top down
CLICK TITLE TO READ MORE/AYO GABUNG DI BISNIS ONLINE 100%GRATIS SILAHKAN CLICK BENER DI ATAS

14 Juni 2011

PERADABAN ISLAM DI SPANYOL



PERADABAN ISLAM DI SPANYOL

==============================================



A. Proses Masuknya Islam di Spanyol

Peradaban Islam di Afrika dan Spanyol bermula dari serangkaian penaklukan oleh bangsa Arab pada abad ketujuh dan kedelapan, yang dilancarkan melalui kota Mesir. Penaklukan bangsa Arab mulai berkembang, dan sampai pada Spanyol kira-kira tahun 711
M.

Spanyol diduduki ummat Islam pada zaman Khalifah Walid (750-715 M), salah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukkan Spanyol, ummat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M).


Islam masuk tanah subur Spanyol ini, dengan cara penaklukan atau ekspedisi. Dalam hal penaklukan itu, ada tiga nama yang patut dicatat paling berjasa dalam sejarah penaklukan negeri tersebut. Mereka adalah Tarif ibnu Malik, Tariq ibnu Ziyad, dan Musa ibnu Nusair. Mereka bertiga mempunyai peranan sendiri-sendiri. Tarif ibnu Malik bersama pasukannya adalah rombongan yang pertama kali melakukan penyerbuan, pada tahun 91
H. Tarif dan pasukannya melintasi selat yang menghubungkan antara benua Eropa dan Afrika itu dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda. Mereka menumpang empat buah kapal yang disediakan oleh Julian (Syalabi, 1983:154). Dalam penyerbuan itu, Tarif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya (Yatim,
2003:88-89).

Suksesnya ekspedisi yang dicapai oleh Tarif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol saat itu, mendorong Gubernur Afrika utara yang berpusat di Qairuwan, yakni Musa ibnu Nusair untuk mengusai wilayah subur dibagian Barat Daya Eropa. Tariq ibnu ziyad diberi tugas untuk menaklukkan negeri hijau itu, dengan menyiapkan pasukan yang berjumlah 7000 personil. Mereka menyeberangi selat antara Afrika Utara dan Eropa itu dengan kapal-kapal yang telah disediakan oleh Julian sebagaimana penyebrangan pertama kali yang dilakukan Tarif (Brockelman,
1980:83). Pasukannya mendarat di sebuah gunung yang terkenal dengan nama Gibraltal (Jabal Tariq). Penaklukan yang dipimpin Tariq ini berakhir dengan kemenangan yang gemilang terjadi pada bulan Rajab tahun 92 H.

Rupanya Musa ibnu Nusair sendiri juga ingin berpartisipasi dalam peperangan menaklukkan negeri hijau yang subur itu. Ia berhasil menaklukan kota yang sangat kuat tersebut, selanjutnya ia taklukan kota Sevilla. Musa ibnu Nusair melanjutkan ekspedisinya hingga bertemu pasukan Tariq ibnu Ziad di Toledo. Mereka besama-sama meneruskan penaklukan ke utara, ke kota Saragossa dan Navarre (Brockelman, 1983:14).



B. Pekembangan Politik

Perkembangan politik di Spanyol tidak lepas dari beberapa aspek yang dapat mempengaruhinya diantaranya: ekonomi dan sosial. Dari pertama kali Islam menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya Islam disana, Islam memainkan peranan yang sangat besar, masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad sehingga masa ini dibagi menjadi beberapa periode.

1. Periode pertama (711-755 M)

Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna. Gangguan-gangguan masih terjadi baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, perbedaan pandangan antara Khalifah Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang mengaku paling berhak menguasai daerah Spanyol.

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di pegunungan yang tidak pernah tunduk pada pemerintahan Islam. Karena seringnya terjadi konflik maka dalam periode ini Islam Spanyol belum melakukan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya abd Rahman al-Dakhil ke Spanyol tahun 755 M.

2. Periode Kedua (755-912 M)

Pada periode ini, ummat Islam mulai memperoleh kemajuan baik dalam politik maupun peradaban. Misalnya didirikannya masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota- kota besar. Meskipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan sering terjadi diantaranya adanya gerakan KRISTEN fanatik, golongan pemberontak di Toledo pada tahun
852 M dan revolusi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak puas.

Pada tahun 755-912 M, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau Gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu di pegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurahman I yang memasuki Spanyol tahun 755 M dan diberi gelar al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Adapun urutan keamiran Bani Umayyah di Spanyol sebagai berikut:

a. Abd al-Rahman al-Dakhil (755-788 M)

Dalam tulisan sejarah dikenal dengan nama Abdul Rahman I. Ia seorang cucu Khalifah Umayyah, Hisyam, yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika berhasil menaklukkan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya dia mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol (Yatim, 2003: 95). Dengan dukungan bangsa Barbar dari Afrika Utara dan klien Syiria pada masa rezim Umayyah di Spanyol. Rezim baru ini mengikuti pola-pola pemerintahan Abbasiyah. Ia melancarkan serangkaian pemberontakan lokal, dan membentuk sebuah angkatan bersenjata terdiri dari para klien yang datang dari Utara Pyreness.

Abdurrahman ad-Dakhil diangkat sebagai Gubernur Cordova pada bulan Desember
755 M dan pada bulan Mei berikutnya Abdurrahman ad-Dakhil membangun tempat tinggal di kota itu serta mengangkat dirinya sebagai Amir. Abdurrahman ad-Dakhil memasuki Spanyol pada tahun 755 M. dan diberi gelar Al-dakhil (yang masuk ke Spanyol).

Pada masa ini banyak tantangan yang dihadapi Abdurrahman ad-Dakhil, baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Disamping itu Abdurrahman ad-Dakhil menghadapi musuh dari luar Islam, yakni Charli Magne, yang pasukannya dapat melintasi pegunungan Pyrenia. Lawan yang datang dari daratan Eropa itu dihadapi dengan gagah

perkasa. Roland, pemimpin pasukan Charle Magne itu mati terbunuh, dengan kemenangan itu Abdurrahman ad-Dakhil bertambah kuat kedudukannya, dan untuk selanjutnya Abdurrahman ad-Dakhil membangun negerinya.

Diantara pembangunan yang dilakukan Abdurrahman ad-Dakhil ialah memperindah kota-kota, membangun benteng-benteng yang kokoh dan membangun istana dan Abdurrahman ad-Dakhil meletakkan batu yang pertama untuk pembangunan Masjid yang terbesar nantinya dibelahan Dunia Islam manapun, yang dilakukan dua tahun sebelum wafatnya, tahun 789 M. Sebelum wafat Abdurrahman ad-Dakhil telah menunjuk anaknya untuk menggantikan kedudukannya yakni Hisyam ibnu Abdurrahman (Hamid, 1964:71-
72) .

b. Hisyam ibnu Abdurrahman (788-796 M)

Hisyam ibnu Abdurrahman memerintah pada tahun 788-796 M. Hisyam ibnu Abdurrahman terkenal pintar. Dalam hal agama, dia seorang yang taqwa dan warak. Hisyam ibnu Abdurrahman memperhatikan masalah-masalah agama Islam, sesuai dengan agama Allah SWT dan ajaran Rasulullah SAW.

Pada masa pemerintahan Hisyam ibnu Abdurrahman tersebar Madzhab Maliki di Spanyol yang berasal dari Imam Malik ibn Anas yang berpusat di Madinah. Madzhab Maliki tersebar luas di Spanyol atas jasa seorang ulama yang diutus belajar ke Madinah untuk mempelajari Madzhab Maliki secara langsung dari Imam Malik. Ulama tersebut bernama Ziyad ibn Abdurrahman, kemudian dari padanya tersebar luas madzhab itu di Spanyol lewat Yahya ibn Yahya al-Laisi.

Pada zaman keamiran Hisyam I, dia menghadapi pemberontakan yang dilancarkan oleh saudaranya sendiri di Toledo yakni Abdullah dan Sulaiman. Hisyam mengarahkan perhatiannya ke wilayah Utara. Umat KRISTEN yang melancarkan gangguan keamanan ditindasnya sekaligus berhasil mengalahkan kekuatan Perancis. Kota Norebonne ditaklukkannya, sementara suku Gakicia mengajukan perundingan perdamaian.

Hisyam merupakan penguasa yang adil dan murah hati khususnya terhadap rakyat yang lemah dan miskin. Ia membangun jembatan Kordova dan merampungkan pembangunan mesjid dan gereja yang dibangun oleh ayahnya. Dalam bidang hukum, Hisyam menganut Madzhab Maliki dan menjadikannya madzhab resmi di Andalusia.

Ulama Spanyol menduduki tempat yang tinggi di Istana Kerajaan, dan selalu memberi nasehat serta memberi pendapatnya kepada sang penguasa itu. Hisyam ibnu Abdurrahman memerintah 8 tahun. Dia wafat pada tahun 796 M. Kendali pemerintahan diteruskan oleh anaknya Hakam ibn Hisyam.

c. Hakam ibn Hisyam (796-822 M)

Hakam ibn Hisyam memerintah pada tahun 796-821 M. Sifat-sifat yang dimiliki Hakam ibn Hisyam berbeda dengan sifat yang dimiliki oleh ayahnya. Dia suka berhura- hura, gemar berburu dan suka berolahraga. Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa, akan tetapi tidak begitu senang dikelilingi ulama, berbeda dengan ayahnya yang senang memuliakan ulama. Sehingga dia kurang disenangi ulama, maka para ulama akan menggantikan Hakam ibn Hisyam dari kedudukannya. Rencana itu diketahui Hakam ibn Hisyam, maka Hakam ibn Hisyam menghadapi para ulama itu dengan sikap keras. Banyak ulama terbunuh dan keluarga mereka diusir dari Spanyol .

Dalam hal perbaikan negeri, Hakam ibn Hisyam termasuk orang yang berjasa dan pertama kali membuat tentara yang teratur dan mendapat gaji tetap, mengumpulkan banyak senjata, dan memperhatikan kuda-kuda tempur dalam kondisi yang prima. Dengan

pasukan yang kuat itulah ia menghadapi pemberontakan dalam negeri dan musuh dari luar negeri. Hakam ibn Hisyam meninggal pada tahun 206 H. Dan pemerintahan diganti oleh anaknya, Abdurrahman yang lebih dikenal dengan al-Ausat (Mahmuddunnasir,
1994:290).

Pada masa Hakam banyak pemberontakan yang dihadapinya antara lain yang dilancarkan Abdullah yang meminta bantuan Charlemagne. dia berhasil menguasai Toledo. Sedang saudaranya Sulaiman menguasai Valencia. Pada saat ini Louis dan Charles berhasil menyusup ke wilayah Muslim, sedang Alvonso panglima suku Galicia menyerbu kota Araqon. Hakam membuktikan kemampuannya, bangsa Franka dan Galicia dikalahkannya, kemudian menuju ke Tolede menghentikan pemberontakan Sulaiman dan Abdullah. Namun tatkala Hisyam lengah, datang serangan bangsa Franka yang berhasil merebut Barcelona pada tahun 805 M dan pada tahun 914 M Kordova diguncang oleh gerakan pemberontakan namun dapat diamankan setelah Hakam mengalahkan kekuatan pemberontak. Hakam meninggal pada tahun 822 M, setelah berkuasa 26 tahun.

d. Abdur Rahman Al-Ausat (822-852 M)

Abdurrahman al-Ausat memerintah pada tahun 822-852 M. Abdurrahman al-Ausat tidak terlalu lemah dan tidak terlalu keras walaupun dididik dalam kemewahan. Abdurrahman al-Ausat beradab dan suka perbaikan (Hamid, 1964:82). Ia memiliki visi untuk selanjutnya menyentralkan pemerintahan, mengantarkan pada terbentuknya sebuah kelas sekretarial yang terdiri dari kalangan pedagang dan klien, dan membentuk monopoli dan penguasaan negara terhadap pasar-pasar perkotaan.

Peristiwa penting yang terjadi pada saat itu adalah serangan dari bangsa Normand pada tahun 824 M. Akan tetapi pasukan Normand itu dapat dikalahkan oleh tentara kaum Muslimin. Kejadian-kejadian dalam negeri yang paling penting antara lain pertentangan- pertentangan antara sesama bangsa Arab sendiri, sebagaimana pertentangan antara kaum Mudar dengan suku Arab dari Yaman di Murcea. Disamping itu terjadi pula pemberontankan-pemberontakan kecil yang semuanya dapat dihadapi oleh Abdurrahman al-Ausat dengan kemenangan (Hamid, 1964:98-100).

Abdul Rahman Ausat ini telah menyempurnakan proses konsolidasi pemerintahan pusat. Ia membentuk angkatan bersenjata dari para tawanan yang berasal dari wilayah Utara Spanyol dari Jerman, dan dari negeri-negeri Slavia. Pasukan militer, yang dikenal dengan nama Sagaliba, belakangan diperkuat dengan tentara Barbar profesional non- kesukuan dan tentara bayaran lokal. Aspek administrasi (pemerintahan) juga diperkokoh.

Seorang hajib (setinggi wazir dalam kedudukan) ditunjuk menangani administrasi dan perpajakan. Dua puluh satu wilayah propinsi diperintah oleh pejabat-pejabat pusat, namun sejumlah distrik perbatasan diperintah oleh ga’id lokal dan keturunan tuan-tuan tanah.

Seorang hakim kepala mengawasi administrasi Yudisial dan mengelola sejumlah properti yang ditujukan untuk tujuan-tujuan keagamaan dan derma bakti sosial. Abdul Rahman Ausat mengupayakan, melegitimasi dan mengadopsi bentuk-bentuk kultural Abbasiyah Baghdadi, sebagaimana di wilayah Timur, kultur istana berusaha menyatukan simbol-simbol Muslim dan kosmopolitan. Abdul Rahman Ausat juga mengadakan pembangunan dan perluasan di berbagai daerah. Perluasan Masjid Agung Cordova, merancang sejumlah proyek irigasi, dan lain-lainnya.

Arsitektur kekhalifahan yang meliputi arsitektur masjid, istana dan tempat pemandian umum juga diilhami model arsitektur bangsa Timur. Beberapa unsur Visigothik dan Romawi juga dimasukkan ke dalam desain arsitektur Muslim. Pada abad sepuluh amir-al mu’minin juga membangun sebuah kota kerajaan yakni Madinat al Zahroh, sebuah

kota yang dihiasi dengan berbagai istana, pancuran air, pertamanan yang megah yang menandingi keindahan komplek istana Baghdad. Abdur Rahman Ausat ini pada hakekatnya mewarisi kejayaan dan kemakmuran yang diciptakan oleh Hakam.

Kerusuhan pada saat itu ditimbulkan oleh umat KRISTEN yang dipimpin suku Leon. Juga serbuan bangsa Normandia di wilayah pantai Spanyol. Kedua kekuatan ini dapat dikalahkan. Pada masa pemerintahan Abdur Rahman II selama 30 tahun, perekonomian rakyat mengalami kemajuan dan kemakmuran. Ia sangat mencintai seni kepustakaan dan berusaha membangun Kordova sebagai Baghdad II. Ia mendirikan sejumlah istana, taman, dan menghiasi ibu kota dengan berbagai bangunan masjid yang indah.

Sesudah wafatnya Abdurrahman al-Ausat pada tahun 952 M. dan kekuasaannya diganti oleh anaknya Muhammad ibn Abdurrahman. Spanyol dalam keadaan kacau-balau dan banyak pemberontakan, yang terjadi dari masa Abdurrahman III atau An-Nasir hingga masa Abdullah ibn Muhammad, sekitar tahun 852-912 M. Dalam masa itu memerintah tiga orang Amir.

e. Muhammad ibn Abdurrahman al-Ausat (852-886 M)

Muhammad menggantikan kedudukan ayahnya, Abdur Rahman II al Ausat. Gangguan politik yang paling serius terjadi pada masa ini, yang datang dari ummat Islam sendiri. Pemberontak di Toledo dengan bantuan pimpinan suku Leon bangkit menentang Muhammad. Pasukan Muhammad menumpas kekuatan pemberontak di Guadelet. Di Kordova timbul gerakan perusuh, Muhammad segera menempuh langkah pengamanan dengan menumpas semua pemberontak.

Kekacauan di pusat pemerintahan dimanfaatkan oleh Perancis dengan menciptakan gangguan di wilayah Utara, dan Normandia melancarkan serbuan di wilayah pantai Spanyol. Kedua kekuatan ini dapat dikalahkan oleh pasukan Muhammad I. Pada akhir masa pemerintahan muncul pemberontakan. Seorang Muslim Spanyol bernama Musa mengklaim sebagai penguasa atas kota Aragon. Pemberontak di wilayah Barat dipimpin oleh Ibnu Marwan. Pemberontakan terbesar terjadi antara kota Ronda dan Malaga yang dipimpin oleh Umar Ibnu Hafsun. Ia berusaha mendirikan negeri merdeka yang didukung oleh tokoh KRISTEN dan penguasa Franka. Muhammad mengirim pasukan dipimpin Munzir. Munzir bergerak ke Utara menundukkan kota Saragosa kemudian menghancurkan kekuatan Ibnu Marwan. Di tengah pertempuran melawan kekuatan Ibnu Hafsun terdengar kematian Muhammad I. Maka Munzir mengakhiri pertempuran dan kembali ke ibu kota. Muhammad merupakan penguasa adil dan bijaksana. Dia berhasil mencapai reputasi yang gemilang selama 34 tahun masa pemerintahannya. Dia tokoh pendidikan dan cinta ilmu pengetahuan.

f. Munzir ibn Muhammad (886-888 M)

Munzir merupakan penguasa yang enerjik dan pemberani. Seandainya ia berusia panjang, niscaya ia mampu menegakkan perdamaian dan ketertiban negara. Munzir memimpin sendiri pasukan untuk menghadapi kekuatan Umar Ibn Hafsun. Ia keburu meninggal sebelum berhasil mengamankan negara dari gangguan para pemberontak.

g. Abdullah ibn Muhammad (888-912 M)

Abdullah merupakan saudara Munzir. Menurut Ibn al-Athir, pada masa ini timbul gerakan pemberontak dan kerusuhan di segenap wilayah Spanyol. Kondisi ini berlangsung sejak masa pemerintahan Abdullah hingga pemerintahan Abdullah berakhir. Dia tidak hanya mendapat perlawanan dari Spanyol pedalaman tetapi aristokrasi Arab menentangnya juga. Pertengkaran terjadi antar kalangan Arab, Saville, Elhire. Umar Ibn

Hafsun memanfaatkan kondisi pertengkaran ini dengan memperluas wilayah kekuasaannya. Pemberontakan Umar Ibn Hafsun berhasil dikalahkan oleh Abdullah, sehingga pemberontakan kecil segera tunduk kepadanya. Tahta kerajaan berhasil ditegakkannya.

Kekacauan-kekacauan itu timbul dari orang-orang Arab seperti Bani Hajjaj di Asybilia yang ingin merdeka dari ikatan Bani Umayah di Spanyol dan orang barbar, Ibnu tarkid di Merida, serta Indo-Arab (Arab keturunan) di sebelah Barat daya, khususnya ibn Hafsun. Dan masih banyak lagi musuh-musuh besar lainnya. Kekacaubalauan tersebut mencapai puncaknya pada masa Abdullah ibn Muhammad.

3. Periode Ketiga (912-1013 M)

Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Abdurahman III mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku.

Awal kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia 11 tahun. Oleh karena itu kekuasaan actual berada di tangan para pejabat. Tahun 1013 M, dewan menteri yang memimpin Cordova menghapuskan jabatan Khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah ke negara-negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu (Watt, 1990:217-218).

Periode ini berlangsung dari pemerintahan abd al-Rahman III yang bergelar “an-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang di kenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol di perintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, Penggunaan gelar Khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurahman III bahwa Muktadir, Khalifah Bani Abbas di Baghdad meninggal.

Gelar Khalifah di pakai oleh Bani Umayyah di Spanyol mulai tahun 929 M. Khalifah- Khalifah besar yang memerintah pada saat itu ada tiga orang yaitu:

a. Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M)

Abd al-Rahman al-Nasir (Abd al-Rahman III) menggantikan kedudukan ayahnya pada usia 21 tahun. Penobatannya dapat diterima di kalangan. Pada tahun 913 M Abdur Rahman mengumpulkan pasukan militer yang sangat besar. Pihak perusuh gentar dengan kekuatan militer Abdur Rahman III. Dengan demikian, dia dapat menaklukkan kota besar di utara Spanyol kemudian Saville dengan mudah. Suku Barbar dan umat KRISTEN yang selama ini menjadi perintang kini tunduk kepada Abdur Rahman III. Hanya masyarakat Toledo berusaha melawan, namun dapat dikalahkan.

Dua tahun dari masa penobatan Abdur Rahman III, Ordano II, kepala suku Leon, datang menyerbu wilayah Islam. Pada saat itu Abdur Rahman terlibat perselisihan dengan Khalifah Fatimiyah. Ahmad Ibn Abu Abda ditunjuk memimpin pasukan untuk menghadapi pasukan Ordano II, kemudian bersekutu dengan Sancho, kepala suku Navarre. Suku Leon dan Suku Navarre dihancurkan oleh Abdur Rahman sendiri, bersamaan dengan terbunuhnya Ordano II dan Sanche. Abdur Rahman merupakan orang pertama yang mengklaim kedudukannya sebagai Khalifah dengan gelar al-Nasir Lidinillah setelah ia berhasil dengan menumpas pemberontakan KRISTEN suku Leon dan Navarre.


b. Hakam II (961-976 M)

Hakam II menggantikan kedudukan ayahnya, Abdur Rahman. Pada masa ini pemimpin suku Navarre yang pada masa Abd al-Rahman mengakui pemerintahan Islam, berusaha melepaskan diri dengan anggapan bahwa Hakam terkenal sebagai suku

perdamaian dan terpelajar. Dia tidak akan menuntut ketentuan dalam perjanjian sebelumnya dan seandainya dia memilih jalan perang niscaya ketentuan Hakam tidak sekuat kecakapan militer ayahnya. Akan tetapi Hakam membuktikan bahwa dia tidak hanya terpelajar melainkan juga pemimpin militer yang cakap. Sancho pimpinan KRISTEN suku Leon dan pimpinan KRISTEN ditundukkan. Ia juga mengerahkan pasukannya di pimpin Ghalib ke Afrika untuk menekan kekuatan Fatimiyah. Ghalib sukses menegakkan kekuasaan Umayyah Spanyol di Afrika Barat.

Setelah berhasil mengamankan situasi politik, Hakam menunjukkan dirinya dalam gerakan pendidikan. Dalam gerakan ini berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 400.000 buku dalam perpustakaan negara di Kordova. Para ilmuwan, filosof, ulama dapat bebas memasukinya. Untuk meningkatkan kecerdasan rakyat, dia mendirikan sekolah-sekolah. Hasilnya seluruh rakyat Spanyol mengenal baca tulis. Sementara umat KRISTEN Eropa kecuali pendeta tetap dalam kebodohan. Dengan meninggalnya hakam pada tahun 976 M masa kejayaan Dinasti Umayyah di Spanyol berakhir.

c. Hisyam II (976-1009 M)

Hakam mewariskan kedudukannya kepada Hisyam II, anaknya yang berusia 11 tahun. Oleh karena itu, kekuasaan actual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981
M, Khalifah menunjuk Muhammad Ibn Abi ‘Amir seorang yang sangat ambisius. Setelah
berhasil menyingkirkan rekan-rekan dan saingannya, dia menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam. Atas keberhasilannya, dia mendapat gelar al- Manshur Billah. Ia merekrut militer dari suku Barbar menggantikan militer Arab. Kekuatan militer Barbar berhasil menundukkan kekuatan KRISTEN di wilayah Spanyol dan berhasil memperluas Bani Umayyah di Barat laut Afrika. Akhirnya ia memegang seluruh kekuasaan negara.

Al-Manshur Billah meninggal tahun 1002 M di Madinaceli. Ia merupakan negarawan dan jendral Arab yang terbesar di Spanyol. Menurut ahli sejarah, Dozy, pada masa ini rakyat lebih makmur dari masa sebelumnya Dia digantikan oleh anaknya bernama al- Muzaffar yang berhasil mempertahankan kondisi ini, selama 6 tahun. Muzaffar mewariskan jabatannya kepada saudaranya bernama Abdur Rahman yang julukannya Sanchol, yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Sepeninggal Muzaffar, Spanyol dilanda kerusuhan dan akhirnya mengalami kehancuran total. Pada tahun 1009 M Khalifah mengundurkan diri. Bebarapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan . Akhirnya pada trahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapus jabatan Khalifah (Watt, 1990:217-218).

4. Periode keempat (1013-1086 M)

Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau al-Mulukuth at-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Serville, Cordova, Toledo dan lain-lainnya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Meskipun demikian kehidupan intelektual terus berkembang.

Pada periode ini ummat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, ketika terjadi perang saudara, diantara pihak yang bertikai meminta bantuan kepada raja-raja KRISTEN. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang KRISTEN pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun demikian, pada masa itu kehidupan intelektual terus berkembang. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain (Spuler, 1972:108).

Lebih kurang setengah abad, antara keruntuhan kehalifahan Umayyah dan tampilnya
Al-Murawiyyah, merupakan masa fragmentasi politis. Dinasti-Dinasti ini terdiri dari

berbagai ras, yang mencerminkan kemajemukan kelas-kelas militer di bawah Umayyah dan ketegangan etnis serta persaingan dikalangan kelompok. Pada abad ke-11, sebagaian Arab seperti Abadiyah di Seville dan Hudiyah di Saragossa, dan sebagian lainnya di Barbar seperti Miknasa Aftashiyah di Badajoz, Zennun di Teledo dan Hammudiyah di Malaga, dan silsilah keturunan mereka melalui Idrisiyah di Maroko sampai ke Khalifah Ali, juga sebagian Dinasti Taifa dari sejumlah besar pasukan yang datang dari Afrika pada ahir abad kesepuluh di bawah Al-Manshur, seperti Shanhaja, Barbar, Ziriyyah dari Elvira (sekelompok klien Amiriyyah dan keturunan Al-Manshur) memperoleh kemajuan di Valencia.

Sebagian besar Dinasti Taifa menjalankan kebijaksanaan agresif dengan mengorbankan tetangga mereka. Dinasti Abbadiyah merentangkan sayapnya hampir ke Toledo. Untuk mewujudkan rencana mereka, pada satu tahap Abbadiyah menghidupkan kembali seorang yang mengaku sebagai Khalifah terakhir Bani Umayyah, Hisyam III.

Menjelang akhir abad ke-11, mulailah terjadi reaksi terhadap kaum Muslim di Spanyol. Kelas-kelas religius memberikan reaksi terhadap hedonisme dan ketidak bertanggung jawaban banyak penguasa lokal, dan siap menerima pemerintahan Al- Murawiyyah Barbar yang puritan yang kebetulan, pada tahun 1085 M orang KRISTEN berhasil merebut Toledo. Dan ini memaksa raja penyair Abadiyya Al-Mu’tamid untuk berpaling kepada Murawiyyah.

Adapun Dinasti-Dinasti yang paling penting diantara Muluk Ath-Tawa’if adalah sebagai berikut :

a. Hamudiyyah di Malaga dan Algeciras (110-1057 M)

b. Abbabiyah di Seville (1023-1091 M)

c. Zirriyah di Granada (1012-1090 M)

d. Banu Yahya di Niebla (1023-1051 M)

e. Banu Muzayn di Silves, Algarve (1028-1053 M)

f. Banu Rezin di Al Barraan, al Sahla (1011-1107 M)

g. Banu Qosim di Alpuence (1029-1092 M)

h. Jahwariyyah di Cordova (1031-1069 M)

i. Afthasiyyah atau Banu Maslama di Badajoz (1022-1094 M)

j. Dzun Nuniyah di Toledo (sebelum 1028-1085)

k. Ameriyyah di Valencia (1021-1096 M)

l. Banu Shumadihiyah di Almeria (1039-1087 M)

m. Al-Murawiyyah di Spanyol Muslim (1090 M) (Bosrworth, 1993:112).



5. Periode Kelima (1086-1248 M)

Pada periode ini Spanyol Islam meskipun terpecah dalam beberapa negara tetapi ada kekuatan dominan yaitu kekuasaan Dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan Dinasti Muwahhidun (1146-1235 M).

a. Murabithun atau Al Murawiyah di Afrika Utara dan Spanyol (1056-1147 M)

Murabithun atau Al–Murawiyah merupakan salah satu Dinasti Islam yang berkuasa

di Maghrib. Nama Al-Murabithun berkaitan dengan nama tempat tinggal mereka yang pada awalnya mereka menempati Ribat (sejenis surau). Asal-usul dinasi ini dari Lemtuna, salah satu dari suku Sanhaja, Mereka juga disebut al-Mulassimun (orang-orang bercadar).

Pada abad kesebelas pemimpin Sanhaja, Yahya bin Ibrahim, melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Dan sekembalinya dari Arabia, ia mengundang Abdullah bin Yasin seorang alim terkenal di Maroko, untuk membina kaumnya dengan keagamaan yang baik, kemudian beliau dibantu oleh Yahya bin Umar dan saudaranya Abu Bakar bin Umar. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat , sehingga dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut.

Di bawah pimpinan Abdullah bin Yasin dan komando militer Yahya bin Umar mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dara, dan kerajaan Sijil Mast yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin. Ketika Yahya bin Umar meninggal Dunia, jabatannya diganti oleh saudaranya, Abu Bakar bin Umar, kemudian ia menaklukkan daerah Sahara Maroko. Setelah diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan selanjutnya menyerang suku Barghawata yang menganut paham bid’ah. Dalam penyerangan ini Abdullah bin Yasin wafat (1059 M). Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan secara penuh dan ia berhasil mengembangkannya.

Abu Bakar berhasil menaklukkan daerah Utara Atlas Tinggi dan akhirnya pada tahun
1070 M, ia dapat menaklukkan daerah Marrakech (Maroko). Kemudian ia mendapat berita bahwa Buluguan, Raja Kala dari Bani Hammad mengadakan penyerangan ke Maghrib dengan melibatkan kaum Sanhaja. Mendengar berita itu ia kembali ke Sanhaja untuk menegakkan perdamaian. Setelah berhasil memadamkan, ia menyerahkan kekuasaanya kepada Yusuf bin Tasyfin (2 September 1107), kemudian ia mengatakan bahwa Maroko di bawah kekuasaannya.

Pada tahun 1062 M, Yusuf bin tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Dia berhasil menaklukkan Fez (1070 M) dan Tangier (1078 M). Pada tahun 1080-1082 M, ia berhasil meluaskan wilayah sampai ke Al Jazair. Dia mengangkat para pejabat Al-Murabithun untuk menduduki jabatan Gubernur pada wilayah taklukannya, sementara ia memerintah di Maroko. Yusuf bin Tasfin meninggalkan Afrika pada tahun 1086 M dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon) dan Yusuf bin Tasfin mendapat dukungan dari Muluk At-Thawa’if dalam pertempuran di Zallaqah. Ketika Yusuf bin Tasfin meninggal Dunia, ia mewariskan kepada anaknya, Abu Yusuf bin Tasyfin. Warisan itu berupa kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri-negeri Maghrib, bagian Afrika dan Spanyol.

Ali ibn Yusuf melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI (1108 M). Kemudian ia ke Andalusia merampas Talavera Dela Rein. Lambat laun Dinasti Al-Murabithun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Kemudian Ali mengalami kekalahan pertempuran di Cuhera (1129 M). kemudain ia mengangkat anaknya Tasyfin bin Ali menjadi Gubernur Granada dan Almeria. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menguatkan moral kaum Murabithun untuk mempertahankan serangan dari raja Alfonso VII. Dinasti Al-Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu :

1. Abu Bakar bin Umar (1056-1061 M)

2. Yusuf bin Tasyfin (1061-1107 M)

3. Ali bin Yusuf (1107-1143 M)

4. Tasyfin bin Ali (1143-1145 M)

5. Ibrahim bin Tasfin

6. Ishak bin Ali.

Masa terahir Dinasti Al-Murabithun tatkala dikalahkan oleh Dinasti Muwahiddun yang dipimpin oleh Abdul Mun’im. Dinasti Muwahiddun menaklukkan Maroko pada tahun
1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir,
Ishak bin Ali.

Ketika kekuasaan Bani Umayah Spanyol pecah, ada suatu kekuatan yang baru muncul di Afrika Barat. Para ketua Muslim di Spanyol melupakan perbedaan mereka. Pada saat yang kritis itu dan meminta bantuan kepada Yusuf ibn Tasyfin, Raja al-Murabithun di Afrika Barat. Yusuf menanggapi permintaan mereka dan menyebrang ke Spanyol pada tahun 1086 M. Pasukan Gabungan itu bertemu dengan pasukan Alfanso di Zalaqah. Dalam pertempuran itu Alfanso dikalahkan. Kemenangan ini membuat Yusuf menjadi Raja. Akan tetapi tidak lama memerintah beliau wafat, dan di ganti oleh anaknya Abul Hasan. Abul Hasan mempunyai kekuatan yang luar biasa, Dia mengalahkan orang KRISTEN dalam beberapa pertempuran selama pemerintahannya. Kekuatan lainnya bernama al-Muahhidun di Afrika


a. Muwahhidun atau Al–Muhad di Afrika Utara dan Spanyol (1128-1269 M)

Muwahhiddun merupakan Dinasti Islam yang pernah berjaya di Afrika Utara selama lebih satu abad. Didirikan oleh Muhammad bin Tummart. Ibn Tumart menamakan gerakannya dengan Muwahhiddun, karena gerakan ini bertujuan untuk menegakkan tauhid (Keesaan Allah), menolak segala bentuk pemahaman anthropormofisme (Tajsim) yang dianut oleh Murabithun. Karena itu semangat perjuangan Ibn Tumart adalah menghancurkan kekuatan Murabhitun.

Pada tahun 1129 M, di bawah komando Abu Muhammad Al Basyir, kaum Muwahiddun menyerang ibu kota Murabithun. Peristiwa itu terkenal dengan nama perang Buhairah. Dalam perang itu Muwahhidun kalah dan mengakibatkan meninggalnya Ibn Tumart. Pada tahun 1163 M, Abdul Mun’im bin ‘Ali diangkat sebagai pemimpin menggantikan Ibn Tumart. Di bawah kepemimpinannya Al-Muwahiddun meraih kemenangan. Pada tahun 1131 M Muwahiddun menguasai Nadla , Dir’ah Taigar, Fazar dan Giyasah. Pada tahun 1139 M, Muwahiddun melancarkan serangan ke pertahanan Murabithun sehingga jatuh ketangan kaum Muwahiddun. Fez kota terbesar kedua setelah Marrakech, direbut al-Muwahhidun pada tahun 1145 M. Setahun kemudian berhasil menguasai Marrakech dan menjatuhkan Murabithun.

Setelah berhasil menjatuhkan Murabithun Abdul Mun’im memperluas wilayah kekuasaannya, pada tahun 1152 M Al-Jazair direbutnya. 6 tahun berikutnya wilayah Tunisia dikuasai dan 2 tahun setelah itu Tripoli jatuh ketangannya. Kekuasaannya dari Tripoli hingga ke Samudera Atlantik sebelah Barat, suatu prestasi gemilang dan belum pernah dicapai oleh Dinasti manapun di Afrika Utara. Pada tahun 1162 M, Abdul Mun’im memperluas wilayahnya ke daerah yang dikuasai orang Kristen, tetapi pada tahun itu Abdul Mun’im wafat. Ia diganti puteranya Abu Ya’kup Yusuf Abdul Mun’im (1184 M). Ia memperluas wilayah di utara dari timur pada tahun 1169 M dibawah Abu Hafs al Muwahhidun, dia berhasil merebut Toledo.

Dalam beberapa generasi ini Muwahhidun mengalami masa kemajuan. Akan tetapi setelah kematian Ya’kub Muwahhidun memasuki masa kemunduran. Bersamaan dengan kemunduran ini, pasukan Salib yang telah dikalahkan oleh Salahuddin di Palestina kembali ke Eropa dan mulai menggalang kekuatan baru dibawah pimpinan Alfonso IX. Kekuatan KRISTEN ini mengulangi serangan ke Andalusia dan kali ini mereka berhasil mengalahkan kekuatan Muslim Muwahhidun. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan

dan akhirnya penguasa muwahhidun meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (Maroko) pada tahun 1235 M. Adapun urutan-urutan penguasa Al Muwahhidun sebagai berikut :

1. Muhammad bin Tumart Al Mahdi (1121-1130 M)

2. Abdul Mun’im bin Ali (1130-1163 M)

3. Abu Ya’kub Yusuf (1163-1184 M)

4. Abu Yusuf Ya’kub al Mansur (1184-1198 M)

5. Muhammad An Nasir (1198-1214 M)

6. Abu Yusuf Ya’kub Al Mustansir (1214-1224 M)

7. Dsb.

Muhammad ibnu Tumart, seorang penduduk asli dari suku di Afrika Barat, mengangkat Abdul Mikmin sebagai wakilnya, setelah Abdul Mukmin wafat di ganti oleh saudaranya Abu Yakub Yusuf. Dia seorang yang dermawan. Beliau digantikan oleh anaknya yang terkenal yaitu Ya’kub yang di bawah pemerintahannya, kekuasaan Muwahhidun mencapai puncaknya. Setelah beliau wafat kekuatan Kristen mulai muncul. Orang Islam di bawah pemerintahan Muwahhidun melawan orang Kristen di al-Ukab, akhirnya orang Muahhidun dikalahkan orang Kristen dengan pasukan yang besar (Ali, Afandi,1995:353-301).



b. Kerajaan Islam Rustamiyah (Reconguista) di Algeria (Aljazair Barat) (777-909M)

Rustamiyah adalah sebuah Dinasti yang berkuasa di Al Jazair, Afrika utara, selama
136 tahun. Sejak Dunia Islam dikuasai oleh Dinasti Bani Abbas (750 M), Dinasti
Rustamiyyah merupakan Dinasti kedua yang berdiri di luar kontrol Dinasti Bani Abbas, yang pertama adalah Dinasti Umayyah, yang berhasil bangkit kembali di Andalusia (Spanyol) pada tahun 756 M.

Pendiri Dinasti Rustamiyah ini adalah Kadi Abdurrahman, putra Rustam (seorang persia). Semula keluarga Rustamiyah berkuasa di Qoiruan (758-762 M) tapi karena mendapat serangan kuat dari pihak lawan, terpaksa lari kebarat yakni Al Jazair. Di daerah baru itulah keluarga Rustamiyah membangun kota Tahert (762 M). Ketika Kadi Abdurrahman membangun kota Tahert pada 777 M, tempat tersebut langsung dijadikan ibu kota.

Daerah yang dikuasai Dinasti Rustamiyah ini lebih kurang seluas Al Jazair bahkan bagian tenggara mencakup wilayah Barat Libia. Tetangganya di sebelah Barat adalah Dinasti Idrisiyah di Maroko, di timur adalah Dinasti Aglabiyah di Tunisia dan di selatan dikuasai Dinasti Midrariyah.

Dinasti Rustamiyah membangun hubungan baik dengan Dinasti Midrariyah antara lain dengan ikatan perkawanan, demikian juga menjalin hubungan baik dengan Dinasti Umayyah yang berkuasa di Andalusia. Pada tahun 882 M pihak Rustamiyah berkunjung ke istana Dinasti Umayyah dan disambut gembira oleh Amir Abdurrahman II. Pada tahun 853
M Dinasti Rustamiyah mendapat hadiah persahabatan dari amir Muhammad I. Persahabatan dengan Dinasti Midrariyah dan Umayyah cukup menguntungkan Dinasti Rustamiyah baik dari sudut politik dan ekonomi.

Imam kedua (Abdul Wahhab) pernah menghimpun kabilah-kabilah Barbar di luar kota Tripoli yang berada di tangan Aglabiyah dan menyerang pasukan Aglabiyah di kota itu, dan peperangan berahir dengan perdamain. Peperangan dengan Idrisiyah pernah terjadi

pada masa pemerintahan Imam Afiah (Imam ketiga). Peperangan antara Rustamiyah melawan kabilah Barbar yang menjadi pendukung Dinasti Idrisiyah dan dimenangkan oleh Dinasti Rutamiyah, sehingga mereka memperoleh harta rampasan yang banyak.

Dinasti Rustamiyah tidak lagi berdaya melawan pasukan Fatimiyah, Dinasti yang baru tumbuh di Afrika Utara, namun bangkitnya Fatimiyah di Maroko berakibat fatal bagi Rustamiyah. Oleh karena itu, berahirlah riwayat Bani Rustamiyah pada 909 M. Banyak diantara penduduk Rustamiyah dibunuh dan sisanya melarikan diri keselatan yaitu ke Wargla (Van Hoeve, 1994:72). Adapun urutan-urutan pemimpin Dinasti Rustamiyah sebagai berikut :

1. Abdurrahman (777-784 M)

2. Abdul Wahhab (784-822 M)

3. Aflah (822-871 M)

4. Abu Bakar ( 871- M)

5. Muhammad (?- 894 M)

6. Yusuf (894-907 M)

7. Ya’qub (907- 909 M)

Paus Gregori VII mengadakan gerakan Rekonguista sebagai kewajiban agama KRISTEN dan sebagai sebuah ambisi teritorial raja-raja Spanyol Kerajaan KRISTEN dengan semangat untuk mempersatukan kerajaan Castile, Leon, dan kerajaan Galicia. Pada tahun 1085 M, Alfanso VI menaklukan Toledo. Hal ini merupakan awal dari pecahnya peperangan antara pihak Muslim yang brilliant yang salah satunya menjadi ibukota kerajaan Visighotik Spanyol telah jatuh ketangan orang KRISTEN.

Kaum migran KRISTEN membanjiri Toledo, tetapi warga Muslim dan Muzarab tetap bertahan tinggal disana. Pada paro abad ke dua abad 12, Gerakan Reconguista telah melembaga, terlepas dari perang Salib kecil yang tengah berlangsung di Palestina, Libanon, dan Sicila. Maka hal ini merupakan pengalaman pertama, dimana umat Islam berada di bawah pemerintahan non Muslim (Lapidus,1999:588).



6. Periode keenam 1248-1492 M)

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di Daerah Granada, di bawah Dinasti Bani Ahmar (1235-1492M). Peradaban kembali mengalami kemajuan, akan tetapi secara politik Dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana memperebutkan kekuasaan. Tahun 1492 M kekuasaan Islam di Spanyol berakhir (Yatim,1997:99-100).

Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang terhadap ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai yang artinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan . dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muahammad Ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabela untuk menjatuhkannya. Dua penguasa KRISTEN ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta (Syalabi, 1983:76).

Tentu saja Ferdenand dan Isabela yang mempersatukan dua kerajaan KRISTEN melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas, keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen dan akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan

Isabela, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini (Nasution, 1985:82).



C. Perkembangaan Peradaban

Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, Umat Islam telah mencapai kejayaannya disana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan Dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.

1. Kemajuan Intelektual

Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan ini mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi, sehingga banyak menghasilkan pemikir.

Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam, Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, KRISTEN Muzareb yang berbudaya Arab dan KRISTEN yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan sahan intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik Spanyol (Badi’, 1969:38).

Adapun kemajuan-kemajuan intelektual yang telah dicapai oleh Islam di Spanyol antara lain:

a. Filsafat

Hal ini terjadi pada tahun 961-976 M, atas inisiatif al-Hakam untuk mengimpor karya- karya ilmiah dan filosofis dari Timur, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di Dunia Islam. Tokoh utama dan pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al sayigh (Ibnu Majah).

b. Sains

Ilmu-ilmu kedokteran, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi (Syalabi,
1983:86). Dalam bidang sejarah dan geografi terdapat Ibn Jubair dari Valencia (1145-
1228 M), Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) dan lain-lain. c. Fikih
Spanyol Islam adalah penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan pertama adalah
Ziyad ibn abd al-Rahman.

d. Musik dan Kesenian

Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi (Zaryab).

e. Bahasa dan Sastra

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam Spanyol dan ini dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non Islam. Diantara orang-orang

yang ahli dalam bahasaArab dan tata bahasa adalah Ibn Sayyidih, Ibn Khuruf dan lain-lainnya.

2. Kemajuan pembangunan fisik

Disamping kemjuan intelektual, Spanyol Islam juga mencapai kemajuan di bidang pembangunan fisik. Pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam sangat banyak. antara lain dalam perdangangan, jalan-jalan dan pasar-pasar, bidang pertanian dan lain-lainya.

Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman dan tanaman-tanaman. Di antara pembangunan yang megah adalah Masjid Cordova, kota al- Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, Istana al-Makmun, Masjid Seville dan Istana al-Hamra di Granada.

Cordova dan Granada di masa Bani Umayah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak pembangunan yang dilaksanakan, seperti Istana dan Masjid-masjid. Kota ini di perluas dengan memperbesar tembok yang mengelilinginya. Dan berdirinya sebuah jembatan dengan gaya arsitektur Islam yang mempunyai 16 lengkungan dalam gaya Romawi,menghubungkan Cordova dengan daerah pinggiran di gerbang sungai. Sedangkan di sebelah Barat jambatan itu berdiri Istana al-Cazar. Perkembangan ini terjadi pada masa pemerintahan Abdurrahman An-Nasir di pertengahan abad ke-10 M. Cordova juga terkenal dengan barang-barang kerajinan dari perak, sulaman-sulaman dari sutra dan kulit, yang mempunyai bentuk khusus. Pada masa ini Cordova menjadi pusat Ilmu Pengetahuan, dan berdirinya Universitas Cordova. Di samping itu, di kota ini terdapat sebuah perpustakaan besar yang mempunyai koleksi buku kira-kira 400.000 judul (Lapidus, 1999:581). Begitu juga dalam bidang pertanian ,dengan pembangunan irigasi yang baik, membawa kemakmuran dan kesejahteraan kepada masyarakat. Sehingga mampu membangun beberapa Daerah (Hoeve,1994:147).

a) Cordova

Cordova adalah ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah, Abdurrahman Ad-Dakhil (822-852 M). Kemudian mencapai puncak keindahannya pada masa Abdurrahman An Nasyir (911-961 M). Kota ini indah dipandang mata. Jembatan besar dibangaun di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman- taman dibangun untuk menghiasi. Pohon-pohon dan bunga-bunga di impor dari Timur. Diantara kebanggaan kota Cordova adalah masjid Cordova. Di kota Cordova terdapat 491 masjid. Disamping itu, ciri khusus kota adalah adanya tempat pemandian. Di Cordova terdapat 900 pemandian.

b) Granada

Granada memiliki tanah yang subur, banyak pegunungan dan sungai-sungai. Pada sebuah bukit kecil yang tingginya 150 meter di atas kota Granada terdapat sebuah istana yang indah yang dibuat oleh raja Bani Akhmar dan diberi nama Al-Hamrah. Al-Hamrah merupakan istana yang permai yang megah dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya.

Sedangkan dalam bidang pertanian, Spanyol sudah mengenal irigasi dan saluran- saluran air. Dengan pembangunan irigasi yang baik mereka dapat membangun kebun- kebun tebu, kapas, padi, jeruk, anggur. Kemajuan dalam bidang ini membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Karena kemajuan ekonomi Spanyol mampu membangun beberapa kota yang megah dan mempunyai banyak bangunan yang

monumental. Abdurrahman III membangun kota Cordova dilengkapi dengan taman, Istana, jalan-jalan, masjid, perpustakaan. Kota termegah adalah Az-Zahrah yang dibangun oleh Abdurrahman III dan kota Granada yang cantik yang memiliki al-Hamrah terkenal di seluruh Dunia (Yatim,1997: 99-100).

3. Faktor-faktor pendukung kemajuan

Kemajuan-kemajuan yang terjadi di Spanyol Islam di pengaruhi oleh beberapa faktor:

a. Adanya penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan ummat Islam, seperti abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman-Wasith dan Abd al- Rahman al-Nasir.

b. Adanya kebijaksanaan penguasa untuk memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah oleh penguasa Dinasti Umayyah di Spanyol seperti Muhammad ibn abd al-Rahman (852-
886 M dan al-Hakam II al-Muntashir (961-976 M).

c. Penguasa menegakkan toleransi beragama terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi dalam mewujudkan peradaban Islam di Spanyol (Fakhri,
1986:356).

d. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai komonitas baik agama maupun bangsa sehingga mereka bekerjasama dan menyumbangkan kelebihannya masing-masing.

e. Adanya kesatuan budaya Islam. Meskipun pada saat itu ada persaingan sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol tapi para ilmuwan bebas melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu mulai dari ujung Barat wilayah Islam ke ujung timur.

f. Perpecahan politik masa Muluk al-Thawa’if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban karena setiap Dinasti (raja) di Malaga, Toledo, Seville, Granada dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova bahkan diantaranya justru lebih maju (Badi’, 1969:10).

D. Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Spanyol Islam

1. Konflik Islam dan Kristen.

Kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen, sehingga kehidupan negara Islam tidak pernah sepi dari pertentangan antara Islam dan Kristen.

2. Tidak adanya ideologi pemersatu

Di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang- orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Mereka masih memberi istilah ‘ibad dan muwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dianggap merendahkan.

3. Kesulitan ekonomi

Pada paruh kedua masa Islam di Spanyol, Para menguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian.

4. Tidak jelasnya sistem peralihan pemerintahan

Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris.

5. Keterpencilan

Spanyol Islam terpencil dari Dunia Islam yang lain. Ia berjuang sendirian tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan di sana (Yatim, 2003:107-108).

0 komentar:

Poskan Komentar

berilah komentar yang saling mendukung saling menghormati sesama

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Posting Terbaruku

Jika Artikel Atau Apa Yang Ada Di Blog Ini Bermanfaat Bagi Anda Jangan Lupa Komentarnya!! Di Bawah Ini Atau Di Buku Tamu Yang Ada Di Samping Kanan, Demi kemajuan Blog Ini

Buku Tamu Facebook

SELAMAT DATANG DI BLOG SHERING ILMU JANGAN LUPA KOMENTAR ANDA DI SINI!!
Widget by: Facebook Develop by:http://wwwsaidahmad.blogspot.com/

Entri Populer