliki tulisan yang bagus dan dia pernah membaca al-Qur’an sebanyak dua  kali sebelum nabi wafat.

d)     Metode pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar

Sesudah khalīfah Abu Bakar menerima usulan untuk pengumpulan al-Qur’an, beliau memerintah Umar dan Zaid bin Tsabit untuk memulai mengumpulkan al-Qur’an dengan menggunakan dua metode secara bersamaan, yaitu:

1.      Tulisan yang ditulis pada masa nabi
2.      Hafalan para sahabat

Dalil yang menunjukkan tentang dua metode tersebut adalah ucapan Zaid bin Tsabit[17] :

فتتبعت القرآن أجمعه من العسب واللخاف ، وصدور الرجال

e)      Lama waktu pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar

Pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar menghabiskan waktu sekitar lima belas bulan yang dimulai setelah perang Yamamah yang terjadi pada akhir tahun ke 11 H atau pada awal tahun ke 12 H sampai sebelum wafatnya Abu Bakar yaitu bulan ke enam tahun 13 H, sebagaimana ucapan Zaid bin Tsabit[18] :

فكانت الصحف عند أبي بكر حتى توفاه الله

f)       Penamaan al-Qur’an dengan al-Mushaf

Sesudah Zaid bin Tsabit menyempurnakan pengumpulan al-Qur’an, beliau Menyebutnya dengan al-Mushaf. Al-Suyuti meriwayatkan dari Ibn Asytah dia berkata,
"لما جمعوا القرآن فكتبوه في الورق، قال أبو بكر : التمسوا له اسما، فقال بعضهم: السِّفْر وقال بعضهم : المصحف ، فإن الحبشة يسمونه المصحف . وكان أبو بكر أول من جمع كتاب الله وسماه "المصحف".

Jadi Abu Bakarlah yang pertama kali mengumpulkan al-Qur’an dan memberinya nama dengan mushaf.[19]
5.    Pengumpulan al-Qur’an pada masa Usman

a)         Ide untuk mengumpulkan al-Qur’an

Ketika Usman bin Affan mendengar kabar yang disampaikan oleh Hudzaifah Ibn Yaman, beliau mengumpulkan sahabat guna bermusyawarah tentang hal tersebut yang kemudian menghasilkan tiga kesepakatan :

1.      Menyalin mushaf yang pertama
2.      Mengirimkan salinannya kebeberapa daerah
3.      Membakar lembaran-lembaran mushaf yang masih ada di tangan sahabat[20]


b)        Sebab pengumpulan al-Qur’an pada masa Usman

Sebab adanya pengumpulan mushaf pada masa Usman Bin Affan adalah:

1.      Terjadinya perbedaan bacaan dalam al-Qur’an.
2.      Banyaknya lembaran-lembaran al-Qur’an yang ada pada sahabat.

c)         Metode pengumpulan al-Qur’an pada masa Usman

Setelah Usman Bin Affan menetapkan niatnya untuk menetapkan al-Qur’an, kemudian beliau memberikan prosedur pengumpulannya :

1.      Berpijak pada mushaf yang dikumpulkan Zaid bin Tsabit pada masa Abu Bakar.
2.      Pengawasan langsung oleh Usman Bin Affan.
3.      Panitia penulis al-Qur’an harus merujuk kembali kepada Usman tentang tata cara penulisannya.
4.      Mengkroscek kembali tulisan mereka kepada para pembesar sahabat dalam hal cara membacanya lebih-lebih dalam ayat yang banyak cara bacaannya.

d)        Penyebaran al-Qur’an ke beberapa daerah

Sesudah penyalinan al-Qur’an terselesaikan, Usman mengembalikan lembaran al-Qur’an yang asli kepada Sayyidah Hafshah dan memerintahkan untuk mengirimkan salinan-salinan mushaf ke beberapa daerah supaya dapat menghilangkan perbedaan bacaan al-Qur’an di antara mereka, dan beliau sendiri menyimpan satu mushaf  yang di sebut “mushaf al Imam”. Mengenai jumlah salinan mushaf, para Ulama terjadi perberbedaan pendapat:

1.      Menurut al-Jazzari ada 8 mushaf[21]
2.      Menurut al-Dani ada 4 mushaf.
3.      Menurut Ibn Hajar ada 5 mushaf.[22]

Dari perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas ulama mufakat bahwa salinan mushaf ada 5 yaitu yang di sebarkan ke Kufah, Bashrah, Syam, Madinah, dan yang di pegang sendiri oleh Usman. Sedangkan yang masih menjadi perbedaan adalah Mekkah, Bahrain, dan Yaman.

e)         Pembakaran lembaran-lembaran al-Qur’an yang lain, dan respon positif sahabat.

Setelah Usman mengirimkan salinan-salinan mushaf ke beberapa daerah, beliau memerintahkan untuk membakar lembaran-lembaran mushaf yang masih berada di tangan para sahabat, dan para sahabatpun memberikan respon positif akan hal itu termasuk Abdullah Ibn Mas’ud walaupun pada awalnya beliau menolaknya.

                                                
















Bab III

الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه وبعد:
فقـد تنـاول هذا البحث معنى جمع القرآن الكريـم في اللغة والاصطلاح، والمقصود بحفظ القرآن الكريم، ثم مراحل كتابته زمن النبي صلى اله عليه وسلم والخلفاء الراشدين.
وظهر فيه ما يلي:
أولا: أن القـرآن الكريم محفوظ بحفظ الله له منذ أن كان في السماء، وفي طريقه إلى الأرض، وحين نزل إلى الأرض.
ثانيا: أن كتابة القرآن الكريم زمن النبي r والخلفاء الراشدين مرت بمراحل ثلاث، كل مرحلة لها سمتها وخصائصها أوجزها بما يلي:
1- المراد بجمع القرآن الكريم في العهود الثلاثة:
* في عهد النبي r حِفْظُه عن ظهر قلب، وكتابته على الأدوات المتوفرة ذلك الوقت.
* في عهد أبي بكر الصديق t كتابة القرآن الكريم في مصحف واحد مسلسل الآيات مرتب السور.
* في عهد عثمان بن عفان t نسخ المصحف الذي كتب في عهد أبي بكر بمصاحف متعددة.
2- سبب الجمـع:
* في عهد النبي r لمجرد كتابته وحفظه.
* في عهد أبي بكر الصديق t خشية أن يذهب من القرآن شيء بذهاب حملته، حين كثر القتل بالقراء.
* في عهد عثمان t لما كثر الاختلاف في وجوه القراءة فأراد حسم هذا الخلاف بجمعه على مصحف واحد.
3- ترتيب الآيات في سورها:
قدر مشترك في العهود الثلاثة، إلاّ أنه في عهد النبي r لم يكن يربطها رابط، لعدم تجانس الأشياء المكتوبة فيها.
4- ترتيب السور كتابةً:
في عهد النبي r لم تكن مرتبة كتابة.
وفي عهد أبي بكر وعثمان - رضي الله عنهما - فقد كانت مرتبة في جمعهما.
6- كتابة القرآن في مكان واحد:
في عهد النبي r كان غير مجموع في موضع واحد.
وفي عهد أبي بكر وعثمان رضي الله عنهما كتب في مكان واحد.
7- تجريد الكتابة من النقط والشكل:
قدر مشترك في العهود الثلاثة؛ لعدم وجودها ذلك الوقت، وأفاد في كتابة القرآن الكريم بشكل يجمع القراءات المتعددة.






Al-Bukhāri. Shahīh al-Bukhā, Damaskus: Dār al-fikr. 1981.
Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal. Al-Musnad, al-Qāhirah: Dār al-hadīts. 1995.
Ahmad Abd al-Rahman Isa. Kuttāb al-Wahy, Dār al-Liwa’. 1400
Ahmad bin Hajar al-Asqalāni. Fath al-Bāri, Beirut: Dār al-Ma’rifah.

Al-Suyūti. Al-Itqān fi Ulūm al-Qur’an, Beirut: Muassasat al-kutub al-Saqāfiyyah. 1996.
Ali bin Sulaimān al-Ubaid. Jam’ al-Qur’an al-Karim.
Al-Thabari. Tarikh al-Rasul wa al-Mulūk. Qahirah: Dār al-Ma’ārif.
Al-Zamakhsyari. al-Kassyāf, Damaskus: Dār al-fikr.
Al-Zarqānī. Manāhil al-Irfān Fi Ulūm al-Qur’an, al-Qāhirah: Dār Ihya’ Kutub al-Arabiyyah. 1918.
Ibn Qayyim al-Jauzi. Dhau’ al-Munir ala al-Tafsir, Riyad: Muassasah al-Nur.
Muslim. Shahīh Muslim, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyyah.



[1] Al-Zamakhsyari. al-Kassyāf, Damaskus: Dār al-fikr. Juz. 4. Hlm. 191.
[2] Al-Bukhāri. Shahīh al-Bukhā, Damaskus: Dār al-fikr. 1981. Juz. 6. Hlm. 98
[3] Al-Zarqānī. Manāhil al-Irfān Fi Ulūm al-Qur’an, al-Qāhirah: Dār Ihya’ Kutub al-‘Arabiyyah. 1918. Juz.1. Hlm. 239
[4] Ibn Qayyim al-Jauzi. Al-Dhau’ al-Munīr ala al-Tafsir, Riyad: Muassasah al-Nūr. Juz. 5. Hlm. 587.
[5] Al-Bukhāri. Shahīh al-Bukhā, Juz. 4. Hlm. 15.
[6]  Muslim. Shahīh Muslim, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyyah. Juz. 18. Hlm. 129.
[7] Opcit. Juz. 6. Hlm. 98.
[8] Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal. Al-Musnad, al-Qāhirah: Dār al-hadīts. 1995. Juz. 1. Hlm. 334 .
[9] Ahmad Abd al-Rahman Isa. Kuttāb al-Wahy, Dār al-Liwa’. 1400. Hlm. 325.
[10]  Al-Bukhāri. Shahīh al-Bukhā, Juz. 6. Hlm. 99.
[11] Ibn Hajar. Fath al-Bāri, Beirut: Dār al-Ma’rifah. Juz. 9. Hlm. 19.

[12] Al-Suyūti. Al-Itqān fi Ulūm al-Qur’an, Beirut: Muassasat al-kutub al-Saqāfiyyah. 1996. Juz. 1. Hlm. 164
[13] Al-Bukhāri. Shahīh al-Bukhā,Juz. 6. Hlm. 98.
[14] Opcit.
[15] Ali bin Sulaiman al-Ubaid. Jam’ al-Qur’an al-Karīm. Hlm. 37.
[16] Ibn Hajar. Fath al-Bāri, Juz. 9. Hlm. 11.

[17] Al-Suyūti. Al-Itqān fi Ulūm al-Qur’an, Juz. 1. Hlm. 161
[18] Al-Thabari. Tārīkh al-Rasūl wa al-Mulūk. Mesir: Dār al-Ma’ārif. Cet. 3. Juz. 3. Hlm. 343

[19] Al-Suyūti. Al-Itqān fi Ulūm al-Qur’an, Juz. 1. Hlm. 146
[20] Al-Zarqānī. Manāhil al-Irfān Fi Ulūm al-Qur’an,  Juz.1. Hlm. 260.
[21] Ibn al-Jazzari. Al-Nasyr Fi Qirā’at al-‘Asyr, Beirut: Dār al-kutub al-ilmiyyah. Juz. 1. Hlm. 7.
[22] Ibn Hajar. Fath al-Bāri, , Juz. 9. Hlm. 20

0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer